AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
HASIL KARYA ALENA


__ADS_3

Alena kebingungan memasak telur. Minyak goreng Setengah liter dia masukkan semua ke dalam penggorengan. Kemudian dia menyalakan kompor. Kalau untuk menyalakan kompor Alena bisa karena dia suka minum teh terkadang susu hangat yang ia buat sendiri.


Alena mengetok ngetokkan telur ke penggorengan yang belum panas tapi telurnya malah jatuh ke bawah. Mencoba lagi, telur malah pecah di tangan. Tiga kali mencoba tak satupun berhasil masuk ke dalam penggorengan.


"Ya ampun...Mbak Alyn kok jago masak sih....Aku Adiknya kok tidak bisa apa-apa. Manjat pohon saja seringan jatuh." Alena menggerutu sendiri.


Kemudian dia berhasil memasukkan telur itu ke penggorengan tapi beserta kulitnya.


"Aduh... Gimana nih.. Kulitnya kok ikut nyemplung sih?" Alena kebingungan sudah lima kali mencoba gagal terus.


"Ahaaa...Aku ada ide..." Alena seperti mendapat wangsit, dia mengambil mangkuk kemudian memecahkan telur itu kedalam mangkuk dan memisahkan telur dengan cangkangnya.


Kemudian Alena memasukkan telur itu ke penggorengan yang sudah mengepulkan asap sejak tadi.


"Sreeeng...."Telur itu langsung berwarna gelap. Alena melotot langsung membalik telur itu.


Alena mematikan kompornya dan mengangkat telur yang penuh dengan minyak itu tanpa di tiriskan.


"Heeemmmm.... Bentuknya sangat tidak cantik. Bagaimana kalau Om itu menghukum ku lagi." Alena memandangi telurnya yang berwarna gelap dengan wajah kecewa.


"Ini akibat tidak pernah masuk dapur bantu, waktuku banyak terbuang untuk melukis."


Alena membuka rice cooker dan lagi lagi hasilnya mengecewakan. Bukan nasi yang di buat Alena tapi bubur.


Alena berinisiatif membuat teh, mungkin dengan teh bisa mencairkan suasana seperti di iklan TV.


"Aku jago membuat teh. Semoga Om itu suka teh buatan ku dan tidak marah lagi." Gumam Alena sambil membuat teh.


***


Alena keluar dari dapur dengan membawa panci rice cooker dan telurnya yang berwarna sedikit gelap. Dia melangkah harap harap cemas takut dengan reaksi yang akan di berikan oleh suaminya.


Brayen menatap telur itu kemudian menatap Alena.


"Huuuuufffhhh... Terima kasih" Brayen menghela nafas melihat kondisi telur yang menggenaskan tersaji di atas piring. Lalu berterima kasih karena sudah berusaha memasak untuknya.


"Bisa tolong ambilkan aku satu piring lagi." Ucap Brayen.


"Iya." Alena pergi ke dapur kemudian kembali dengan membawa piring lalu ia julurkan ke Brayen.


"Terima kasih." Ucap Brayen setelah menerima piring yang ia minta. Brayen meniriskan telur yang masih penuh dengan minyak kemudian memindahkannya ke piring yang baru Alena ambil.


Tanpa berkomentar lagi Brayen mengambil nasi, lebih tepatnya bubur.

__ADS_1


Alena tercengang melihat Brayen memakan masakannya tanpa ekspresi dan tanpa komentar. Padahal Alena sendiri tidak akan mau memakannya. Alena merinding menyaksikan Brayen memakan masakannya.


"Om... Kenapa mau makan masakanku yang pasti tidak enak di makan?..."


"Aku menghargai usahamu yang membuat ini untukku. Aku yakin ini pertama kalinya kau memasak. Aku beruntung jadi orang pertama yang memakan masakanmu."


Alena merasa tertampar dengan ucapan Brayen yang bijaksana, padahal jika masakan Umi Naya tidak enak maka Alena akan menggerutu dan tidak mau menyentuhnya. Rasa kesal di hati Alena untuk Brayen tadi sedikit mereda karena ia sadar, yang di lakukan Brayen itu karena Alena lalai pada ibadahnya.


Didikan orang tuanya dan Brayen sama tetapi beda cara.


"Alena." Brayen memanggil Alena Setelah makanan di piring kandas tak tersisa.


"Ya."


"Lain kali kalau masak pakai garam." Ucapan Brayen membuat Alena semakin malu. Bisa bisanya dia lupa tidak memberi garam pada telurnya.


Kemudian Brayen menyeruput teh buatan Alena, dia terlihat menikmati.


"Teh buatan mu enak. Buatkan aku setiap pagi."


Brayen bangkit dari kursinya.


"Om mau kemana?"


"Biar aku saja Om yang ambil." Ucap Alena.


"Tidak perlu aku bisa sendiri." Kemudian Brayen beranjak pergi ke dapur.


"Huuuuufffhhh..." Brayen menghela nafas melihat dapurnya berantakan karena Alena.


"ALENA..." Brayen memanggil Alena dengan nada tinggi.


Alena menghampiri asal suara itu.


"Ada apa Om?..." Alena berdiri di ambang pintu.


"Masih bertanya ada apa! Kau lihat telur berserakan di mana mana." Brayen menatap Alena kemudian menunjuk telur yang berserakan di lantai.


"Maaf..." Ucap Alena.


"Aku tidak suka hal yang mubazir... Banyak orang yang kekurangan makanan, aku tidak ingin melihatmu membuang-buang rezeki seperti ini lagi. Apa kamu mengerti?..." Ucap Brayen dengan nada tenang namun di tekankan. Brayen mulai beranjak.


"Mengerti tuan." Ucapan Alena yang menunduk seperti pelayan membuat Brayen menghentikan langkahnya. Brayen mengangkat dagu Alena dengan telunjuknya. Mata mereka saling bertemu, Brayen mencoba mencari tahu makna dari sorot mata itu. Sepertinya gadis ini menyesal.

__ADS_1


"Kau bukan pelayanku. Kau Istriku dan aku suamimu. Apa kau mengerti?..." Ucap Brayen. Alena malah menggelengkan kepala.


"Bereskan semua ini. Aku menunggumu di meja makan." Brayen pergi tanpa menunggu jawaban dari Alena.


***


"Aku tidak ingin kau lalai dalam beribadah. Minimal 30 menit sebelum sholat wajib kau harus sudah siap."


"Mulai sekarang kau harus menutup aurat dari pandangan semua laki laki kecuali dariku. Kau juga tidak boleh berkomunikasi apa lagi dekat dengan laki laki lain. Terlepas kau suka atau tidak dengan pernikahan ini, aku tetap suamimu yang harus kau patuhi."


"Om... Memangnya siapa kamu?... Terlalu banyak mengatur hidup ku" Alena mulai emosi. Sifat pembangkangnya mulai keluar.


"Aku suamimu. Dan aku berhak atas dirimu." Ucapan Brayen membuat Alena semakin bersungut-sungut.


"Mulai nanti belajar lah memasak. Aku akan memanggil koki untuk mengajarimu. Mulai besok kau dan aku hanya akan memakan masakan mu."


"Apa?...Mana bisa aku memakan masakanku. Melihatnya saja aku mau muntah." Ujar Alena ketus.


"Braaaaakkkk..." Brayen menggebrak meja di hadapan Alena, membuat jantung Alena mau keluar dari tempatnya.


"Jangan pernah menghina makanan di hadapan ku. Apa lagi itu masakan Istriku. Mulai sekarang kau harus menjaga kosa kata mu. Jika satu kali saja mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan maka aku akan menghukummu." Tatapan tajam Brayen membuat nyali Alena yang sejak tadi naik turun kini makin menciut.


Baru sebentar saja dia hidup bersama Brayen. Dia sudah tahu bahwa apa yang di ucapkan Brayen tidak main-main. Alena bisa melihat sisi baik dan sisi buruk dari suaminya. Sisi buruk itu menguar saat ada hal buruk.


"Maaf..." Hanya itu yang bisa Alena ucapkan. Dia sedang tidak ingin memancing keributan.


"Aku akan mengurus kepindahan kuliah mu."


"Kenapa aku harus pindah kuliah, aku masih ingin tinggal bersama Umi dan Abah. Setelah Abah keluar dari rumah sakit, maka aku akan kembali ke kampung Nelayan bersama orang tua ku."


"Kau lucu sekali istriku. Mana bisa suami istri tinggalnya terpisah. Kau tidak ingat apa yang Umimu katakan. Tanggung jawabnya mengurus mu berpindah ke pundak ku. Umi juga berpesan padaku agar aku bisa membimbing mu."


Ucapan Brayen membuat Alena semakin tertekan. Rasanya dia tidak akan sanggup hidup dengan suami seperti Brayen. Dia menatap Brayen dengan pandangan tak suka.


"Jangan menatapku seperti itu. Kau yang membuat ku terjerat dalam pernikahan ini." Ucap Brayen.


"Aku akan mengadukan perbuatan mu pada orang tua ku." Ucap Alena tegas.


***


Selamat menikmati.


.

__ADS_1


__ADS_2