AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
MASA LALUKU MENYAKITKAN


__ADS_3

Rio segera kabur sebelum dia dipermalukan lebih lama lagi oleh para mantan kekasihnya. Alena dan teman-temannya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Rio dan para wanitanya.


Setelah kepergian Rio. Alena, Citra dan Sinta melihat ibu dosen Anita mengemudikan mobil. Mereka bertiga malah menggosipkan dosen cantik itu.


"Lihatlah wajah Bu Anita, wajahnya terlihat lebih cerah sekarang daripada biasanya. Mungkin dia sedang jatuh cinta." Ucap Sinta.


"Sok tahu dirimu..." Sahut Citra sementara Alena hanya tersenyum.


"Lah bener kan, ku dengar dia juga lebih ramah pada para mahasiswa di kampus ini, tidak galak seperti biasanya."


"Berarti obatku mujarab."Alena membatin.


"Ya, kau benar. Sepertinya dia sedang jatuh cinta." Ucap Alena, kemudian mobil jemputan Alena datang.


"Guys aku duluan ya, bye." Ucap Alena sambil melambaikan tangan kemudian dia memasuki mobil jemputannya.


***


Alena ingin sekali mengutarakan isi hatinya pada Brayen walaupun sedikit ragu, sebab takut menyinggung perasaan Brayen. Tapi Alena harus bertanya, sebab jika dia diam saja masalah tidak akan terselesaikan.


Alena terus saja melirik Brayen yang fokus mengemudikan mobil.


"Ada apa? Kenapa melirikku seperti itu? Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan! Katakan saja tidak apa." Ucap Brayen.


"Abang kok tahu aku melirik Abang, Abang kan nggak lihat aku dan fokus mengemudi?"


"Tahulah, Kan kamu ada di hatiku." Jawab Brayen.


"Toet..." Alena mencolek pinggang Brayen sehingga Brayen melengking karena geli.


"Alena aku lagi nyetir nih..."Ucap Brayen yang kegelian karena Alena mencolek pinggangnya.


"Cie cie Abang sudah bisa gombal nih yeee..."


"Hahahahahahaha...."


"Kan kamu yang ngajarin."


"Hahay, kapan aku gombalin Abang, yang ada aku malah bikin Abang ruwet."


"Ternyata kamu sadar juga."


"Iya lah, Abang kan cinta aku karena aku ruwet."


"Aku cinta kamu bukan karena kamu ruwet tapi karena kamu tercipta memang untukku."


"Cak ileeeehhh ternyata Abang bisa lebay juga ya..." Kemudian Alena bersandar di bahu Brayen.


"Abang."


"Hemmm..."


"Abang kalau aku tanya tentang masa lalu abang waktu di tinggalkan di panti asuhan Abang marah nggak?"


"Jangan pernah membahas masa laluku itu terlalu menyakitkan. Mengerti."


"Tapi Bang sepertinya Abang memiliki hubungan dengan perempuan bercadar yang waktu itu bertemu denganku di supermarket, matanya mirip dengan mata Abang. Lihat nih lukisan aku, samakan matanya


sama kayak mata Abang." Alena menunjukkan lukisannya pada Brayen.


Brayen hanya melirik lukisan Alena kemudian kembali fokus mengemudikan mobil.


"Jelas berbeda, itu mata perempuan. Lentik gitu bulu matanya."


"Ini nih sebenarnya lukisan wajah abang tapi...!"


"Cukup Alena. Aku tidak mau membahas masa laluku."


"Tapi Bang, sepertinya ada rahasia besar dibalik gelang ini Abang." Alena menunjukkan gelangnya pada Brayen.


"Ciiiiiiiiittttttt...." Suara mobil berdecit. Brayen membanting setir mobil ke tepi jalan. Mobil berhenti di tepi jalan.

__ADS_1


"Aku mohon jangan pernah mengungkit masa laluku. Aku hanya ingin melupakan jati diriku, sebagai bayi malang yang ditelantarkan di panti asuhan. Bisa jadi aku adalah anak dari hubungan yang haram. Kau tahu Alena, itu sangat menyakitkan."


Air mata sudah menggenang di mata Alena saat melihat wajah sendu sang suami. Alena berhambur memeluk Brayen, Alena menangis tersedu-sedu dipelukanmu Brayen, membayangkan masa sulit Brayen di waktu kecil tanpa belaian kasih sayang orang tua, pasti itu sangat menyakitkan.


"Ku tau hatimu di balut luka dan lara, walau bibirmu terkatup rapat tapi matamu bersua. Masih ada Kak Arya, aku akan minta bantuan kak Arya saja. Dengan begitu aku tidak akan menyakiti Abang. Pasti ada rahasia besar dibalik masa lalumu Abang, aku akan mencari tahu, aku tidak akan menyerah sampai disini."


"Kenapa kamu menangis Alena?"


"Abang sekarang tidak sendiri lagi, Aku dan anak-anak Kita akan selalu bersama Abang, selamanya."


"Hahaha...Kau sudah mau melahirkan anak untukku?..." Alena mengangguk dipelukan Brayen. Brayen tersenyum senang dan membelai kepala Alena lalu mengecupnya.


"Abang, aku kangen sama Mbak Alyn dan baby twins, boleh nggak aku mampir ke sana?..."


"Hari minggu saja kita ke rumah Arya, kau bisa main sepuasnya di sana. Nanti malam aku punya kejutan untukmu." Alena langsung melepaskan pelukannya.


"Kejutan apa Bang?"


"Namanya kejutan ya rahasia."


"Ah pakai main rahasia-rahasiaan segala."


"Abang."


"Apa."


"Abang tukang bakso mari lah - kemari, Aku mau beli hahaha...." Alena malah bernyanyi lalu tertawa. Alena sengaja menjahili Brayen agar dia bisa melupakan ucapan Alena tadi, seketika Brayen langsung menarik pipi Alena karena gemes sudah mengejeknya.


***


Brayen menghampiri Alena yang sudah berdandan cantik dengan mengenakan baju syar'i berwarna pink senada dengan hijabnya.


Brayen memakaikan tutup mata pada Alena.


"Abang kenapa mataku ditutup? Aku jadi nggak bisa lihat kan."


"Jangan khawatir, aku akan menuntunmu."


"Ok. Jadi ingat ceritanya Mahabarata kalau mataku di tutup begini." Alena menyentuh kain yang menutupi matanya.


Alena malah menyandarkan kepalanya di bahu Brayen.


"Pantas saja Bang, anak kecil suka minta digendong. Ternyata digendong itu enak." Ucap Alena. Brayen hanya membalas ucapan Alena dengan senyuman.


Brayen menurunkan Alena setelah sampai di roof top rumahnya. Brayen menghadapkan Alena ke meja makan yang sudah dipersiapkan oleh Brayen. Brayen mulai membuka penutup mata Alena.


"Waaaawwww...." Alena sangat takjub dengan keindahan yang Brayen suguhkan pada Alena. Alena menautkan jemarinya dan meletakkannya di bawah dagu sambil sedikit goyang kekanan dan kekiri


"Kamu suka kejutan ku?"


"Aaaaaaa suka sekali Abaaaang..." Ucap Alena kemudian berhambur memeluk Brayen.



Kemudian Brayen menggenggam tangan Alena dan menuntun istrinya untuk duduk di meja makan yang dia persiapkan.


Brayen menyalakan musik romantis lewat hp-nya.


"Maaf ya aku tidak mengundang pemain musik di sini sebab aku malu jika banyak yang menonton." Ucap Brayen.


"Segini saja aku sudah seneng Abang."


"Syukurlah kalau kamu senang."


Kemudian pelayan menyuguhkan makanan di atas meja untuk Brayen dan Alena. Keduanya mulai makan sambil berbincang-bincang ringan.


Alena terheran pada Brayen yang tiba-tiba bangkit dari kursinya. Dia berjalan ke arah belakang Alena.


"SAYANG, angkat kerudungmu sedikit." Alena pun menurut.


"Heeemmm sejak kapan manggil aku Sayang."

__ADS_1


Kemudian Brayen memasangkan liontin yang sangat cantik bertabur berlian di gantungan love-nya.


"Apa kamu suka?" Ucap Brayen yang memegangi bahu Alena, dengan punggung yang membungkuk serta bibir yang berbisik di telinga Alena.


"Suka sekali abang kalungnya sangat cantik." Demi apapun hati Alena sangat berbunga-bunga saat ini. Dengan sikap dan keromantisan dari Brayen. Dia tidak menyangka bahwa Brayen yang kaku seperti kanebo kering bisa bersikap seromantis ini.


"Apa aku masih terlihat kaku seperti kanebo kering?" Brayen bertanya pada Alena.


"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk..." Alena langsung terbatuk-batuk, dia tidak menyangka ucapan Alena yang suka mengejek Brayen dengan mengatakan bahwa Brayen seperti kanebo kering. Ternyata dianggap serius. Padahal Alena mencintai Brayen apa adanya.


Brayen langsung menepuk-nepuk punggung Alena dan memberikan Alena air minum.


"Abang sangat romantis. Abang jangan terlalu serius menganggap ucapanku. Perkataanku tentang kanebo kering hanya bercanda jangan diambil hati dan jangan dianggap serius. Aku mencintai Abang apa adanya." Ucap Alena.


"Berarti Abang memberikan aku liontin ini karena tadi aku bilang Abang pelit ya?"


"Tidak juga sih, Sudah lama aku memesan liontin ini tapi baru jadi hari ini. Lihat di dalam love-nya terukir nama kita Brayen dan Alena."


"Biasanya kalau di film-film ada adegan dansa nya biar romantis. Yuk kita dansa."


"Jangan aneh-aneh Alena. Aku tidak pernah berdansa dan tidak tahu caranya berdansa."


"Ayo sini aku ajari Bang."


"Emangnya kamu bisa berdansa?"


"Bisa, kan aku suka lihat film Bollywood."


"Terus prakteknya bisa nggak?"


"Ayo coba dulu belajar sama Abang."


"Tidak, aku malu."


"Ayo Bang Biar lebih romantis."


"Saya minta tolong, kalian semua pergi ya, tinggalkan kami berdua saja di sini." Ucap Alena pada para pelayan yang berada di roof top.


Semua pelayanan menunduk hormat kepada Alena dan pergi.


Alena menyalakan musik yang romantis dan menyeret tangan Brayen di pelataran yang cukup luas.


"Aku harus bagaimana?" Ucap Brayen.


"Peluk pinggang ku begini Bang."


"Dan aku pegang leher Abang begini. Terus kita goyang kiri goyang kanan seperti di TV TV."


"Huuuuufffhhh kamu tuh aneh-aneh saja Alena... " Brayen mengikuti instruksi dari Suhu Alena.


"Adooohhh sekelku kepidek Abang."


"Apa itu sekelku kepidek?"


"Artinya kakiku ke injek."


***


Author.


Pengumuman judul CINTA GADIS OBAT NYAMUK saya rubah jadi KESUCIAN YANG TERNODA.


Saya terima nasihat dan saran dari para pembaca, semua pesan saya baca tapi maaf tidak semua bisa saya balas.


Kedewasaan seseorang itu tidak bisa diukur dari usia sebab anak SMP saja jika pemikirannya bijak, dia bisa bersikap dewasa.


Untuk karakter seseorang menuju kedewasaan itu bertahap ya Kakak, tidak langsung instan. Karena guru terhebat adalah pengalaman,itu bagi saya. Kalau misalnya mendadak karakter seseorang langsung menjadi dewasa kan aneh. Ada saatnya Alena berubah menjadi dewasa, sabar menunggu oke. Hanya butuh proses.


***


Jangan lupa dukung author pake Like komentar vote favorit.

__ADS_1


Pemenang kuis di tentukan di akhir bulan jam 9 malam ya kakak pengumumannya. Kalo pengen menang banyakin vote,hadiah, like komentar, favorite.



__ADS_2