AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
MASA LALU ARYA


__ADS_3

POV ALYN.


Aku tersenyum getir melihat mas Arya. Pasti pesan dari Suci. Ucapan mas Arya barusan hanyalah bualan saja. Mungkin melihat rayuan Suci mas Arya langsung terbuai lagi.


Beberapa jam aku menunggu Mas Arya tapi mas Arya tak kunjung kembali. Hatiku merasa kecewa. Dadaku masih terasa sesak memikirkan mereka bermesraan. Entah kenapa aku berharap dia disini. Bodohnya aku. Aku memutuskan tidur. Tak ada gunanya mengharapkan mas Arya.


*****


Pagi pun datang kembali. Ku lihat sekeliling. Kosong. Aku masih sendiri. Mas Arya tak kembali.


"Assalamualaikum" Umi datang tepat pukul 09.00 WIB.


"Wa Alaikum salam." Jawabku.


"Maaf ya Alyn, Umi baru datang. Umi baru tau kalau kamu Sakit. Arya itu bener bener keterlaluan, baru ngasih tahu Umi kalau kamu Sakit."


"Mas Arya.... Mas Arya kemana Umi?..."


"Huuuuufffhhh... Arya di temani Abinya ke psikiater." Ujar Umi yang terlihat sedih.


"Ke psikiater, memangnya mas Arya Kenapa?" Tanya Alyn tapi Umi masih diam dengan wajah sendu.


"Memangnya mas Arya kenapa Umi?" Lanjut Alyn.


"Arya tidak pernah cerita ya sama kamu nak?" Aku hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Umi.


"Sejak kecil Arya mengalami trauma setelah kehilangan Arfa saudara kembarnya. Dia takut melihat darah." Aku ternganga lalu menutup mulut. Aku baru tahu mas Arya memiliki saudara kembar. Aku juga baru tahu mas Arya memiliki trauma.


"Kamu tidak ingat ya nak Alyn. Waktu kecil kamu suka sekali bermain dengan Arfa."

__ADS_1


"Kapan Umi?..."


"Kamu tidak ingat ya.... Dulu kamu terlalu kecil makanya tak ingat."


"Ya sudah jangan di bahas. Kamu makan dulu ya"


"Iya Umi." Aku tidak mau bertanya lagi. Aku tidak ingin memaksa Umi untuk bercerita karena wajah Umi sudah terlihat sendu. Walaupun aku penasaran dengan kak Arfa. Nama itu seperti tidak asing bagiku.


Seharian ini Umi menemaniku. Umi begitu baik dan perhatian padaku. Berbeda sekali dengan anaknya. Kehadiran Umi membuatku sedikit lebih tenang. Membuatku rindu Umiku di kampung Nelayan.


Jam tiga sore aku di kejutkan dengan kehadiran Abah dan mas Arya. Abah sudah duduk di sofa tapi mas Arya masih berdiri di ambang pintu. Wajahnya begitu lusuh dan pucat. Matanya cekung dan sembab. Nafasnya terlihat bergemuruh. Apa sebegitu terpuruknya mas Arya putus dari Suci.


"Arya kamu tidak apa-apa nak." Umi yang khawatir menghampiri mas Arya. Membelai rambut dan wajah putra tercintanya. Lalu Umi memeluk mas Arya. Sebenarnya apa yang terjadi?..... Kenapa Umi begitu khawatir?....


"Umi pulang lah. Istirahat di rumah takut Umi ikut sakit." Ujar mas Arya.


"Bagaimana Umi bisa pulang nak kalau keadaan kalian berdua seperti ini." Ucap Umi.


"Tapi nak!...." Sela Umi.


"Arya butuh ketenangan Umi." Ucap mas Arya.


"Baiklah... Kalau ada apa-apa langsung kabarin Umi." Mas Arya menjawab permintaan Umi dengan mengangguk.


Setelah kepergian Abi dan Umi mas Arya menghampiriku. Dia mencium keningku.


"Jangan sentuh aku mas." Aku menolak.


"Untuk kali ini menurutlah pada suamimu Alyn. Aku mohon." Akhirnya aku membiarkan mas Arya melakukan apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


Diatas ranjang yang sempit ini mas Arya memeluk kakiku dan kepalanya tidur di pangkuanku. Satu tetes air mengalir dari sudut matanya. Mas Arya Kenapa? Apa yang sudah terjadi?


FLASH BACK ON.


"Umi. Kami saling mencintai. Kenapa Umi tidak bisa menerima Suci. Suci adalah gadis yang baik Umi. Suci sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan restu Umi tapi kenapa Umi tidak mau melihat Usahanya."


"Umi tidak sudi punya menantu seperti dia. Kalau mau menikahinya langkahi dulu mayatku." Ujar Umi yang tak mau mengubah keputusannya.


"Umi mengancamnya kenapa selalu begitu."Ujarku.


"Pokoknya kamu harus menikah dengan gadis pilihan Umi. Titik."


"Kenapa Umi terus saja mendesak ku untuk menikahi orang yang sama sekali tidak aku kenal." Aku berusaha bersabar menghadapi Umi karena Umi adalah orang tua yang wajib ku muliakan. Tapi untuk urusan jodoh aku masih harus tawar menawar dulu dengan Umi karena ini urusan hati.


"Siapa bilang kamu tidak kenal. Kamu mengenalnya." Ujar Umi yang membuat aku bingung.


"Siapa maksud Umi?" Tanyaku yang sudah penasaran.


"Gadis kecil yang selalu kamu buat menangis dulu. Cucu dari Nelayan yang telah menyelamatkan Abimu saat tenggelam di laut."


"A' A' Alyn. Alyndia kah maksud Umi?...."


****


Author.


Terima kasih kaka semua sudah dukung aku.


Komentar kalian semua lah yang buat Authornya jatuh cinta dan setia disini.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author pake like komentar vote biar cemungut


__ADS_2