
"Sayang apa itu kamu? Alyn . Alyn jangan diam saja sayang. Katakan sesuatu? Kamu ada di mana? Aku sangat merindukanmu?..." Mendengar suara Arya, Alyn tidak mampu menjawab Arya. Alyn berusaha menghentikan Isak tangisnya.
"Mas." Ujar Alyn. Suara Alyn terasa seperti angin segar yang menyejukkan hati Arya. Membuat hati yang gelisah selama ini mulai tenang.
"Alyn aku sangat merindukanmu. Pulang lah.... Ngambeknya jangan lama-lama. Aku sangat mengkhawatirkan mu." Ujar Arya. Mendengar suara Arya membuat hati Alyn sedih bercampur lega. Seperti ada rasa rindu. Entahlah Alyn juga tidak mengerti perasaan apa ini.
"Mas jangan khawatir. Aku baik baik saja. Kamu tidak perlu mencemaskan aku. Dan kamu tidak perlu memberi tahu keluarga kita apa yang terjadi dengan pernikahan kita. Terutama pada Abahku di kampung Nelayan." Ucapan Alyn terpotong oleh teriakan Rani.
"IQBAAAAAAALLLL" Triak Rani memberikan kode pada Arya sebab di rasa Alyn lelet karena terbawa suasana kerinduan.
Zain menghampiri Rani dan memberikan tatapan tajam padanya. Rani berusaha sok tenang dan menantang Zain.
"Apa lihat lihat?" Ketus Rani pada Zain yang sudah ada di hadapannya.
"Jangan macam-macam denganku. Aku ini sahabat Iqbal. Kalau kau berani memukul ku , aku akan mengadukanmu padanya, maka Iqbal akan menghukummu." Ujar Rani menunjuk wajah Zain.
"Singkirkan tanganmu." Ujar Zain lalu menyingkirkan telunjuk Rani yang mengarah ke wajahnya dengan telunjuknya. Kemudian Zain melewatinya dan pergi begitu saja.
"Hanya begitu! Ku pikir dia akan memukulku." Ujar Rani lirih.
"Bagaimana? Apa suamimu bisa mendengar suaraku." Tanya Rani menatap Alyn. Pertanyaan Rani di jawab gelengan kepala oleh Alyn.
__ADS_1
"Why?...." Ujar Rani terkejut.
"Zain memutus sambungan telponnya sebelum kau berteriak menyebut nama Iqbal." Jawaban Alyn membuat Rani menepuk jidatnya Pantas saja. Zain itu sakti atau cerdas sih, sepertinya cerdaslah di benak Rani.
"Kamu itu bagaimana sih Lyn?... Dapat kesempatan emas buat lolos,,,Eeeehhh malah mewek?" Keluh Rani.
Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan khusus tersebut. Karena tidak mungkin mendapatkan kesempatan ke dua karena ruangan itu di jaga ketat dan perlu password untuk membukanya.
"Ini penjara istana Lyn. Cuma kita tahanan yang bebas jalan jalan. Hanya tak bisa keluar dari istana ini." Ujar Rani mengangumi apa pun yang di capai Iqbal. Wajah Alyn terlihat sendu tak menanggapi ocehan Rani.
Ada perasaan aneh dalam hatinya. Apalagi setelah mendengar suara Arya. Alyn sendiri bingung ini perasaan apa?
******
"Halo. Halo. Halo. Aaaahhh Sial." Arya menjambak rambutnya sendiri , geram karena frustasi dan bingung.
"Bagaimana. Apa kalian bisa melacaknya." Tanya Arya pada tim penyidik yang berusaha melacak panggilan dari Alyn.
"Maaf tuan, sambungan telepon tidak dapat di lacak." Ujar tim penyidik.
"Bagaimana bisa?" Sentak Arya yang sudah di rundung emosi.
__ADS_1
"Sepertinya ada orang yang memiliki kuasa kuat di balik istri anda. Sebab dia bisa melakukan panggilan tanpa bisa di lacak. Dia pasti menggunakan alat komunikasi yang khusus." Ujar penyidik.
"Kau benar. Bahkan hilangnya istriku tak meninggalkan jejak. Cek jalanan menuju rumah Muhammad Iqbal. Aku akan segera memberikan datanya." Ujar Arya mengutus beberapa orang kepercayaannya.
Beberapa saat kemudian hasil yang di dapat dari tim penyidik membuat Arya semakin yakin bahwa hilangnya Alyn ada hubungannya dengan Iqbal sebab di beberapa titik CCTV di sekitar kediaman Iqbal juga telah di hapus.
*****
"Mendengar dari ceritamu sepertinya suamimu benar benar tulus dan menyesal deh Lyn. Kenapa kamu tidak mau memberikan Suamimu kesempatan ke dua?..." Ujar Rani, pada Alyn yang berdiri didepan jendela.
"Aku takut suamiku akan mengulangi perselingkuhan itu lagi." Ucap Alyn mengutarakan keraguannya. Tiba tiba Alyn di buat heran dengan banyaknya deretan mobil seperti ada lamaran melaju mendekati rumah Iqbal. Apalagi dengan mobil yang memimpin, mobil itu tidak asing di mata Alyn. Seutas senyum mengembang di bibir Alyn.
"Rani lihatlah..." Alyn menunjuk mobil yang memimpin mobil mobil yang lain. "Itu mobil mas Arya." Ujar Alyn kegirangan. Rani seketika melihat arah jari telunjuk tangan Alyn .
"Alyn kenapa kamu senang sekali melihat suamimu datang?... Bukannya tadi kamu bilang nggak cinta ya. Dan kekeh minta cerai." Ujar Rani. Seketika senyum kegirangan yang sudah terlihat terbit di bibir ranum Alyn mendadak surut.
"Kamu merusak suasana hatiku saja Ran." Ujar Alyn.
"Hey jangan sia siakan kesempatan kedua seperti tadi." Ujar Rani saat melihat Arya turun dari mobilnya.
******
__ADS_1
Jangan lupa like komentar vote favorit