AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PANTANG MENYERAH


__ADS_3

Pagi hari Alyn menghampiri Iqbal yang sedang menyeruput kopi dan membaca berkas-berkas tentang Arya dan Suci di ruang makan.


"Ck." Iqbal berdecak tak puas, tak sesuai dengan apa yang Iqbal pikirkan.


"Mas Iqbal kita harus bicara." Ujar Alyn tapi Iqbal masih fokus pada berkas-berkas yang ia baca.


"Sarapan dulu karena kau butuh tenaga untuk mendebat ku nanti." Ujar Iqbal tanpa melihat Alyn dengan gayanya yang selalu tenang dan kaku.


kemudian Alyn duduk di atas kursi di depan hidangan makanan.


Alyn tidak peduli dengan etika bertamu karena dia sangat lapar. Dua insan itu saling diam tak ada yang mengeluarkan suara. Suasana hening hanya terdengar dentuman sendok yang beradu dengan piring yang di gunakan Alyn untuk makan.


Tiba-tiba Iqbal mengeluarkan satu kata yang membuat hati Alyn tersentil.


"SUCI." Gerakan tangan yang digunakan Alyn untuk makan terhenti kala mendengar nama itu disebut Iqbal. Iqbaal tersenyum melihat reaksi Alyn. Membuat selera makan Alyn hilang dan mendorong mundur piring makannya.


"Habiskan." Ujar Iqbal.


"Aku tak selera makan." Jawab Alyn.

__ADS_1


"Apa perlu aku suapin seperti dulu waktu kita pacaran." Ucap Iqbal.


"Jaga ucapanmu Mas. Aku ini sudah punya suami." Ketus Alyn.


"Memangnya Apa yang kamu harapkan dari suami yang tak setia seperti Arya."


"Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku." Iqbal tersenyum kecut mendengar ucapan Alyn.


"Kemarin wanita simpanan suamimu menemuiku dan dia mengatakan segalanya. Segera setelah ini aku akan mengurus surat perceraian mu dengan Arya. Kau hanya tinggal menandatanganinya saja." Ujar Iqbal.


"Memangnya siapa kamu ikut campur dalam urusan rumah tanggaku." Ujar Alyn dengan suara lantang.


"Kamu sudah gila Mas." Ketus Alyn yang mulai tersulut emosi.


"Yah, aku memang tergila-gila padamu." Ujar Iqbal.


"Kau benar-benar sudah tidak waras mas." Ujar Alyn yang sudah kesal dengan Iqbal.


"Sejak kapan kosa katamu menjadi kasar seperti itu Alyn?" Tanya Iqbal.

__ADS_1


"Seseorang itu berubah karena dua alasan. Yang pertama karena mendapat hidayah dan yang kedua hatinya tersakiti." Ujar Alyn.


"Alyn aku masih sangat mencintaimu tidak berkurang sedikitpun."


"Ini tidak benar Mas, ini salah. Haram hukumnya bagi laki-laki yang berharap perceraian bagi saudara seimannya." Alyn berusaha menasehati Iqbal.


"Hubungan kita telah berakhir. Kita memang tidak berjodoh, aku sudah mengubur dalam-dalam hubungan kita setelah aku memutuskan untuk menikah dengan mas Arya." Lanjut Alyn yang tetap berpegang teguh pada kebenaran yang selalu di ajarkan orang tuanya.


"Tapi dia tidak setia Alyn. Aku yang selalu setia dan rela berkorban apapun demi kamu, hanya saja takdir tak berpihak padaku." Ujar Iqbal yang wajahnya mulai terlihat sendu.


"Ikhlaskanlah mas. Cinta kita sudah berakhir Mas.'' Ujar Alyn.


"Apa itu ikhlas Alyn. Aku sudah menerima kamu menikah dengan Arya tapi aku tidak tahu caranya untuk ikhlas Aku berusaha ikhlas tapi hatiku tetap sakit. Cinta tetaplah cinta walau aku berusaha menutupinya cinta tetaplah cinta. Sakit saat kamu bersamanya. Itu yang kurasakan. Walaupun aku membohongi dunia bahwa aku menerima pernikahanmu tetapi hatiku tetap sakit." Ujar Iqbal pantang menyerahnya.


"Aku sudah memaafkan Arya karena telah merebutmu dariku asal kamu bahagia, aku rela melepasmu. Tapi nyatanya suamimu telah menyakitimu begitu dalam dan aku tidak terima." Lanjut Iqbal.


"Sadar lah mas. Ini salah." Ucap Alyn yang mulai putus asa menasehati Iqbal.


"Ini tidak salah Alyn. Cinta itu butuh perjuangan." Iqbal tetap tidak mau menyerah. Dari kejauhan sudah ada mata yang mengawasi mereka sejak tadi. Air mata sudah berjatuhan sejak tadi saat mendengar perdebatan sepasang mantan kekasih tersebut.

__ADS_1


Semua perlakuan Iqbal pada Rani membuat Rani semakin hancur. Benar dugaan Rani. Iqbal akan mencampakkannya saat tahu Alyn tak bahagia.


__ADS_2