AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
IQBAL MERASA BERSALAH


__ADS_3

"Apa maksud anda? Katakan yang jelas?" Teriak Iqbal. Yang sudah mencengkram kerah dokter itu. Dokter hanya menggelengkan kepala dan menghampus air matanya. Kemudian berlalu pergi.


Kaki Iqbal seketika lemas tak bisa menopang badannya. Iqbal jatuh berlutut.


"Aaaaaakkhhhhhh....Raniiiiiiiii...." Teriakan Iqbal terdengar begitu pilu. Hati Iqbal hancur, seperti separuh jiwanya hilang.


Bukan hanya Iqbal yang terkejut mendengar kematian Rani. Tapi Zain juga syok karena dialah yang mengutus empat bodyguard untuk mengurung Alyn dan Rani.


Iqbal dan Zain sama-sama dihantam rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam karena mengakibatkan kematian pada gadis tak berdosa yang malang.


"Tenangkan dirimu Tuan." Zain berusaha menenangkan Iqbal.


Iqbal bangkit dan mencengkram kerah jas Zain.


"Ini semua karena kecerobohan mu Zain." Iqbal mendorong Zain hingga terseret mundur beberapa langkah ke belakang. Ucapan Iqbal semakin membuat Zain merasa bersalah dan menyesal.


Iqbal berlari memasuki ruangan Rani diikuti oleh Zain, Alyn, Arya dan Bryen. Iqbal sangat terpuruk melihat jasad Rani yang sudah ditutupi kain putih di sekujur tubuhnya.


"Rani bangun lah Ran. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, maafkan aku, aku sungguh menyesal, maaf, maaf, maaf, maaf, maafkan aku. Bangun Rani. Bangun, bangun, bangun, bangun, Aaakkkkhhhhh." Iqbal terus menggoncang jasad Rani. Iqbal terus saja menangisi jasad itu. Disaksikan oleh Zain, Arya Alyn dan Bryen.


Zain tidak pernah menyaksikan Iqbal menangis dan terpuruk seperti saat ini.


"Rani bangun lah Raaaaannn. Aku mohon." Iqbal masih mengguncang jasad Rani.


"Berhentilah menangis. Aku sudah bangun." Ujar Rani.


Iqbal terkejut mendengar suara Rani. Iqbal tercengang melihat Rani.


Rani membuka kain putih yang menutupi wajahnya.


"Kau membuat badanku tambah sakit Iqbal. Kau menggoncang tubuhku terlalu kuat. Telinga ku juga sakit karena teriakan mu." Ujar Rani yang wajahnya di buat merengut.

__ADS_1


"Ka...ka, Kau, kau, kau masih hidup." Ujar Iqbal terbata-bata menyaksikan Rani masih hidup dan dalam posisi duduk.


"Ya. Aku memang masih hidup dan tidak pernah mati. Memang apa yang kau harapkan hah?...Aku mengutuk perbuatan mu Iqbal . Gara gara kau aku hampir mati." Ketus Rani. Iqbal segera menghapus air matanya.


"Tapi dokter itu bilang...!" Ucapan Iqbal terpotong oleh sahutan Brayen.


"Tuan Iqbal.... Dokter hanya mengatakan takdir berkata lain lalu geleng-geleng kepala. Tapi tuan Iqbal mengartikan nya terlalu jauh." Ujar Brayen memotong ucapan Iqbal.


Iqbal melihat semua orang sedang menahan tawa. Zain menghadap tembok tapi bahunya bergetar karena menahan tawa. dan Brayen pun mengikuti Zain.


Alyn yang duduk di kursi roda memeluk pinggang Arya dan wajahnya ia sembunyikan di perut Arya. Tubuh Alyn juga bergetar menahan tawa. Sedangkan Arya terus membelai rambut panjang Alyn. Juga dengan senyum menahan tawa.


Iqbal kembali memasang wajah datarnya tanpa ekspresi dan terlihat bersahaja. Ia telah di permalukan dan di tipu.


"Kalian semua membodohi ku." Ujar Iqbal yang sudah kesal.


"Gitu bilangnya nggak cinta." Ujar Alyn. Yang masih menyembunyikan wajahnya di perut Arya.


"Tuan Iqbal. Nona Rani itu cantik. Apa boleh untuk saya." Tanya Brayen yang masih ingin menggoda Iqbal.


"Ambil lah. Saya tak tertarik." Jawab Iqbal singkat.


Dan Iqbal pergi keluar ruangan dengan membanting pintu.


"Huaaahahahahahahahaha......Seketika itu pula Ruangan Rani penuh dengan suara tawa lepas. Iqbal menghentikan langkahnya. Ia masih bisa mendengar gelak tawa di ruangan itu.


Zain tertawa lepas Sambil menyandarkan dahinya ke tembok. Bryen tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul tembok.


"Aku sangat terhibur." Ucap Bryen.


"Hahahhaha Ambil lah katanya. Saya Tidak tertarik. Tidak ingat tadi saat dia menangis seperti apa." Lanjut Brayen mentertawakan kebodohan Iqbal.

__ADS_1


"Hahahaha". Alyn tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Arya tak pernah menyaksikan tawa bahagia Alyn serenyah ini. Arya hanya fokus mengabadikan momen langka ini dalam ingatannya.


"Ran kau kurang lama aktingnya." Ujar Alyn.


"Hahahaha.... Aku sudah tidak tahan ingin tertawa. Apalagi dia mengguncang tubuhku dengan sangat kuat. Sumpah sakit badanku."Ujar Rani.


Arya berlutut di hadapan Alyn kemudian membelai pipi istri tercintanya itu yang duduk di kursi roda.


"Apa kau senang?..." Tanya Arya.


"Iya mas Aku sangat senang. Aku terhibur. Semoga setelah ini Iqbal bisa menyadari perasaannya pada Rani."Ucap Alyn.


"Mungkin dengan begini dia bisa menerima Rani. Dan menerima perasaan yang sesungguhnya padamu Rani." Ujar Alyn.


"Halah... aku sudah tidak tertarik dengan cintanya. Di cintai orang seperti Iqbal itu sangat menakutkan." Ujar Rani.


Entah kenapa Iqbal tidak suka mendengar Ucapan Rani. Seperti ada rasa kecewa dan tak rela. Kemudian Iqbal melangkah pergi.


"Zain kenapa kau ikut tertawa?... Dasar asisten tak setia." Ujar Rani.


Zain yang sudah menghentikan tawanya berjalan menghampiri Rani.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Bukan hanya tuan Iqbal yang syok mendengar kematian mu, akupun juga sama merasa bersalah. Karena akulah yang Mengurungmu. Mungkin yang di katakan nyonya Alyn benar. Anda sangat berarti bagi tuan Iqbal hanya saja dia tidak menyadarinya. Karena saya tidak pernah melihat tuan Iqbal terpuruk seperti itu. Melihat pernikahan tuan Arya dan nyonya Alyn saja tuan Iqbal tidak seperti itu." Ujar Zain panjang lebar.


****


Lanjut baca sampai end ya Kaka di episode 100 ada ada kisah Brayen dan gadis pecicilan. Ceritanya lebih seru dari cerita Alyn dan Arya.


YANG PENASARAN DENGAN KISAH CINTA RANI DAN IQBAL.


Berjudul CINTA GADIS OBAT NYAMUK

__ADS_1



__ADS_2