AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
EMPUK, ENAK, KENYAL


__ADS_3

"Baiklah... Bersiaplah nanti aku akan mengantarmu pulang ke Kampung Nelayan."


Alena langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Brayen. Dan berlenggang pergi meninggalkan Brayen sendiri di meja makan. Brayen masih tercengang, dia hanya menatap punggung Alena dengan tatapan yang hampa.


"Huuuuufffhhh...Gadis ini begitu bersemangat saat aku mengatakan akan memulangkannya ke Kampung Nelayan. Bagaimana bisa aku menahan Alena sedangkan Alena sendiri tidak menginginkan kehadiranku."


***


"Tidak seromantis film India, saat pemeran perempuannya marah dan merajuk! Si cowok berusaha mati-matian untuk mempertahankan. Lah ini aku, malah benar-benar dipulangkan. Rayu sedikit kek, mungkin Aku bisa sedikit berpikir untuk bertahan saat melihatmu menahanku. Lah ini, langsung memulangkan aku pada orang tuaku, Seperti membuang sampah saja."


"Mau bertahan sekarang ya malu lah, terlanjur minta dipulangkan dan langsung di Iya kan...


Aaah BOMAT, Bodo' Amat, Toh kehadiranku juga tidak diinginkan. Terlanjur basah nyemplung aja sekalian." Alena terus mengemasi pakaiannya memasukkannya ke dalam tas besar sambil menggerutu dalam hati. Satu persatu pakaian dimasukkan ke dalam tas dengan ditekan kasar. Dijejalkan ditekan-tekan seolah sedang menekan emosinya. Alena mengemasi pakaiannya sambil bersenandung.


Lirik lagu Bunga.


Thomas Arya.


"Sendiri kini 'ku dibalut sepi."


"Tiada tempat 'tuk bercurah lagi."


"Di mana kini entah di mana?"


"Abang impian yang indah di mata."


"Kurindu tutur sapamu nan manja."


"Saat kau barada di sisiku."


"Kini tinggal aku sendiri."


"Hanya berteman dengan sepi."


"Menanti dirimu kembali."


"Di sini kuterus menanti."


"Akan kucoba untuk."


"Menanti dirimu, kekasih."


"Oh Abang."


"Di mana kini kau berada."


"Jangan biarkan diriku."


"Dalam keseorangan."


"Jangan kau gores luka di dada."


"Sungguh diriku takkan kuasa."


"Campakkan kenangan."


"Merana kini aku merana."


"Kekasih tercinta entah ke mana?"

__ADS_1


"Sendiri kini 'ku dibalut sepi."


"Tiada tempat 'tuk bercurah lagi"


"Di mana kini entah di mana?"


Saat Brayen melewati kamar Alena, dengan jelas ia mendengar suara merdu Alena yang sedang bersenandung. "Gadis ini terlihat bahagia sekali." Kemudian Brayen pergi meninggalkan kamar Alena.


"Abang impian yang indah di mata."


"Kurindu tutur sapamu nan manja."


"Saat kau barada di sisiku."


"Ho ho ho ..."


"O-oh Abangku."


"Ho ho ho ... Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk" Alena menepuk-nepuk dadanya karena dia terbatuk tersedak ludahnya sendiri.


"Asem sopo ngrasani aku rek?(Asem siapa yang menggosipkan aku?)"Alena menggerutu dengan bahasa Jawa.


***


"Saya sudah siap bang." Ucap Alena membanting kasar tasnya diatas lantai di hadapan Brayen yang duduk di atas sofa memainkan hp-nya. Brayen melihat tas besar Alena yang sepertinya niat sekali untuk minggat.


"SEMANGAT sekali." Ucap Brayen.


"IYA dong, pulang ke kampung halaman." Ucap Alena dengan penuh semangat.


Kemudian Brayen mengangkat tas Alena yang berat, berisi semua pakaiannya.


"Kau benar-benar ingin pulang." Brayen bertanya dengan wajah serius.


"Tahan aku Bang pliiiiiiiiiiiiisssss, Tahan aku tahan aku tahan aku, Jangan biarkan Aku pergi."


"Baiklah. Ayo kita berangkat sekarang."


"Mak Jleb." Wajah ragu Alena mendadak berubah menjadi cemberut.


"Ayo cepat pergi lebih cepat lebih baik." Ucap Alena dengan nada Ketus.


"Benarkan, tadi dia tidak bisa menjawab mungkin karena sungkan."Brayen membantin dengan pola pikirnya sendiri.


Alena pergi menuju mobil, membuka pintu mobil, masuk dan membanting pintu dengan keras. Meninggalkan Brayen yang masih berdiri mematung dengan memeluk tas Alena di dadanya.


"Huuuuufffhhh.... Jika kamu tidak menginginkan aku apa yang harus diperjuangkan" Brayen menghela nafas dan menghampirinya di mobil.


"Tok tok tok tok..."Brayen mengetuk kaca jendela mobil kemudian Alena membuka kaca jendelanya.


"Ada apa lagi?" Ketus Alena.


"Kita tidak naik mobil yang ini tapi yang itu." Brayen menunjuk mobil berwarna putih yang lebih besar dari pada mobil yang ditumpangi Alena sekarang.


Alena yang malu karena salah memasuki mobil tidak mau turun dan tetap ingin memakai mobil ini karena biasanya mereka selalu menggunakan mobil ini.


"Aku tidak mau turun. Kenapa tidak pakai mobil ini saja? biasanya juga pakai mobil ini."


"Mobil ini mogok, kalau kamu kekeh mau pakai mobil ini, dorong saja sampai ke kampung halamanmu."

__ADS_1


Alena mendengus kesal turun dari mobil dan membanting pintu dengan keras untuk menutupi rasa malunya yang salah memasuki mobil.


"Dasar mobil rongsokan, kenapa masih dipelihara." Alena menggerutu.


"Memangnya kamu punya mobil?..."


"Punya di rumah, tapi mobil-mobilan." Brayen tersenyum mendengar jawaban dari Alena.


***


Di dalam mobil keduanya sama-sama bungkam, tidak mau membuka suara. Berkecamuk dengan uneg-uneg tersendiri di dalam pikirannya.


Hanya Alena yang sesekali membalas chat dari sahabat perempuannya di Kampung Nelayan. Setiap Alena membalas chat itu, Brayen selalu meliriknya, mungkinkah itu chat dari HATI YANG TERTINGGAL pikir Brian.


Brayen yang sudah tidak sabaran dan penasaran akhirnya bertanya juga pada Alena.


"Alena, kamu sedang chatting-an dengan siapa?"


"Aku."


"IYA."


"Kenapa, kenapa Abang bertanya?" Alena balik bertanya, berharap Brayen memberikan jawaban bahwa Brayen cemburu.


"Tidak apa-apa cuma iseng saja..."


"OH."


"Kamu sedang chatting-an dengan siapa?"


"Dengan calon ayah, dari anak-anakku." Jawab Alena asal.


"Ciiiiiiiiittttttt." Suara mobil berdecit, Brayen mendadak mengerem mobilnya, membuat tubuh Alena terjungkal ke depan, Untung Alena memakai sabuk pengaman, kalau tidak, nyungsep dah.


Mobil itu berhenti sembarangan, beruntung tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Brayen menepikan mobilnya.


"Baaang." Alena berteriak saat Brayen menjarah HPnya. Alena berusaha merampas HPnya dari tangan Brayen, namun tangan Brayen menghalangi Alena. Brayen membuka HP Alena melihat isi chat itu dan membacanya satu persatu.


"Itu hp-ku, privasiku, jangan dibuka-buka." Alena berusaha mengambil hp-nya. Si Brayen malah fokus membaca isi Hp Alena dan tidak berpaling dari layar Hpnya. Brayen mendorong dada Alena sambil membaca isi chatingan Alena dengan teman-temannya.


"Aaaaakkkhhh."Brayen terperanjat kaget saat mendengar teriakan Alena dan melihat tangannya yang berada di gundukan Alena, spontan Brayen menarik tangannya. Dan Alena langsung menyilangkan kedua tangannya.


"EMPUK... Eh, Kenyal, eh ENAK, eh Maaf aku tidak sengaja." Brayen yang gugup terus saja salah bicara dengan wajah yang bersemu merah. Alena mencebikkan bibir pada Brayen, menatapnya dengan Wajah bersungut-sungut, wajah itu merengut lalu Alena merampas HPnya dari tangan Brayen dan menghadap kaca jendela.


Alena sangat malu, ini pengalaman pertamanya, begitu pun dengan Brayen. Ingin sekali rasanya Alena menangis.


"Alena maaf, aku benar-benar tidak sengaja."


"Jangan bicara padaku." Alena bicara dengan nada ketus tanpa mau melihat ke arah Brayen. Bibir Brayen pun merapat. Diam, diam, diam, sepanjang jalan keduanya hanya diam membisu.


***


Kini mobil sudah memasuki halaman rumah sakit, di depan rumah sakit sudah ada, Arya, Alyn, baby twins, Umi dan Abah yang menunggu. Alena dan Brayen tidak turun dari mobil.


Tidak menunggu lama Abah dan Umi sudah memasuki mobil Setelah berpamitan dengan Arya dan Alyn. Sedangkan Arya dan keluarga kecilnya tetap tinggal di tempat.


Selama di perjalanan kedua mertua Brayen banyak berbincang-bincang dengan Brayen Namun Alena berpura-pura tidur. Dia diam membisu sebab masih sangat malu dengan kejadian tadi. Sejak kemarin dirinya mengalami adegan 21+... Setelah menonton adegan live, eh sekarang malah praktek.


Brayen bukannya lupa tapi dia berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung. Makanya dia meladeni Umi dan Abah. Brayen pun sama malunya.

__ADS_1


***


SELAMAT MENIKMATI


__ADS_2