
Belum 24 jam menjadi istri Brayen, Alena sudah sangat tertekan. Alena tidak akan sanggup bila harus hidup sepanjang usia dengan pria seperti Brayen. Alena menyesal menyetujui pernikahan ini, dia memutuskan akan mengadukan hal ini pada orang tuanya dan meminta cerai.
"Aku akan mengadukan perbuatan mu pada orang tuaku. Kau sudah melakukan kekerasan padaku."
"Heh.... Kekerasan yang mana maksudmu?... Memandikan mu dengan satu ember air. Itu maksud mu!" Brayen tersenyum mengejek pada Alena. Alena diam tidak bisa menjawab. Mana bisa hal itu di katakan kekerasan, apalagi alasannya karena Alena lalai beribadah. Yang ada Umi Naya malah akan memarahi Alena.
"Ck ck ck ck...." Brayen berdecak seraya menggelengkan kepala.
"Ternyata penilaian Arya tentang mu salah besar. Kau tahu! Sebelum menikahimu Arya berpesan padaku agar tidak melakukan kekerasan fisik padamu. Arya mengatakan kau adalah gadis baik, hanya saja kau belum bisa bersikap dewasa, belum bisa bukan berarti tidak bisa."
"Tapi bagiku kau hanya gadis sombong dan egois, hanya mementingkan diri sendiri. Lihat lah hasil dari sifat kekanak-kanakanmu, Abahmu masuk rumah sakit. Lakukan apapun sesuka hatimu supaya Abah semakin betah terbaring di rumah sakit, dengan begitu kau akan puas ." Ucapan Brayen selalu berhasil menampar Alena. Dua kali Abah masuk rumah sakit penyebabnya adalah Alena.
"Katakan...Katakan apa saja yang ingin kau ucapkan pada orang tuamu...Aku ingin tahu sebesar apa keegoisan yang bersarang di hatimu." Brayen bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Alena.
Alena menghela nafas lesu bersandar di sandaran kursi.
"Ya Allah...Saya belum siap menikah. Abah maafin Alena." Gumam Alena.
***
Saat Alena masuk ke dalam kamarnya, ia di kejutkan dengan kehadiran dua pelayan yang mengisi lemarinya dengan baju syar'i. Alena menyuruh dua pelayan itu bergeser. Alena melihat semua bajunya lenyap.
__ADS_1
"Di mana semua bajuku?..."
"Maaf Nona.... Untuk itu anda bisa bertanya pada suami anda." Alena masih merasa asing dengan kata "Suami" yang di ucapkan pelayan itu. Alena masih belum percaya kalau dia sudah menikah. Ini seperti mimpi bagi Alena.
"Tok tok tok..." Suara pintu yang di ketuk Alena.
"Masuk."
"Kembalikan baju bajuku." Ucap Alena to the point. Brayen bangkit dan menghampiri Alena.
"Kenapa?...Apa kau masih ingin memakainya?..." Brayen bersedekap seraya menatap Alena.
"Ya." Jawab Alena dengan sorot mata yang tidak menyenangkan.
"Ya."
"Ikuti aku." Brayen melangkah dan di ikuti Alena. Brayen membukakan pintu ruangan untuk Alena. Brayen menyandarkan punggungnya ke pinggiran pintu. Alena menatap kesal Brayen. Keduanya berdiri di pintu.
Alena terkejut saat melihat baju bajunya di potong kecil-kecil oleh tiga pelayan. Kini baju Alena menjadi kain perca. Bahkan hampir menjadi serpihan.
"Apa yang kau lakukan pada baju bajuku Om... Kau itu munafik Om. Katanya tak suka dengan hal mubazir tapi kenapa malah merobek baju bajuku hingga menjadi kain perca."
__ADS_1
"Kalau tidak suka melihat ku pake celana jeans dan kaos, kau bisa kan membagikannya pada orang tak mampu. Banyak orang yang tidak mampu membeli pakaian yang layak. Semua bajuku yang kau robek masih layak pakai. Ternyata semua ceramah mu itu hanya omong kosong." Alena berteriak teriak menunjuk nunjuk bajunya yang di rusak, bibir mungil itu terus mengoceh tanpa henti. Brayen hanya tersenyum menyaksikan bibir mungil itu buka tutup. Akhirnya Alena berhenti bicara setelah lelah mengoceh. Dada Alena sudah naik turun karena emosi.
"Kenapa kau malah tersenyum Om...Aku ini lagi mode marah...." Alena menatap Brayen dengan tajam.
"Hahahahahahaha....Kau mau adu argumentasi dengan ku gadis kecil...." Ucapan Brayen membuat Alena semakin kesal.
"Ehem ehem.... Baiklah...." Brayen menghentikan tawanya, mendekati Alena. Dengan gayanya yang Cool, dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya yang ia pakai. Dan satu tangannya lagi menyangga pinggiran pintu. Alena mendongak ke atas sementara Brayen menunduk ke bawah menatap mata Alena. Alena memberi tatapan permusuhan, sementara Brayen memberikan tatapan penuh kehangatan.
"Aku tidak akan menyumbangkan baju super ketat mu itu pada wanita muslimah. Yang ada nanti aku dan kau malah terjerembab pada dosa jariah. Bagaimana jika mereka menggunakan baju ketat mu dan meliuk-liuk memperlihatkan bentuk tubuhnya di hadapan laki-laki asing apa lagi untuk menggoda."
"Menutup aurat bukan lah perintahku tapi perintah Allah subhanallahu wa ta'ala. Lebih takutlah padanya dari pada padaku. Apa kau mengerti."
Kemudian Brayen mundur , mulai menjauh dari Alena. "Kalau kau tidak mau menutup aurat! Telanjang lah seperti orang gila tidak apa-apa." Ucapan Brayen membuat emosi Alena tersulut. Alena langsung mencengkram kerah kemeja Brayen hingga jarak mereka begitu dekat.
"Aku ini istri mu Om...Bukan orang gila." Ucapan Alena membuat Brayen tersenyum dengan tatapan lelaki mata keranjang. Brayen menarik pinggang Alena dan menekannya hingga keduanya begitu dekat. Alena terkejut dan melebarkan matanya.
"Akhirnya kau menganggap ku suami. Sudah siap melayani suami. Baiklah ayo..." Alena menggeleng cepat.
Brayen langsung mengangkat Alena dan menggendongnya seperti karung beras. Kepala Alena nyungsang ke bawah sementara kakinya memberontak.
"Ampun Ooooom...Ampun Ooom....Saya janji tidak akan melawan lagi...Turunin Alena Om...Ampun Om...Saya janji akan nurut sama Om....Asal saya jangan di perkodok Om"
__ADS_1
***
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT