
Alena berdiri di dapur dengan membawa piring dan kobokan air untuk mencuci tangan. Kakinya tak bisa bergerak, seperti di lem di lantai.
"Kenapa kakiku tidak bisa bergerak?" Alena membatin Dia sangat nervous untuk bertemu dengan Brayen.
"Alena kamu kenapa?... Kenapa berdiri saja begitu?... Cepat sana antarkan makanan ini ke suamimu, dia belum makan menunggu kedatanganmu dari tadi." Ibu Naya mendorong punggung Alena. Akhirnya kaki Alena bisa berjalan juga.
"Tek Tek Tek Tek Tek Tek... Ya ampun aku sangat malu ini kenapa piring dan mangkuk berbunyi terus dari tadi? Sumpah tanganku gemetaran nggak bisa dikendalikan." Suara mangkok yang berisi air kobokan beradu dengan piring yang dibawa Alena, karena tangan Alena bergetar gemetaran maka mangkuk dan piring juga ikut bergetar menciptakan bunyi-bunyian.
Alena semakin gemetaran saat melihat Brayen memandanginya di ruang makan.
Alena meletakkan piring itu di hadapan Brayen. Alena mulai beranjak pergi tanpa mau menyapa dan melihat Brayen.
"ALENA." Brayen memanggil Alena. Alena pun menghentikan langkahnya. Panggilan Brayen menyentak hati Alena.
"Kamu tidak mau menyapa suamimu?..." Alena berbalik. Brayen pun menyodorkan tangannya, kemudian mengecup punggung tangan Brayen setelah itu Dia lari terbirit-birit memasuki dapur.
"Begini saja jantungku sudah mau copot apalagi lagi nanti."
"Alena sedang apa kamu disana?" Umi Naya yang sedang mencuci piring bertanya pada Alena karena wajahnya terlihat pucat dan gugup.
"Alena tidak apa-apa Umi" Alena mengambil lauk pauk serta nasi yang ia letakkan di atas nampan dan dibawanya ke ruang makan.
Kemudian Alena menghidangkan makanan itu dihadapan Brayen dengan tangan yang gemetaran. Saat ini Alena benar-benar grogi.
Setelah menghidangkan makanan itu Alena pergi tapi tangannya ditahan oleh Brayen.
"Temani aku makan. Kau juga belum makan kan. Kau harus makan setelah ini kita....!" Brayen tak melanjutkan ucapannya karena Alena tertunduk malu wajahnya bersemu merah.
Keduanya makan dalam diam bersama, mereka berdua sama-sama canggung dan gugup.
***
Brayen menyuruh Alena untuk mempersiapkan diri salat sebelum melakukan hubungan intim.
Setelah melakukan ibadah bersama, Brayen mengajari Alena untuk membaca doa sebelum melakukan hubungan intim.
Saat Brayen hendak mencium bibir Alena, dia malah mendorong dada Brayen.
"Kenapa?..." Brayen bertanya. Dia malu, belum apa apa sudah di tolak.
"Tunggu dulu sebentar..." Ucap Alena kemudian keluar melewati pintu menuju ke kamar mandi luar, sebab kamar Alena tidak ada kamar mandinya.
Setelah masuk kamar mandi dan berganti pakaian. Alena keluar dari kamar mandi dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Alena berjalan di depan kamar Umi Naya. Umi Naya heran melihat penampakan dari Alena yang terbungkus selimut.
"Alena kamu kenapa?... Kenapa tubuhmu di tutupi dengan selimut begitu."
__ADS_1
Alena pun terperanjat, terkejut mendengar suara Umi Naya.
"Alena kedinginan Umi."
"Kamu sakit?"
"Tidak cuma dingin saja, ya sudah Umi Alena mau ke kamar dulu." Ucap Alena yang malu melihat Umi Naya langsung pergi ke kamarnya.
Alena membuka pintu kamarnya dengan malu-malu, hatinya sangat gugup kakinya terasa melayang ke udara karena nervous.
Alena pun memasuki kamarnya menutup pintu dan menguncinya. Brayen melihat Alena yang berdiri di depan pintu. Dengan penuh keyakinan dan kegugupannya Alena membuka selimut yang melekat di tubuhnya.
Melihat tubuh Alena yang hanya memakai lingerie, tubuh Brayen langsung menegang.
Alena langsung menutup wajahnya dengan Kedua telapak tangan saat melihat junior Brayen berdiri tegak memberi hormat pada Alena.
"Ya ampun kaki ku gemetaran, Jantungku mau copot. Oh demi apapun aku tidak siap. Tapi dari pada suamiku jajan sembarangan. Jajanin aku saja lah."
Berkali-kali Brayen menelan salivanya. Jakunnya naik turun mengikuti turunnya air liur.
Alena tetap tak bergeming berdiri di depan pintu dengan menutup wajahnya. Brayen pun menghampiri Alena dan menggendong Alena yang wajahnya masih tertutup malu-malu di atas ranjang.
Dag Dig Dug jantung Alena berdendang tak karuan. Sama dengan Brayen yang tak kalah gugupnya.
"Alena aku ingin menciummu."
"Bagaimana aku bisa menciummu kalau wajahmu di tutup begitu."
Alena pun membuka penutup wajahnya.
Brayen tersenyum puas. Bibir Brayen sudah mengerucut menghampiri wajah Alena, Alena mulai menunduk, semakin wajah Brayen maju, Alena semakin menunduk. Brayen kembali menegakkan kepalanya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gimana bisa di cium kalau kepalamu hampir nyungsep ke bawah. Ku rebahkan saja tubuhnya."
Brayen mendorong bahu Alena, Alena tersentak oleh sentuhan Brayen, tubuh Alena seperti kesetrum aliran listrik. Brayen merobohkan tubuhnya di atas ranjang. Brayen mulai mendekati Alena, semakin lama semakin dekat. Alena menutup mata, Kini Alena sudah bisa merasakan tubuh Brayen yang semakin dekat, bahkan wajahnya pun hampir sampai ke wajah Alena.
Alena membuka matanya sedikit, mengintip Brayen. Rasa nervous Alena kian memuncak saat wajah Brayen semakin dekat.
Refleks Alena menutup wajahnya kembali. Spontan tubuh Brayen kembali duduk menegak.
Brayen kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kapan mau di mulai Alena?"
"Mulai saja Bang."
"Mulai dari mana."
__ADS_1
"Mulai dari mana saja Bang." Brayen langsung menyingkap lingerie yang Alena kenakan.
"Aaaaakkkhhh...." Alena langsung berlari membungkus dirinya di dalam selimut. Sementara Brayen terkejut dengan reaksi Alena.
"Tok tok tok tok.... Alena ada apa Nak... Kenapa kamu berteriak?..." Umi Naya bertanya dari balik pintu.
"Ada kecoak Umi." Jawab Brayen.
"Ouw kirain ada apa? Ya sudah kalau begitu Umi kembali ke kamar."
"Iya Umi." Jawab Brayen.
"Alena kenapa kamu teriak?..."
"Aku malu Bang."
"Lah terus gimana?"
"Kalau tidak jadi gimana Bang?... Abang nggak akan jajan sembarangan kan"Ucap Alena di balik selimut.
"Jawab apa ya?... Kalau Jawab jajan sembarangan nanti dia marah. Kalau Jawab tidak jajan sembarangan nggak dapat jatah. Ah nanggung."
"Ya sudah kalau tidak jadi. Aku jajan di luar saja." Ucap Brayen. Kemudian turun dari ranjang.
"Abang tunggu." Ucap Alena yang keluar dari selimutnya. Brayen yang memunggungi Alena tersenyum.
"Ada apa lagi."
"Matikan lampunya, aku malu kalau lihat Abang."
"Di mana skakelnya." Ucap Brayen sambil melihat Alena yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Itu." Alena menunjuk tombol on off lampu yang terletak di samping pintu.
"Ceklek..." Brayen mematikan lampu. Kamar menjadi gelap.
Brayen berjalan menuju ranjang dia meraba dalam kegelapan dan menyentuh kaki Alena. Alena langsung menegang.
Brayen langsung menindih tubuh Alena, yang Brayen cari pertama adalah tangan Alena sebab tangan adalah penghalang terbesar dalam hubungan ini.
Brayen menekan kedua tangan Alena di kedua sisi kanan kiri, hingga Alena tidak bisa berkutik.
"Oh tamatlah riwayat ku. Aku akan di apakan Ini."
****
SLOW....MASIH NGETIK LANJUTNYA...Doain cepat lolos*.
__ADS_1