AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
CERAI


__ADS_3

Jam 23.45 WIB Brayen kembali ke rumah sakit lagi, berharap bisa menemukan Alena. Tapi yang di lihatnya hanya Umi yang tidur di atas sofa sedangkan Abah di ranjang rumah sakit.


Brayen sangat frustasi mencari keberadaan Alena, sejak tadi dia sudah mencarinya tapi tidak kunjung menemukan titik terang.


Brayen sangat mengkhawatirkan keadaan Istrinya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Alena. Brayen merutuki kebodohannya. Bisa bisanya dia membiarkan Alena pergi dalam keadaan kacau seperti itu.


"Alena, sebegitu marahnya kau padaku, sampai kau tega meninggalkan aku. Aku minta maaf, aku mengaku salah. Pulang lah." Gumam Brayen lirih di iringi ******* frustasi.


****


Hari sudah menjelang subuh, tapi Brayen tidak bisa memejamkan mata. Brayen berjalan mondar mandir kesana-kemari menghubungi satu persatu seseorang untuk di mintai bantuan. Tapi mereka semua angkat tangan, karena tidak menemukan jejak apapun.


Harusnya mudah bagi Brayen memecahkan teka-teki ini. Namun pikirannya yang kalut tidak bisa membuatnya fokus untuk berpikir real. Saat mencoba menerka nerka di mana keberadaan Alena, malah tawa riang Alena yang muncul, tapi kini tawa itu telah lenyap.


Walaupun Brayen selalu kasar tapi Alena tidak pernah menangis. Air mata Alena hanya jatuh saat akan menikah dengannya dan saat Brayen hendak menamparnya di hadapan Suci. Alena adalah gadis kuat yang selalu riang gembira, berada dekat Alena membuatnya merasa nyaman.


Rasa bersalah makin menyeruak dalam benak Brayen. Sedikit demi sedikit Alena sudah mulai berubah jadi gadis yang manis. Tapi Brayen masih saja merasa kurang. Brayen terlalu menuntut Alena untuk jadi gadis yang sempurna tapi dirinya sendiri adalah suami yang buruk dan ringan tangan.


"Aku rindu gadis periang itu." Ujar Brayen kemudian duduk di pinggir ranjang dan meraup wajahnya dengan kasar. Kini baru terasa bahwa kehadiran Alena sangat berarti bagi Brayen.


Brayen sendiri bingung akan mengatakan apa pada keluarga, jika Alena tak kunjung di temukan.


"Pulang lah Istriku..."


***


Sudah 3 hari Alena menghilang dan selama itu pula tak henti hentinya Brayen mencari Alena, sampai Brayen mengecek sendiri rekaman CCTV dan berulang ulang melihatnya untuk memastikan di mana keberadaan Alena. Semakin lama Alena menghilang semakin gelisah pula Brayen.


"Ini tidak masuk akal, kenapa tiba-tiba rekaman CCTV cafe di hapus. Dan rekaman CCTV jalanan kosong." Brayen mencoba untuk fokus, siapa dalang dari semua ini. Brayen mencoba mengingat hal kecil apapun sebelum Alena menghilang.


"Nah...Aku tau...Kau pasti dalangnya." Brayen menepuk tangannya seperti mendapat wangsit. Setelah menemukan titik terang Brayen bergegas pergi.


***


"Tikutik kutik Kutik...." Alena mengunyel ngunyel pipi Hafsah dan Raffasa. Dan mencium pipi kenyal mereka bertubi-tubi.


"Dek...Jangan di gituin, nanti mereka nggak doyan makan."


"Halah mbak...Hari gini masih percaya takhayul."


"Kamu tuh ya kalau di kasih tau mesti ngeyel... Itu si bayi twins mana bisa tidur kalau tantenya colek colek dari tadi."


"Abisnya mereka lucu sih mbak, ngegemesin."


"Kamu bikin anak sendiri sana sama suamimu, jangan anaknya mbak di unyel unyel."


"Nggak mau mbak...Akunya mau cerai saja..."

__ADS_1


"Huuussss kamu itu jangan dikit dikit minta cerai. Nggak baik dek...."


"Ngomong sih gampang mbak....Mbak Alyn mah enak punya suami ganteng, sabar, super baik... Pokoknya mas Arya is the best..."


"Kamu belum tahu aja apa yang mbak alami dulu."


"Dek kayaknya masakan kamu udah matang deh!..."


"Belum kak... Kurang 5 menit nih..." Alena menunjukkan jam tangannya pada Alyn.


"Oh..."


"Makasih ya mbak...Udah ajarin aku masak." Selama 3 hari ini Alena mati matian belajar memasak dengan Alyn dan bi Ijah. Untuk pembuktian bahwa dirinya bisa jadi gadis mandiri dan tidak manja.


"Iya sama sama.... Emmm....Dek lebih baik kamu temui suami kamu, minta penjelasan. Jangan grusa grusu ambil keputusan."


"Nggak.... Keputusanku sudah final."


"Dek gini ya... Aku akui suamimu memang salah tidak menghiraukan perasaanmu, tapi mas Arya bilang kalau suamimu sudah mati matian nyariin kamu selama tiga hari ini loh..."


"Dia sangat kesulitan nyariin kamu karena mas Arya udah menghapus semua jejak kamu dari tiap CCTV. Mas Arya udah ngasih suamimu pelajaran yang cukup. Sekarang giliran kamu bicara dari hati ke hati dengan suamimu, maunya hubungan kalian di bawa kemana. Tuntaskan sekarang juga biar jelas."


"Kalau kamu lihat dari sudut pandang ku, kamu juga salah dik. Mungkin suamimu refleks pegang pinggang tuh perempuan pas dia hampir jatuh. Kamu tau kan kalau orang refleks apapun jadi pegangan...."


"Tiba tiba kamu dorong orang yang baru melahirkan. Kamu bilang bayinya yang di gendong suamimu masih merah kan, mungkin baru umur beberapa hari.... Pergerakan ibu yang baru melahirkan itu harus di jaga. Kamu tahu kan bahayanya terjatuh bagi perempuan yang baru melahirkan?..."


"Terus bagaimana kalau bayi yang di gendong suamimu ikut terjatuh saat suamimu berusaha menolong perempuan yang sudah hampir roboh ke lantai. Mungkin sudut pandang mbak Sama Kak Brayen sama."


"Mbak nyalahin aku... Bukan siapa-siapa Kok mesra gitu."Ucap Alena merengut.


"Sayang apa kau tahu siapa wanita yang di tolong oleh Brayen?..." Ujar Arya yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Siapa Mas?..."


"Suci..."


"Oh..." Wajah Alyn berubah muram.


"Terserah kamu saja lah dik... Mbak mau ke toilet dulu." Lanjut Alyn kemudian turun dari ranjang dan masuk kamar mandi.


"Suci itu siapa kak?..."


"Mantan pacarku..."


"Oh...Pantas Mbak Alyn cemburu."


"Ya sudah kamu jaga ponakan mu dulu. Aku mau mandi."

__ADS_1


"Siap bos..." Ucap Alena sambil menggerakkan tangannya memberi hormat. Kemudian Arya pergi.


FLASH BACK ON.


Saat Brayen bertanya keberadaan Alena pada Arya. Arya sudah merasa ada hal yang mencurigakan yang di tutup tutupi oleh Brayen.


Mendadak Alena pamit pulang lewat pesan pada Arya tanpa pamit pada kedua orangtuanya.


Di tambah lagi dengan Brayen yang tiba-tiba datang mencari Alena sedangkan kata Alena mereka berangkat bersama.


Apalagi Alena pamit sebentar untuk mencari Brayen dan mendadak Alena pamit untuk pulang.


Benar benar aneh menurut Arya. Arya meminta rekaman CCTV rumah sakit. Arya geram saat melihat Brayen hendak menampar Alena. Di tempat umum Brayen berani seperti itu apalagi di rumahnya. Apa sebelum bertindak kasar pada Alena dia tidak melihat siapa Alena(Adik dari istri Arya.) Padahal Arya sudah memperingatkan pada Brayen untuk tidak melukai Alena.


Arya sendiri lah yang menjemput Alena di depan Cafe BINTANG BERPIJAR saat ada pemuda yang hendak PDKT dengan Alena.


Namun sebelum itu Arya meminta pemilik Cafe untuk menghampus rekaman CCTV untuk hari ini, dengan uang tentunya semua bisa terkabul.


Untuk CCTV jalan, Arya juga pelakunya. Arya ingin memberi Brayen pelajaran.


FLASH BACK OFF


***


"Aku tahu Alena ada bersamamu." Ucap Brayen. Arya hanya tersenyum.


"Lalu." Ucap Arya beberapa saat kemudian.


"Aku akan membawanya pulang."


"Untuk apa?... Untuk menyakiti Alena lagi?..."


"Dia istriku. Sudah seharusnya dia pulang bersama ku." Ucap Brayen yang sebenarnya kesal pada Arya. Bisa bisanya dia menyembunyikan Alena darinya.


"Dari awal aku sudah memperingatkan mu saudaraku, agar tak melukai Alena." Ucap Arya.


"Jika kamu menolak pernikahan ini, tidak perlu menyiksa anak orang. Kembalikan saja dia pada orang tuanya. Aku rasa MERTUA KITA lebih bisa menahan rasa malu dari pada menahan siksaan pada putrinya. Ceraikan Alena." Ujar Arya menekankan kata MERTUA KITA supaya Brayen sadar hubungan apa yang mereka jalin, rusak satu bukankah rusak semua.


"Siapa kau ikut campur urusan rumah tangga ku?..." Bentak Brayen karena kesal pada ucapan terakhir Arya.


"AKU KAKAK IPAR ALENA. Dan untuk perceraian Alena yang memintanya. Dia tidak tahan punya suami diktator."


***


Untuk pembaca setia ku yang belum VOTE tolong di VOTE.


Yang belum FAVORIT tolong di Favorit dulu.

__ADS_1


Like nya jangan di lewati ya gaeeeessss.... Dukungan kalian sangat berarti untuk ku.


SELAMAT MENIKMATI.


__ADS_2