AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
MASALAH PEMBALUT


__ADS_3

"Apes banget sih, udah menstruasi nggak ada pembalut, eh malah mergokin Mbak Alyn sama Kak Arya bercumbu, mau minta bantuan Mbak Alyn malu, Apalagi kalau harus bertemu dengan kak Arya." Kemudian Alena keluar dari kamar. Alena melangkah menuju kamar Bi Ijah.


"Tok tok tok..." Alena mengetuk pintu kamar Bi Ijah. Kejadian saat membuka kamar Arya tanpa mengetuk pintu sudah menjadi pelajaran besar bagi Alena. Tak lama kemudian Bi Ijah membuka pintu kamar. Alena langsung menyambutnya dengan senyuman.


"Bi, punya pembalut nggak?..."


"Maaf Non, tidak punya. Bibi Sudah lama tidak menstruasi." Jawab Bi Ijah.


"Oh ya sudah Bi, terima kasih." Alena mulai beranjak pergi.


"Coba tanya sama Nona Alyn, siapa tahu dia punya." Bi Ijah mengusulkan. Alena menoleh lalu mengangguk." Iya Bi." Ucap Alena.


***


Kemudian Alena pergi ke kamar Siti dan danur, pelayan wanita yang bekerja di rumah Arya.


"Tok tok tok..."


"Eh Non Alena, Ada apa Non pagi-pagi begini datang kemari Apa ada yang bisa saya bantu?..." Ucap Siti yang membuka pintu kamar.


"Mbak punya pembalut nggak?"


"Maaf Non, saya tidak punya nya." Jawab Siti.


"Nur Apa kamu punya pembalut" Siti bertanya pada danur.


"Maaf, saya juga tidak punya Non." Jawab Danur.


"Oh ya sudah terima kasih kalau begitu saya permisi" Ucap Alena.


Kemudian Alena berjalan hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba ia melihat Arya keluar dari kamar, Alena pun mundur dan langsung bersembunyi di dalam kamar yang paling dekat dengan dirinya. Ia masih belum siap untuk bertemu dengan Arya karena merasa sungkan pasca kecerobohannya tadi.


"Alena Kau kenapa?" Alena dikejutkan dengan suara Brayen yang tiba-tiba muncul di belakangnya setelah Alena menutup pintu. Alena langsung berbalik menghadap Brayen.


Bukannya menjawab, Alena malah menunduk malu, dia menggaruk lantai dengan kakinya yang saling mengapit rapat takut cairan merah itu menetes, hal itu tidak luput dari pandangan Brayen.


"Apa kamu punya masalah? Coba ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu." Ucap Brayen dengan nada lembut. Alena sangat malu. Bagaimana bisa Alena membicarakan masalahnya pada Brayen, masalah pertama memergoki Alyn dan Arya bercumbu, masalah Kedua pembalut urusan kewanitaan.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Brayen, Alena malah membuat jari telunjuk kiri dan kanannya saling menusuk-nusuk(Saling beradu). Brayen mengernyitkan dahinya melihat tingkah Alena.


Alena langsung berlari memasuki kamar mandi yang berada di kamar Brayen karena merasa ada yang mengalir di pahanya.


***


"Ya ampun... Gimana nih? Masa' minta bantuan sama Om Brayen sih, aku kan malu. Masa' minta bantuan sama laki-laki untuk urusan ini." Alena mengeluh di dalam kamar mandi.


"Tok tok tok..." Brayen mengetuk pintu kamar mandi karena merasa ada yang aneh dengan sikap Alena.


"Alena Tolong buka pintunya Kau kenapa? Katakan sesuatu mungkin aku bisa membantu. Jangan membuatku khawatir."


"Aku tidak kenapa-napa Om." Sahut Alena dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Apa kau yakin." Tidak terdengar sahutan dari dalam ada kamar mandi.


Alena nampak berpikir 1000 kali untuk mengutarakan isi unek-unek di hatinya.


"Alena." Brayen memanggil Alena lagi.


"Om Uuummmm eeeeemmm...Ck, Sebenarnya aku sedang datang bulan." Akhirnya keluar juga kata itu.


"Lalu apa masalahnya?..."


"Aku tidak punya pembalut."


"Apa itu pembalut?..." Brayen bertanya serius karena dia benar-benar tidak tahu bentuknya dan kegunaannya.


Alena yang di berada di dalam kamar mandi menepuk jidatnya, Ingin rasanya dia menangis. Mau menjelaskan bagaimana? Mengutarakan kata pembalut saja dia sudah malu apalagi menjelaskannya.


"Tidak usah dibahas lagi Om, terima kasih."


"Alena jelaskan apa itu pembalut?..." Brayen kembali bertanya namun tidak mendapat sahutan. Brayen pun tidak memaksa Alena untuk menjelaskan.


Kemudian Brayen mengambil hp-nya dan browsing di internet tentang pembalut. Akhirnya Brayen mengerti kenapa Alena enggan mengatakannya.


"Alena tunggu di sini sebentar, tidak lama lagi aku akan datang membawa pembalut untukmu."


"Iya." Jawab Alena.


"Kau mau aku membeli pembalut yang bersayap atau yang tidak bersayap?..." Pertanyaan Brayen semakin membuat wajah Alena memerah.


"Terserah Om apa saja."


"Terserah Om apa saja."


"Kamu mau yang yang bermerek apa?"


"Terserah Om apa saja."


"Kamu mau yang biasa atau yang mengandung ekstrak daun sirih."


"TERSERAH OM APA SAJAAAA" Alena yang kesal bercampur malu akhirnya berteriak kesal pada Brayen yang terlalu banyak bertanya mengenai hal itu.


"Kalau dia mengerti apa itu pembalut Kenapa dia masih bertanya padaku? Bikin aku tambah malu saja."


Tak lama kemudian Brayen datang membawa 2 kantong kresek besar yang berisi pembalut dengan berbagai merk.


"Tok tok tok tok... Alena buka pintunya." Brayen mengetuk pintu kamar mandi, kemudian pintu kamar mandi terbuka. Alena terkejut melihat dua kantong kresek besar yang dibawa Brayen. Brayen langsung memberikan dua kantong kresek besar itu pada Alena.


"Ini kamu pilih sendiri. Aku tidak tahu mana yang cocok untukmu." Ucap Brayen. Hal itu membuat Alena semakin malu.


***


Beberapa saat kemudian Alena keluar dari kamar mandi, dia menghampiri Brayen yang sedang rebahan di atas tempat tidur sambil memainkan HP. Alena duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Om." Alena memanggil Brayen dan Brayen pun menoleh pada Alena.


"Apa?" Brayen bertanya pada Alena.


"Kapan kita pulang?" Brayen sangat senang mendengar ucapan Alena yang sudah seperti angin segar dari surga.


"Apa aku tidak salah dengar?" Ucapan Brayen yang dibalas anggukan kepala oleh Alena. Brayen pun langsung terduduk, dia menatap punggung Alena.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis ini kenapa sampai dia berubah drastis seperti saat ini?..."


"Kapanpun kamu mau kita bisa pulang. Sekarang pun kita bisa pulang." Ucap Brayen.


"Aku pengen kita pulang sekarang Om." Ucap Alena dengan wajah sendu, sebenarnya dia enggan untuk pulang bersama Brayen tapi karena merasa sungkan dengan Alyn dan Arya karena sudah merepotkan nya begitu jauh, apalagi dengan kejadian tadi. Pulang ke Kampung Nelayan pun tidak mungkin, sebab itu akan memperburuk kesehatan Abah.


Sedikit banyak ucapan Brayen dan nasehatnya cukup mengurangi keegoisan Alena.


***


Kemudian Alena menghampiri Alyn yang sedang membersihkan botol susu baby twins di dapur.


"Mbak..." Alyn terperanjat kaget mendengar suara Alena. Wajah Alyn bersemu merah melihat Alena. Alyn masih merasa malu atas kejadian tadi.


"Iya dek, ada apa?" Keduanya sama-sama enggan membahas masalah di kamar tadi, keduanya sama-sama canggung.


"Aku mau pamit pulang sekarang Mbak."


"lho kok buru-buru sih dik."


"Iya mbak. Kak Arya mana? Aku juga mau pamit sama Kak Arya."


"Mas Arya sudah berangkat ke kantor tadi."


"Deg." Jantung Alena berdenyut. "Tidak seperti biasanya Kak Arya berangkat sangat pagi, biasanya dia akan berangkat kurang lebih pukul 7 dan ini masih belum jam 6 pagi, Kak Arya sudah berangkat ke kantor."


"Titip salam saja buat kak Arya Mbak. Ya kalau gitu aku pamit pulang. Om Brayen sudah menungguku di luar." Kemudian Alena mengecup punggung tangan Alyn.


"Maaf ya mbak, kalau aku punya salah."


"Iya sama-sama dik. Mbak juga minta maaf kalau mbak punya salah."


***


Di dalam mobil Brayen sesekali melirik Alena. Gadis itu tidak seceria biasanya, wajah itu terlihat begitu sendu. Brayen penasaran tentang apa yang sudah dia alami.


"Alena kau kenapa?"


"Aku tidak apa-apa."


"Kenapa wajahmu terlihat sedih"


"Aku memang sudah bersedih semenjak menjadi istrimu Om." Hati Brayen terasa di tampar mendengar penuturan dari Alena.

__ADS_1


***


Jangan lupa dukung author pake Like komentar vote favorit karena dukungan kecil kalian sangat berarti untuk ku.


__ADS_2