AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
GELANG YANG CANTIK


__ADS_3

"Apa sih Bang...Aku tidak sakit." Alena menyingkirkan tangan Brayen dari dahinya.


"Ayo tidur, sudah malam."


"Aku tidak mau tidur." Ucap Alena menolak.


"Lalu kamu mau ngapain?"


"Mau di enggak enggak..."


"Kamu ngomong apa sih Alena?"


"Aku mau main."


"Besok lagi kalau mau main tebak tebakan."


"Aku nggak mau main tebak-tebakan tapi aku mau main kuda-kudaan."


"Hahahaha kamu ngomong apa sih Alena. Aku tidak mengerti?"


"Iiiiiihhhhh Abang loh ngerti maksud ku."


"Hahaha gantian emang enak di tolak." Brayen membatin.


"Aku tidak mengerti...Jelasin." Ucap Brayen pura pura bodoh.


"Masa'sih Abang nggak ngerti?"


"NGGAK NGERTI." Ucapan Brayen di tekankan.


"Awas bego' beneran loh Bang."


"Hahahaha Aku ngantuk Huaaamm mau tidur." Ucap Brayen sambil menguap lalu merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang sementara Alena yang bibirnya mengerucut seperti Piramida masih menungganginya.


"Iiiiiihhhhh Abaaaang..." Alena mengguncang dada bidang Brayen.


"Aku tidak akan memaksa mu. Ayo tidurlah."


"Tapi aku yang maksa Abang."


"Kamu kesambet apa Alena?"


"Kesambet pucuk....Abang mau Iya iyain aku nggak?..." Tubuh Brayen bergetar karena tertawa.


"Tadi bilang di Enggak enggak sekarang iya iyain."


"Abang mau nggak?"


"Nggak mau."


"Kenapa?...Mau jajan sembarangan ya?"


"Aku tidak mau memperkosa mu, Aku tidak mau kalau kamu nangis."


"Jadi Abang tetap tidak mau?"


"Iya"


"Aku malu loh Bang menawarkan diri terus dari tadi tapi di tolak terus."


"Kamu pikir aku tidak malu apa! Setiap meminta hakku kamu selalu menolak. Kenapa kamu mendadak berubah begini?..."

__ADS_1


Hati Alena merasa tertohok karena ucapan Brayen. Alena menundukkan kepalanya malu, setiap Brayen meminta haknya dia selalu menolak dengan alasan sakit. Sedangkan Alena hanya begini saja sudah sangat malu.


"Waktu itu aku nolak karena benar benar sakit. Tadi aku nolak karena masih takut tapi sekarang Aku lebih takut Abang jajan sembarangan." Ucap Alena dengan suara lirih.


"Aku tidak akan menduakan mu. Tidak akan pernah. Entah di sebut apa perasaan ini. Tapi aku merasa nyaman di dekatmu dan sedih saat jauh dari mu. Bersamamu aku merasa seperti kembali muda. Hahahaha tiap hari senam wajah karena tingkah mu yang aneh." Ucap Brayen sambil tertawa.


Hari hari Brayen terasa lebih berwarna semenjak kehadiran Alena. Hari hari sepi yang biasa ia lalui sudah tak ada lagi semenjak memperistri Alena. Istrinya yang aneh dan telmi selalu bisa menghibur dan membuatnya tertawa.


"Kalau mau melayani suami jangan dengan alasan karena takut pelakor tapi niatkan ibadah. Kalau kamu tidak siap, aku tidak akan melakukannya."


"Aku siap Bang. Mulai sekarang kapan pun Abang minta, aku siap melayani Abang." Ucap Alena dengan yakin. Brayen tersenyum mendengar jawaban Alena.


"Ambillah whudu' dulu. Setelah sholat baru kita menikmati surga dunia."


Setelah selesai sholat dan berdoa, mereka mulai melakukan ibadah suami istri.


"Masih sakit?" Brayen bertanya dengan suara parau.


"Enak." Jawab Alena menggelengkan kepalanya.


***


4 jam kemudian...


"Abang bangun." Brayen hanya menggeliat saat Alena membangunkannya.


"Abaaaang...." Alena mengguncang dada Brayen.


"Apa sih Alena?" Mata Brayen masih tertutup.


"Main lagi yuk..."


"Main Apa?..."


"Besok saja ya...Besok pagi, sekarang aku sangat lelah dan ngantuk."


"Tapi aku pengennya sekarang Abang."


"Kamu main sendiri ya. Main solo." Kemudian Brayen tidur lagi.


BAYANGKAN SENDIRI


***


Satu Minggu kemudian.


Setelah Alena mandi dia memasuki ruang ganti dia membuka lemari dan menarik baju paling bawah. Alena tak sengaja menjatuhkan kotak perhiasan berwarna merah.


Alena mengambil kotak itu dan membukanya, ternyata isi di dalam kotak itu adalah gelang emas yang sangat cantik, terdapat batu Ruby kecil berwarna merah di sekelilingnya.


"Wah cantik sekali gelangnya, pasti ini kejutan dari Abang Brayen buat aku." Alena kemudian memasangnya tanpa seizin dari Brayen.


***


"Alena sudah siap..." Ucap Brayen yang hanya memunculkan kepalanya pintu.


"Siap Bang."Jawab Alena kemudian dia menyelempangkan tasnya di bahu. Alena pun keluar dari kamar, dia berangkat kuliah diantar oleh Brayen.


"Bang mampir ke toko alat lukis dong." Ucap Alena di dalam mobil.


"Kamu mau beli apa?"

__ADS_1


"Cat untuk aku melukis habis Abang."


"Oh..." Brayen hanya manggut-manggut.


Mobil Brayen kini memasuki area parkir di depan toko perlengkapan kesenian atau melukis.


"Kamu belanja sendiri ya, aku tunggu di dalam mobil." Ucap Brayen.


"Iya." Alena membuka pintu kemudian turun dari mobil. Alena berjalan memasuki toko perlengkapan alat-alat kesenian.


Alena memilih perlengkapan untuk tugas kuliahnya. Setelah itu dia membayar pada kasir.


Alena menghampiri Brayen yang sedang menyesap rokok di dalam mobil. Alena memberikan semua perlengkapan yang ia beli kepada Brayen.


"Abang Aku mau ke supermarket sebentar ya."


"Iya."


Alena pergi ke supermarket yang berada di sebelah toko perlengkapan melukis.


Alena mengambil cemilan kemudian dia juga berbelanja bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari agar nanti sepulang kuliah dia tidak perlu lagi mampir ke supermarket untuk belanja, sekalian saja menurut Alena.


"Maaf, maaf Bu, saya tidak sengaja." Ucap Alena saat dia tak sengaja menubruk perempuan berbaju syar'i serba hitam, dia juga mengenakan cadar.


Alena membantu wanita itu memunguti barang belanjaannya yang terjatuh. Saat Alena memunguti belanjaan wanita itu, tiba tiba wanita itu mencekal tangan Alena. Membuat Alena terkejut dan langsung menatapnya.


Wanita itu memperhatikan gelang yang dipakai oleh Alena dengan seksama, wanita itu kemudian menatap Lekat-lekat wajah Alena.


"Nona gelang Anda sangat bagus dari mana anda mendapatkannya?" Ucap wanita bercadar itu.


"OH ini... Ini milik suamiku."


"Suami?" Wanita itu mengulang perkataan Alena.


"Iya suamiku."


"Nak kalau boleh tahu siapa nama suamimu?"


"Brayen."


"Saya mohon, apapun yang terjadi lepaskan gelang ini dan jangan sekali-kali kamu memakai dan memamerkan gelang ini."Ucap wanita bercadar itu.


"Kenapa?" Alena bertanya ini sangat aneh, dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu tapi kenapa wanita itu berbicara seperti itu.


Alena menatap lekat mata wanita itu. Hanya mata yang bisa Alena lihat sebab wanita itu menutup semua tubuhnya, termasuk wajahnya dengan cadar. Mata itu Alena seperti pernah melihatnya. Mata itu mirip sekali dengan mata Brayen, berwarna biru tua.


Bukannya menjawab pertanyaan Alena, wanita itu malah pergi dengan langkah cepat dan keluar dari supermarket dengan membawa belanjaan nya.


"Aneh... Siapa wanita itu?... Memangnya kenapa dengan gelang yang kupakai? Bagus begini. Kenapa dia melarang aku memakainya?..."


***


Brayen memperhatikan wanita yang mengenakan baju syar'i serba hitam dan memakai cadar. Walaupun memakai cadar dilihat dari sudut manapun, wanita itu pasti sedang menangis karena tangannya terus mengusap matanya. Wanita itu berjalan dengan langkah cepat.


Brayen beralih melihat Alena yang baru saja keluar dari supermarket.


Alena menghampiri mobil Brayen membuka pintu mobil kemudian masuk.


"Abang aneh deh, tadi aku tidak sengaja menabrak perempuan dia mengenakan baju syar'i dan bercadar, terus dia melihat gelang yang kupakai ini. Dan dia melarangku memakai gelang ini." Ucap Alena yang sudah duduk disamping Brayen, dia menunjukkan gelang yang ia pakai pada Brayen.


"Siapa yang mengizinkan memakai gelang ini Alena?" Ucap Brayen dengan tegas.

__ADS_1


***


Selamat menikmati jangan lupa dukungannya untuk Authoor receh ini oke oke oke....


__ADS_2