
Karena takut dengan suara ancaman, Rani merampas Hpnya dari Affan.
"Praaaaaaannkkkk...Aaaaakkkhhh sial Kenapa aku jadi pecundang." Suara pecahan kaca meja bundar terbelah menjadi dua setelah Iqbal menghantamkan tangannya. Darah segar mengucur dari tangan Iqbal. Iqbal bergegas pergi menuju cafe Rani.
Di dalam mobil Zain membalut luka Iqbal dengan kain kasa. Iqbal diam saja menghadap kaca jendela.
****
Rani di kejutkan dengan kehadiran Iqbal yang berada di belakang Affan, menatapnya dengan mata elang yang siap menerkam.
Mata Rani mengikuti pergerakan Iqbal. Tiba tiba Iqbal duduk di dekat Rani. Membuat Affan dan Rani merasa tidak nyaman. Kemudian Iqbal menggenggam tangan Rani. Membuat Rani terkejut dan berusaha melepaskan tangannya dari Iqbal. Bukannya melepas Iqbal malah mempererat genggamannya.
"Hey Iqbal apa yang kau lakukan? Dia tunangan ku?" Ujar Affan, teman sekampung Iqbal.
"Diam lah atau aku akan menghancurkan tunangan mu hingga jadi serpihan debu." Ujar Iqbal berbisik di telinga Rani. Kemudian Rani menghentikan Tangannya yang memberontak.
"Apa kau pikir aku akan membiarkan Rani menikah dengan pria busuk Seperti dirimu?..." Tegas Iqbal.
"Braaaakkkkk....Kau jangan kurang ajar ya..." Ujar Affan yang emosi lalu mengebrak meja. Kemudian menunjuk wajah Iqbal. Suara gebrakan meja mengejutkan Rani dan Alyn. Alyn yang kepalanya pusing jadi tambah pusing melihat ketegangan di depan matanya. Alyn memperhatikan dengan seksama sikap posesif Iqbal pada Rani.
"Kenapa mas Iqbal selalu mengelak dari perasaannya. Sedangkan gelagatnya menunjukkan dia menyukai Rani sejak dulu." Batin Alyn.
"Singkirkan tanganmu bedebah." Ujar Iqbal menepis telunjuk Affan dari wajah Iqbal.
"Apa kau pikir aku tidak tahu kelakuan busukmu di belakang Rani!" Ujar Iqbal yang geram saat mengingat dia mendekati Rani tapi bercumbu dengan Safa di kebun mangga mang Edi. Iqbal selalu menyelidiki siapa pun pria yang mendekati Rani. Jika Pemuda berengs*k maka Iqbal tidak segan-segan menghajarnya.
"Hey kau jangan bicara omong kosong." Tegas Affan. Iqbal menggelengkan kepala melihat Affan yang tidak tahu malu.
"Apa yang kau lakukan dengan Safa di kebun mang Edi. Dengan Ana di gubuk pantai?....Apa perlu aku sebutkan lagi?…" Ujar Iqbal. Membuat Affan terkejut, kenapa Iqbal bisa tahu sedemikian rupa.
"Kau..." Ujar Affan tersendat.
"Aku punya segala buktinya." Tegas Iqbal. Rani hanya menyimak perbincangan mereka berdua yang sama sekali tidak Rani pahami.
__ADS_1
"Enyah lah kau dari hadapanku. Dan jauhi Rani." Tegas Iqbal. Kemudian Affan beranjak pergi dengan rasa malu dan kekalahan.
"Lebih baik pergi dari pada Iqbal semakin mempermalukan ku di hadapan Rani!" Batin Affan.
Rani mengigit tangan kiri Iqbal dengan kencang. Kini bukan cuma tangan kanan Iqbal yang berdarah tapi tangan Kirinya juga berdarah karena gigitan Rani. Kemudian Iqbal melepas tangan Rani.
"Kau itu sangat menyebalkan Iqbal. Selalu mengatakan aku tidak laku, padahal kau yang membuat ku tak laku laku." Ujar Rani lalu melempar sapu tangan ke arah wajah Iqbal namun dengan sigap Iqbal berhasil menangkapnya sebelum mengenai wajahnya.
"Kau harus berterima kasih pada ku karena berkali kali menyelamatkan mu dari Pemuda hidung belang." Ujar Iqbal tanpa rasa bersalah.
"Terserah aku mau menikah dengan siapa saja." Ketus Rani.
"Aku hanya akan mengizinkanmu menikah dengan pria baik baik." Ujar Iqbal Serius.
"Siapa maksud mu?.... Kau?..." Tanya Rani yang harap harap cemas menanti jawaban dari Iqbal.
"Huuuuufffhhh.... Entahlah..." Ujar Iqbal bingung karena Iqbal tidak mau menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Sedangkan Iqbal merasa hanya menyayangi Rani sebagai sahabat yang harus menjaganya dari keburukan.
"Berarti kau akan mengizinkanku menikah jika lelakinya baik kan." Ujar Rani dengan penuh kegirangan. Dan hanya di jawab anggukan oleh Iqbal meski ia sendiri ragu apakah dia akan mengizinkan Rani menikah.
Rani bangkit dari kursi dan berjalan ke arah Zain. Menggandeng tangan Zain lalu mengatakan. "Zain adalah pemuda yang baik, kau sudah tahu luar dalam. Aku mau menikah dengan Zain." Ujar Rani percaya diri. Sedangkan Zain bergidik ngeri melihat tatapan nyalang Iqbal.
"Dasar Rani..." Batin Alyn yang meletakkan pipinya di atas meja, Alyn sejak tadi sudah memperhatikan perseteruan mereka.
"Lepas Nona." Ujar Zain menyingkirkan tangan Rani kemudian Zain mundur beberapa langkah.
"Kau itu menyebalkan.... Datang datang bukannya minta maaf karena hampir membunuh ku , tapi malah membuat kegaduhan." Ketus Rani yang sudah duduk kembali di tempat semula.
"Maaf." Ujar Iqbal walaupun singkat tapi kata itu tulus keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Kemudian mata Iqbal menangkap sosok Alyn yang lari terbirit-birit menutup mulutnya lalu memasuki toilet.
Iqbal bangkit menyeret Rani menuju toilet. Iqbal melangkahkan kakinya lebar-lebar dengan cepat hingga membuat Rani terseret.
"Hooeeeekk...Hoekkkkk...Hoeekkk...Hoeeekkkk."
__ADS_1
"Ya ampun Alyn....Aku sampai lupa." Ujar Rani kemudian memasuki toilet. sementara Iqbal menunggu di luar toilet. Rani memijat, menepuk nepuk punggung Alyn yang tak henti hentinya muntah di kloset. Wajah Alyn semakin pucat, wajahnya sudah di banjiri keringat.
Beberapa saat kemudian Alyn berhenti muntah. Nafas Alyn sudah ngos ngosan. Kepala Alyn terasa sangat pusing. Alyn berjalan keluar toilet dengan langkah yang lambat sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Setelah sampai di depan toilet tiba tiba Alyn pingsan. Beruntung dengan sigap Iqbal bisa menangkap Alyn dalam pelukannya. Mata Rani sakit di buatnya.
Kemudian Iqbal dan Rani segera melarikan Alyn ke rumah sakit. Dengan segera dokter menangani Alyn.
Rani Segera menghubungi Arya, memberi tahukan keadaan Alyn. Arya terdengar panik dan khawatir. Arya menitipkan Alyn pada Rani untuk menjaga istrinya sampai Arya datang.
Rani sangat cemas Berjalan kesana-kemari, Iqbal terus saja memperhatikan Rani.
"Duduk lah Ran. Kau membuat kepalaku pusing melihat mu mondar mandir seperti setrika." Ujar Iqbal.
"Ya jangan di lihat." Ketus Rani.
Kemudian Iqbal menarik tangan Rani hingga terduduk di samping Iqbal. Saat Rani hendak bangkit Iqbal malah menarik rambut Rani.
"Ada da da da da dah.... Sakit."Teriak Rani kemudian ia mencubit paha Iqbal membuat Iqbal meringis sakit.
Kemudian dokter keluar. Menatap Iqbal karena yang menggendong Alyn ke rumah sakit adalah Iqbal.
"Dokter bagaimana keadaan Alyn? Apa yang terjadi padanya?..." Tanya Iqbal yang juga khawatir pada Alyn namun wajahnya masih terlihat tenang.
"Tap tap tap tap..." Suara derap kaki melangkah terburu buru berpijak di atas lantai dan kaki panjangnya melangkah lebar lebar.
Dokter mengulurkan tangannya pada Iqbal. Dan Iqbal yang bodoh menjabat tangan dokter itu.
"SELAMAT ISTRI ANDA HAMIL." Ucap dokter yang mengira Iqbal adalah suami Alyn. Iqbal di tarik dengan kasar dari belakang hingga terhuyung mundur dan punggungnya terbentur dinding.
"SAYA SUAMINYA." Ujar Arya menegaskan pada dokter.
****
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI