
"Udah ya Om, aku capek..." Alena mengeluh, sudah satu jam dia memijat punggung Brayen.
"Kalau kamu capek, sini biar aku pijat."
"Nggak mau."
"Ya sudah pijat lagi."
"Huuuuufffhhh...Om cita citaku itu jadi Polwan bukan jadi tukang urut."
"Memijat seperti ini adalah pelatihan sebelum menjadi Polwan."
"Nggak nyambung lah Om...Apa hubungannya mijit sama jadi Polwan?..."
"Tentu ada hubungannya. Kalau tenagamu lemah seperti ini mana bisa jadi Polwan."
"Oh begitu ya...Ya sudah aku mau jadi dokter saja." Ucap Alena sambil terus memijit Brayen.
__ADS_1
"Kenapa malah mau jadi dokter?...Jauh sekali dari cita cita awal." Brayen terheran dengan keinginan Alena yang mendadak berubah.
"Nggak apa-apa...Yang penting bisa nolong orang."
"Memangnya kamu kuliah ambil jurusan apa?..."
"Jurusan Seni Om..." Ucapan Alena membuat punggung Brayen bergetar hebat karena tertawa.
"Hahahahahahaha.... Tidak nyambung jurusan sama cita citamu Alena." Alena yang malu bercampur kesal memijat punggung Brayen dengan keras....
"Aaaawwww... Aaaawwww....ALENA kau mau di hukum ya..." Brayen membalik tubuhnya dan memegangi kedua tangan Alena. Alena menarik paksa tangannya tapi tangan Brayen begitu kuat. Brayen terus memandangi wajah cantik Alena. Wajah itu membuat hati Brayen berdesir.
Brayen beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Om...Mana kunci pintunya. Aku mau balik ke kamar ku." Brayen tidak menggubris ucapan Alena. Dia malah masuk kamar mandi. Brayen mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Setelah sekian lama mandi akhirnya tubuh Brayen mulai rileks. Dia keluar dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya sambil menggosok rambutnya yang basah.
Di lihatnya Alena yang sedang tidur di atas ranjangnya. Brayen menghampiri Alena, duduk di tepi ranjang. Gadis itu tampak kalem dan imut saat sedang tertidur. Berbeda sekali dengan saat dia terbangun.
__ADS_1
Kemudian Brayen beranjak masuk ke dalam ruang ganti. Dan keluar hanya memakai boxer. Dia merebahkan diri di samping Alena yang sebelumnya sudah di beri pembatas guling.
Brayen sudah hampir memejamkan matanya sebelum tangan dan kaki Alena mengganggu dirinya. Alena memeluk Brayen dengan posesif. Pembatas guling tadi sudah tidak ada entah kemana.
Brayen menyingkirkan tangan dan kaki Alena dari tubuhnya kemudian bergeser sedikit menjauh memberi jarak. Brayen mulai menutup mata tapi membukanya lagi saat tangan dan kaki Alena kembali bertengger di atas tubuhnya.
"Huuuuufffhhh... Gadis ini." Brayen kembali menyingkirkan tangan dan kaki Alena. Brayen menggeser tidurnya sampai di pinggiran ranjang, dia tidur menyamping membelakangi Alena sebab ranjangnya sudah di kuasai Alena hampir sepenuhnya. Lagi lagi Alena memeluk Brayen dari belakang. Brayen yang mengantuk tidak lagi memperdulikan Alena, dia mulai memejamkan mata.
***
Dua jam kemudian....Wajah Alena bergumul di dada Brayen, begitu nyaman, hangat dan harum dengan sedikit bulu. Alena memeluk Brayen seperti memeluk guling, Alena meraba punggung Brayen.
"Kenapa gulingnya hangat dan liat, gede lagi." Gumam Alena dengan suara parau. Merasa ada yang aneh akhirnya Alena membuka mata. Ada banyak bulu di dada Brayen yang kekar.
"Aaaaakkkhhh.... Kenapa Om mesumin aku." Teriakan Alena membangunkan Brayen. Brayen yang kesal karena terganggu melempar bantal ke wajah Alena. Alena langsung merengut dan memegangi bantalnya.
"Jangan berisik.... Bersiap siaplah aku akan membawamu ke rumah sakit."
__ADS_1
"Kita jenguk Abah?"
"Tidak....Aku mau memeriksakan mentalmu."