AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PROMOSI NOVEL


__ADS_3

Judul MR.Arrogant



Namaku Nadine Sakhi Albiru, orang-orang biasa memanggilku Nadine. Aku tinggal di Jawa timur, kota Bangil. Dekat dengan wilayah pondok pesantren Sidogiri.


Aku nekat merantau ke Jakarta berbekal beasiswa yang ku dapat untuk mengenyam pendidikan di universitas xxx, Jakarta. Berharap suatu saat nanti bisa memperbaiki perekonomian keluarga.


Di Jakarta aku akan tinggal bersama dengan bibiku, di rumah majikannya yang bernama Tuan Iqbal. Aku sangat beruntung majikan bibiku yang baik hati mengizinkan ku untuk tinggal di rumahnya. Semoga di lipat gandakan pahalanya.


"Jakarta, I am coming...." Baru turun dari terminal bus. Berdiri di pinggir jalan.


"Zleeeeep....."


"Jambreeeettt.... Jambreeeettt.... Jambreeeettt..." Ah sial, baru beberapa langkah keluar dari terminal bus aku sudah kejambretan, dua pria berboncengan mengendarai sepeda motor merampas tas yang bertengger di bahuku.


Teriakanku tidak mampu mengembalikan tas yang berisi HP dan semua uangku. Barang ku raib, beruntung berkas penting masih terselamatkan di dalam ranselku.


"Hah, hah, hah...." Nafasku, masih ngos-ngosan setelah mengejar penjambret tersebut.


"Sial, sial, sial..."


Ku tatap kaleng bekas yang teronggok tak berdaya di atas jalan beraspal. Ku tendang sekuat tenaga untuk meluapkan emosi yang menggelar di hatiku.


"Braaaaakkkk..." Oh sial ku berlipat ganda, tendangan kalengku mengenai kepala pengemudi jalan hingga mobilnya menabrak dinding.


Sang pengemudi memarahiku, dan meminta ganti rugi padaku. Sial ku tak tanggung-tanggung, belum 1 jam menginjakkan kaki di Jakarta, aku sudah terlilit hutang 10 juta akibat insiden tendang kaleng.


"Kak, apa itu?..." Pengemudi itu menoleh kebelakang. Saat ia lengah, aku kabur lari terbirit-birit secepat kilat. Mana aku punya uang sebanyak itu. Aku pasti akan mengganti kerugiannya tapi tak secepat ini. Apa lagi dia mengancam akan menjebloskan ku ke penjara, ya kabur saja karena aku tidak mau jadi napi.


Setelah perjuangan panjang, malam hari aku baru sampai dengan selamat di rumah majikan bibiku.


***


Keesokan harinya Bi Ijah menyuruhku mengantarkan kopi ke ruang tamu untuk di berikan pada asisten pribadi tuan Iqbal, namanya Zain.


Aku terkejut....Ternyata yang duduk di sofa ruang tamu adalah sang pengemudi mobil yang menabrak dinding hingga ringsek karena insiden tendang kaleng. Dia adalah asisten pribadi sekaligus supir majikan bibiku. Aku segera pergi ke kamar untuk mengambil masker. Kemudian aku kembali ke ruang tamu untuk menyajikan teh panas di hadapannya dengan tangan gemetaran.


"Terima kasih." Ucapnya. Namun aku tidak menjawab. Setelah itu aku berbalik. Baru saja kakiku melangkah, dia sudah mengeluarkan taringnya.


"Apa kau tidak bisa bicara?..." ucapannya tegas, membuatku terperanjat.


"Bisa Tuan." Sahutku.


"Apa kau bisa bersikap sopan! Begini kah caramu berbicara dengan orang?..."


"Huuuuufffhhh, cerewet sekali." Aku menggerutu dalam hati.


"Maaf Tuan, saya bisa bicara." Ucapku setelah berbalik. Dia malah menatapku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak menjawab ucapan ku."


"Maaf saya sedang sariawan." Sergahku cepat.


"Sepertinya aku pernah melihat mu!!..." Dia menatapku dengan intens.


Aku mulai gelisah ketika dia mulai mendekatiku.


"Buka masker mu." Selorohnya.


"Deg..." Aku gugup "Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk, Saya Flu, takut anda tertular."


"Pergilah..."Dia meringis jijik.


Ah, selamat....Aku pun segera pergi.


***


Keesokan harinya aku keluar dari rumah tuan Iqbal, hendak pergi ke kampus baruku untuk mengikuti OSPEK. Langkahku terhenti di samping mobil mewah.


Aku bercermin di kaca jendela mobil yang gelap. Mematut diri, merapikan bedak di wajah dan merapikan kuncir rambut yang di ikat di kedua sisi Seperti anak TK dengan pita warna merah yang melilit di rambut yang di kuncir.


"Sreeeettt...." Tiba tiba kaca jendela mobil terbuka, aku terperangah, terkejut ternyata ada kak Zain menatap ku tajam dari dalam mobil.


Aku berlari cepat hendak kabur tapi aku malah terjerembab jatuh.


Ku lihat kak Zain keluar dari mobil menghampiri ku. Aku hendak kabur tapi kak Zain keburu menjambak rambutku. Membuat langkah ku terhenti.


"Mau kabur lagi?...."


"Aku nggak kabur kak...."


"Nggak kabur tapi melarikan diri, itu sama saja."


"Aku nggak akan melarikan diri kak, aku cuma kaget, terkejut dan bingung. Aku nggak akan kabur, aku akan tanggung jawab. Lepasin rambutku kak. Aku harus segera pergi ke kampus. Nanti aku bisa telat dan di hukum.''


Aku sangat gugup, aku takut dia akan menjebloskan ku ke penjara seperti ancamannya waktu itu.


Kak Zain menyeretku dan memasukkan ku ke dalam mobil. Kak Zain pun segera memasuki mobil dan secepat kilat mengunci pintu mobil tersebut. Membuat ku tak bisa kabur lagi.


Aku berusaha membuka pintu mobil namun pintu tidak bisa terbuka, membuatku semakin di dera rasa takut.


"Kakak mau ngapain?..."


"Mana tas mu." Kak Zain menjarah tasku.


"Buat apa kak?...."


"Buat jaminan supaya kamu tidak kabur lagi." Dia pun menggeledah tasku.

__ADS_1


"Jangan kak" Kami pun saling berebut tasku, Kak Zain tetap menggeledah isi tasku.


"KAKAK, puas..." Wajahku bersemu merah saat kak Zain memegang dan mengeluarkan pembalut wanita milikku. Dia malah melempar pembalut itu ke wajahku, membuatku semakin malu.


Dia mengambil dompetku, di dalamnya hanya ada uang Rp.20.000, itu pun pemberian dari Bi Ijah.


"Sekarang, apa bentuk pertanggungjawaban mu padaku." Dia menatapku tajam.


"Aku akan usaha cari uang, tapi tidak sekarang. Aku belum punya uang."


"KTP mu ku sita sampai kau bisa melunasi hutang mu." Dia membuka kunci pintu mobil. "Sekarang keluar lah."


"Nyebelin, sekarang main ngusir seenak jidatnya." Aku menggerutu kesal.


"Kamu bicara apa?..."


"Aku bilang kakak baik hati."


"Sudah cepat sana keluar."


Aku berusaha membuka pintu tapi pintu itu tidak bisa terbuka seolah-olah sedang macet. Dia berusaha membantu membuka pintu yang memang macet, hingga membuat jarak kami begitu dekat, membuatku menutup mata dan menahan nafas saat aroma tubuhnya yang harum menerobos masuk ke dalam Indra penciumanku. Sungguh aroma yang memabukkan.


"Heh, kalian berdua sedang apa?..." Saat pintu berhasil di buka, Kak Rani sudah berdiri di samping tuan Iqbal. Mereka berdua terkejut melihat posisi kami yang begitu dekat. Refleks aku mendorong kak Zain hingga tulang rusuknya terbentur bagian depan mobil.


"Sialan kau." Kak Zain membentakku Karena dia kesakitan.


"Kakak jangan curi curi kesempatan dong." Ketusku yang tak kalah kesal, sialnya dia malah menyentil dahiku.


"Aaakkkkhhhhh sakit kak." Aku merengek sambil menggosok dahinya. Namun kak Zain tak peduli.


"Zain." Tuan Iqbal menatap kak Zain dengan tajam, sebab tak suka dia bersikap kasar padaku karena aku keponakan Bi Ijah ART yang di hormati tuan Iqbal, karena sudah lama mengabdikan hidup padanya.


"Maaf Tuan." Ucap kak Zain.


Aku pun keluar dari mobil dengan wajah bersungut-sungut.


"Hey, mau kemana?... Mending berangkat bareng kami ke kampusnya. Toh jalannya searah dengan kantor Suamiku." Kak Rani, istri dari tuan Iqbal menahan tanganku. Kak, Rani sangat baik, dia bahkan menyuruhku memanggilnya kakak dan bukan Nyonya.


"Nggak usah kak, aku naik angkot saja."


"Nanti telat loh kalau naik angkot, ini udah jam berapa?..."


"Ayo masuk, ini perintah." Ucap tuan Iqbal yang tiap ucapannya tak bisa di bantah.


"Iya Tuan." Aku pun menuruti.


"Zain kau apakan anak orang sampai rambutnya berantakan begitu?..." Ucap kak Rani pada Kak Zain. Kak Rani memang baik, selalu perhatian padaku.


"Rambutku di Jambak kak sama dia." Sahutku, kak Zain hanya menghembuskan nafas kesal.

__ADS_1


"Heh, Zain jangan suka melakukan kekerasan sama anak orang."


Aku pun berangkat kuliah dengan mobil mewah milik majikan ku.


__ADS_2