
Brayen terlihat begitu menyayangi bayi yang di gendongnya. Dia terlihat seperti sudah berpengalaman sebagai seorang bapak, terlihat dari cara menggendongnya dia begitu lihai.
"Itu siapa ya?....Masak diam diam Om Brayen udah nikah dan punya anak. Kalau dia istrinya aku apanya dong?..." Gumam Alena sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Aku kok nggak suka ya liat Om Brayen senyum senyum ke mbak itu. Mbak itu cantik lagi. Dadanya lebih gede dari punya ku" Gumam Alena lalu melihat dadanya sendiri. Kemudian meremas tangannya yang terkepal.
Alena beranjak dari persembunyiannya dia melangkah maju hendak menghampiri Brayen tapi mundur lagi dan kembali bersembunyi di tempat semula. Dan menyandarkan punggungnya di balik dinding.
"Terus aku harus bilang apa ke Om Brayen kalau ternyata dia istrinya, mau marah takut Om galak itu ngamuk..."
"Om Brayen kan nggak cinta sama aku, nikah aja nggak jelas, karena terpaksa. Om Brayen juga tidak tertarik sama aku. Tadi aja dia bilang aku jelek, lebih jelek dari monyet."
"Kenapa aku jadi gengsi gini sih... Tinggal ngomong aja apa susahnya sih, Tapi mau protes ya malu...Kan Om Brayen nggak cinta sama aku."
Alena melangkah menjauhi mereka berusaha tidak peduli toh dia dan Brayen sama sama tidak menginginkan pernikahan ini.
Alena berjalan melangkah melewati lorong lurus namun sepanjang dia melangkah rasa penasaran menggerogoti isi kepalanya.
"Tapi aku ini istri Om Brayen....Aku berhak meminta penjelasan."
Alena yang bingung akhirnya memutuskan kembali untuk menghampiri Brayen. Dia membalik tubuhnya dan berjalan dengan langkah tergesa.
Tak lama kemudian di lihatnya tempat tadi mereka berada sudah kosong. Alena berlari melewati lorong yang sepi. Di pertigaan lorong Alena menoleh ke kanan dan ke kiri. Di sebelah kanan tergantung tulisan EXIT/KELUAR. Alena memilih jalan ke luar.
***
Suci berjalan dengan kepala yang pening, pandangannya mulai kabur. Maka dari itu Brayen berinisiatif untuk memeriksa kesehatan Suci namun Suci bersikeras menolak.
"Tidak tuan, terima kasih...Saya hanya butuh istirahat...."
"Apa kamu yakin?..."
"Iya..."
"Apa ada yang membantu mu untuk menjaga bayi ini. Jika tidak ada maka aku akan mencari Baby sitter untuknya!..."
"Tidak perlu tuan, terima kasih. Aku punya asisten rumah tangga yang siap membantu saya kapanpun saya butuh."
Brayen yang menggendong bayi terus berjalan sambil mengobrol dengan Suci. Tiba-tiba tubuh Suci limbung dan hampir terjatuh. Beruntung satu tangan Brayen merengkuh pinggang Suci.
Alena yang pengap melihat adegan mesra mereka mendorong Suci hingga Suci roboh beruntung tangan kokoh Brayen mampu menahan Suci hingga panggul Suci tak sampai menyentuh lantai.
"Alena apa yang kau lakukan?... Dia baru saja melahirkan." Bentak Brayen dengan wajah murka pada Alena. Kemudian menarik Suci hingga berdiri tegap, masih merengkuh Suci takut jatuh. Mata Alena tidak berpaling dari tangan Brayen yang singgah di bahu Suci.
"Cepat minta maaf..." Hardik Brayen lagi.
"Aku tidak mau."
"Jangan sampai aku berbuat kasar padamu."
"Kenapa aku harus minta maaf pada wanita pelakor ini." Ucap Alena.
"ALENA..." Sentak Brayen dengan nada tinggi dan tangan yang sudah melayang tertahan ke atas karena tangan Suci menahannya. Suci berusaha menengahi Walaupun ucapan Alena telah menampar hati Suci.
__ADS_1
Alena membuka matanya yang sempat tertutup karena Brayen hampir menamparnya. Namun tangan masih menutupi pipi niat hati sebagai tameng jikalau Brayen menamparnya.
Air mata Alena sudah menggenang menatap tangan Brayen yang melayang.
"Siapa dia?" Ujar Suci pada Brayen.
"Dia...." Ucapan Brayen terpotong karena di sela oleh Alena.
"Aku bukan siapa siapanya..." Ketus Alena yang emosi karena Brayen hampir menamparnya. Kemudian berlari menjauhi Suci dan Brayen.
"Alena...Alena...Alena" Tapi Alena tidak menggubris panggilan Brayen. Brayen dan Suci hanya menatap kepergian Alena yang baju syar'i dan kerudung panjang berkibar di sapu angin mengikuti langkahnya yang berlari.
"Suci aku minta maaf atas nama Istriku..."
"Anda sudah menikah?..."
"Iya. Dia istriku. Aku benar-benar minta maaf, aku sangat menyesali perbuatannya."
"Tidak perlu minta maaf. Wajar jika dia marah. Pasti dia cemburu melihat kebersamaan kita."
"Heh...Mana mungkin dia cemburu." Brayen tersenyum kecut.
"Ya cemburu lah...Masak nggak cemburu melihat suaminya dekat dengan perempuan lain." Refleks Brayen langsung melepaskan tangannya. Brayen sendiri baru sadar tangannya masih melingkar di lengan Suci.
"Mana mungkin dia cemburu... Pernikahan yang kami lakukan karena terpaksa." Brayen hanya membatin.
"Lebih baik kau periksakan kesehatan mu dulu. Baru setelah itu kau, ku antar pulang."
"Tidak perlu tuan. Tadi saya sudah konsultasi dengan dokter, katanya saya hanya butuh istirahat. Lebih baik segera temui istri anda dan katakan bahwa kita tidak memiliki hubungan apa-apa."
****
Alena menghampus air matanya, dia sakit hati dengan sikap Brayen, gara gara wanita itu hampir saja telapak tangan Brayen mampir ke pipi Alena.
Alena sudah hampir menarik gagang pintu hendak membuka kamar rawat sang Abah, namun di urungkan. Mana mungkin Alena menemui orang tuanya dengan mata yang bengkak. Alena malah melangkah menuju jalan keluar dari rumah sakit setelah memesan taksi online.
Hanya menunggu beberapa menit taksi online sudah muncul di hadapan Alena yang berdiri di depan rumah sakit. Kemudian Alena menjinjing sedikit baju syar'i nya di bagian bawah dan masuk ke dalam taksi online.
"Mau kemana, Non?..."
"Kemana saja."
"Maksudnya?..."
"Terserah bapak mau kemana saja..."
"Tapi..." Ujar pengemudi taksi yang berpikir Alena tidak waras.
"Jangan khawatir pak...Saya pasti bayar." Pengemudi taksi akhirnya melajukan taksinya. Walau pun tadi sempat ragu, takut Alena tak sanggup membayar ongkos taksi.
Sepanjang jalan Alena hanya memandang keluar jendela, membiarkan wajah cantiknya di terpa dinginnya angin malam. Berharap angin membawa pergi rasa kecewanya.
Di lihatnya dari jauh...Cafe yang unik seperti rumah kaca dan di atasnya bertabur lampu kecil berwarna kuning berpijar seperti bintang di langit. Memberikan suasana damai dan tenang di malam hari.
__ADS_1
"Pak berhenti di Cafe itu..." Alena menunjuk Cafe yang terdapat tulisan besar, BINTANG BERPIJAR.
Setelah taksi berhenti tepat di depan cafe, Alena membayar uang lebih pada pengemudi itu.
"Nona kembaliannya." Supir taksi menyodorkan uang kembalian pada Alena yang sudah beranjak pergi.
"Buat jajan anak bapak." Alena hanya menoleh dengan senyuman ramahnya dan bergegas pergi.
Alena melihat cafe yang terlihat penuh, matanya menyusuri seluruh tempat. Mencari meja yang kosong. Matanya menangkap meja kosong di sudut paling pojok. Alena melangkah menuju tempat duduk yang kosong itu. Tak lama kemudian pelayan datang.
"Nona mau pesan apa?"
"Saya mau pesan menu untuk orang galau."
"Hah..." Pelayan nampak bingung. Alena memandangnya mengerti bahwa Alena terlihat bodoh.
"Saya pesan makanan dan minuman istimewa di cafe ini."
"Oh.... Baiklah."
Tak lama kemudian pesanan Alena datang.
Pelayan menyajikan makanan Cheese Dak Galbi yaitu kombinasi dari ayam pedas khas Korea dan keju mozzarella meleleh di atasnya.
Dan secangkir es Secang yang bisa menghangatkan badan saat dingin.
Sudah beberapa menit Alena mengaduk ngaduk makanannya tanpa mau menyentuh.
"Hay... Ladies... Boleh saya duduk disini. Semua tempat penuh." Ucap pemuda tampan, yang sudah duduk di hadapan Alena. Tubuhnya tinggi menjulang . Senyumnya manis dengan gigi gingsul.
"Ngapain minta izin... Noh udah duduk..."
"Hehehe..."
"Perkenalkan nama saya Rio..."
"Nggak tanya..."
"Asseeemmm....Baru pertama kali gue di kacangin ama cewe."
"Jangan galak galak nanti cantiknya berkurang 1 % Loooh..."
"Bodo'..."
"Heeemmmm.... Masih jutek....Menarik nih..."
Rio mulai menyantap makanannya sambil terus menatap Alena tanpa berkedip.
"Ngapain ngeliatin aku kayak gitu?...."
"Kamu cantik sih mirip adiknya bidadari..."
"Ku colok nih pake garpu kalau masih melihatku kayak gitu."
__ADS_1
****
SELAMAT MENIKMATI.