AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
AMARAH BRAYEN


__ADS_3

Rio menarik tangan Alena dan menyeretnya ke tempat yang lebih aman, jauh dari pandangan mata orang.


"Lepas Rio...Lepasin." Alena berusaha melepaskan genggaman tangan Rio, namun tangan itu terlalu kuat untuk bisa di buka, Rio terus menyeretnya.


Setelah sampai di parkiran kampus, Rio baru mau membuka genggaman tangannya.


"Maaf..." Ucap Rio dengan hembusan nafas yang dalam dan jantung yang berdebar. Alena hendak melarikan diri tapi Rio mengungkungnya di dinding. Alena tertegun mengkerut dan menahan nafas karena jaraknya dengan Rio terlalu dekat.


"Rio jangan seperti ini, aku risih."


"Berjanjilah dulu kau tidak akan kabur lagi."


Alena tidak menjawab, dia malah menunduk dengan bibir yang bergetar. Rio berdiri di samping Alena.


"Aku takut, aku takut , sumpah aku takut...Ya Tuhan semua ini salahku. Kenapa jadi seperti ini sih, padahal aku udah mau jujur sama teman-teman kalau aku sudah menikah. Tapi kenapa Rio malah nembak aku duluan."


"Alena, dengarkan aku." Lamunan Alena terputus oleh suara Rio. Alena kelimpungan di buat Rio.


"Alena tolong buka hatimu untukku sedikit saja, aku tahu saat ini kau tidak mencintaiku. Aku aku bersumpah akan membuatmu nyaman berada di sisiku, aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku sangat mencintaimu, aku...."


"MAAF AKU TIDAK BISA RIO, AKU SUDAH MENIKAH." Alena berteriak agar bisa menghentikan ucapan Rio. Rio tertegun sejenak saat mendengar ucapan Alena. Hatinya begitu sakit, rasa ini baru pertama kali ia alami. Rio masih tidak percaya.


"Maka dari itu aku tidak pernah melihatmu, karena aku sangat mencintai suamiku." Ucap Alena dengan suara yang lirih, Alena merasa menjadi wanita paling berdosa di dunia ini. Sudah menikah tapi mengaku lajang padahal Rio sudah lama mendekatinya.


"Hahaha ... Kau pasti bercanda." Rio tertawa hambar walaupun hatinya terluka. Perasaan Rio sangat tersiksa.


"Aku serius. Maaf jika selama ini aku menutupinya darimu. Dari awal akulah yang salah." Alena menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berusaha meyakinkan Rio. Dia membuka resleting tasnya dan merogoh ke dalam tasnya mengambil Hp. Alena memperlihatkan fotonya saat mencium pipi Brayen.


"Heh... Itu kan foto kakakmu." Rio tersenyum kecut. Kini Alena menunjukkan foto Saat Brayen mencium bibir Alena.

__ADS_1


"Kakak beradik tidak akan berciuman seperti ini, Rio." Alena menatap Rio dengan rasa bersalah.


Rio diam membisu, hatinya seperti di hujam bongkahan batu besar, dia memberikan tatapan tajam pada Alena. Alena merasa terintimidasi oleh tatapan Rio. Alena kebingungan harus bagaimana.


"Kapan? KAPAN KAU MENIKAH?" Rio berteriak dengan suara lantang seraya mengguncang lengan Alena. Dia seperti orang yang sedang kesurupan.


"Sebelum bertemu denganmu." Ucap Alena sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Kini Alena semakin di hujam rasa bersalah. Alena harus jujur agar Rio tidak berharap banyak padanya, karena mustahil untuk Alena meninggalkan Brayen hanya untuk Rio.


"Kau bohong Alena, kau pasti berbohong. Dia pasti hanya pacarmu." Rio menatap Alena mengawang-awang. Dia tidak percaya Alena akan memberikan kejutan seekstrim ini padanya, Rio tidak pernah menduganya selama ini. Rio menatap Alena dengan rasa tak percaya, kecewa, bercampur marah, hatinya sungguh sangat hampa.


"Aku tidak bohong, Rio." Rio menatap lekat mata Alena, mencoba mencari titik kebohongan, tapi Rio tidak dapat menemukannya.


"Aku wanita bersuami."


"Aaaaakkkhhh." Rio memukul-mukul dinding, meluapkan semua emosinya, hatinya sangat hancur. Alena melihat tangan Rio yang berdarah.


Alena bisa merasakan luka hati yang Rio rasakan. Alena pikir Rio hanya playboy yang iseng padanya. Ternyata dugaan Alena salah. Melihat reaksi Rio yang berlebihan, tentu itu bukan perasaan biasa.


"Sebenarnya, hari ini aku ingin mengatakan pada semua orang jika aku sudah menikah, tapi kamu keburu nembak aku duluan."


"Lalu di mana suaramu selama ini? Kenapa kamu diam saja dan membuatku terlihat seperti orang bodoh yang mengejar-ngejar wanita bersuami." Rio meneriaki Alena.


"Aku pikir kau hanya iseng padaku?" Alena menunduk malu, dia menyesal karena tidak jujur dari awal. Dia tidak menyangka masalah akan serunyam ini.


"Hanya iseng kau bilang." Rio berjalan ke hadapan Alena lalu mengguncang bahu Alena dan kembali berteriak dia memberikan tatapan tajam pada Alena, mata itu seperti pisau yang siap menguliti Alena.


"Rio lepas, jangan seperti ini." Alena mendorong dada Rio.


"Kau sudah mempermalukanku Alena, kau sudah mempermalukanku." Rio berusaha mencium Alena tapi Alena berontak sekuat tenaga.

__ADS_1


"Hikzzzzz... Tolong jangan seperti ini." Alena menangis karena Rio mencoba untuk melecehkannya.


"Lepas, Rio!" Alena berteriak seraya memberontak dengan kuat.


"SINGKIRKAN TANGAN KOTORMU DARI ISTRIKU." Suara bariton Brayen tiba tiba menggema. Rio dan Alena menoleh ke arah suara.


"Bug..." Brayen muncul dan meninju wajah Rio tanpa aba aba, hingga dia jatuh tersungkur. Brayen terus menghajar Rio.


"Abang jangaaaan. Aku mohon jangan Abang, berhenti Abang. Abang aku yang salah. Abang STOP." Alena berteriak dan semakin menangis.


Rio berusaha menghindari pukulan Brayen dan melawan tapi dia tidak bisa menandingi kekuatan Brayen. Alena sangat terkejut melihat sisi lain dari suaminya, dia tidak menyangka jika Brayen ternyata sesadis ini. Membuat Rio babak belur.


"Abaaaang...." Alena menarik narik tangan Brayen berusaha menghentikan aksinya yang brutal tapi Brayen malah mendorong Alena hingga terjatuh. Brayen langsung menghentikan aksinya saat menyadari Alena terjatuh dan menoleh ke belakang melihat Alena yang sudah terduduk di papingan dengan air mata.


Alena sangat takut melihat Brayen yang sekarang. Dia bukan Brayen yang dia kenal. Brayen yang ini terlihat sadis. Matanya merah penuh dengan gelora amarah yang siap membakar apa saja yang ada.


"Jangan pernah melihat istriku, menyebut namanya pun jangan." Brayen menatap nyalang Rio dan menginjak dadanya yang sudah tergeletak di tanah. Rio hanya bisa meringis kasakitan tanpa perlawanan.


Brayen menarik tangan Alena hingga dia berdiri. Baru beberapa langkah Brayen beranjak dia menoleh ke belakang. Mengamati wajah Rio dengan seksama. Brayen mengenali wajah itu.


"KASIHAN SEKALI SUCI MEMILIKI ANAK DARI PEZINAH SEPERTI DIRIMU." Ucap Brayen dengan lantang, dialah pemuda yang meniduri Suci saat Suci mabuk. Rio memanfaatkan keadaan Suci yang kehilangan akal sehatnya. Kemudian Brayen pergi meninggalkan Rio yang masih tercengang dengan ucapan Brayen.


"Suci?... Suci siapa?..." Rio beringsut duduk, memegangi wajah dan perutnya yang sakit. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding. Bernafas dengan berat.


"Aaaahhh Sial. Tubuh ku sakit semua... Aaah siapa Suci?... Terlalu banyak wanita yang tidur dengan ku. Mana aku ingat namanya satu persatu. Mana mungkin satu di antara pacarku hamil, aku selalu menggunakan pengaman saat melakukannya. Kecuali...! Aaah sial, apakah wanita perawan yang sedang mabuk itu, yang menyebut nyebut namaku Arya. Aaah entah lah aku tidak ingat, perempuan mana yang aku hamili."


***


Selamat menikmati...

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung karya saya ini. Insyaallah saya akan bagi bagi rezeki lagi.


Love you Mak emakku cyank...


__ADS_2