
"Itu orang ngapain aja sih dari tadi nggak kelar kelar?...Lama lama gerah juga nunggu." Arya masih saja menggerutu, karena dia sangat merindukan istri dan anak-anaknya. Arya sudah tidak enak duduk, sejak tadi bergerak karena gelisah.
"Kenapa Tuan? Anda ambeien!!" Ucap Khasanuci yang sejak tadi memperhatikan Arya yang duduknya gelisah.
"Sialan kau." Ketus Arya.
"Hehehe maaf bercanda. Ku perhatikan sejak tadi anda duduknya gelisah."
"Aku ingin segera pulang. Aku sudah rindu anak dan istriku. Aku sudah janji pada Istriku jika urusan disini sudah selesai aku akan langsung pulang."
"Sabar tunggulah sebentar."
"Huuuuufffhhh...." Arya yang kesal kemudian bangkit setelah menghela nafas.
***
"Ck ck ck ck ck ck..." Arya menggelengkan kepala menatap Brayen tapi Brayen terlihat santai namun malah Alena yang salah tingkah.
"Akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga. Anda jangan takut Nona, kami semua ada bersama Anda. Anda tidak akan mengalami hal menyeramkan lagi." Ucap Khasanuci yang berusaha menenangkan Alena sebab dia pikir Alena sedang ketakutan pasca insiden penculikan itu.
"Lama sekali. Apa yang kalian lakukan di atas?..." Arya masih menatap kesal ke arah Brayen.
"Jangan buang buang waktu. Waktu kita tidak banyak, ayo kita pulang dan lanjutkan misi kita." Ucap Brayen.
"Tidak sadar. Dirimu lah yang buang buang waktu." Ucap Arya.
"Tuan Arya, sudah lah ayo kita pulang." Ucap Khasanuci yang mulai bergegas untuk pulang.
"Ayo." Ucap Arya.
Khasanuci hanya geleng-geleng kepala melihat perseteruan Arya dan Brayen. Hanya di hadapan Khasanuci mereka blak blakan seperti kucing dan tikus namun jika di muka umum ketegasannya menguar.
__ADS_1
***
Kepulangan Alena di sambut tangis kebahagiaan oleh seluruh keluarga yang berada di rumah Brayen. Semua orang menangis lalu bergantian memeluk Alena. Suasana menjadi Haru di kediaman Brayen.
Umi Naya tak henti hentinya memeluk Alena, dia tidak mau jauh jauh dari Alena. Bahkan Umi Naya meminta tidur dengan Alena untuk melepaskan rindu pada anak bungsunya.
Walaupun hal itu membuat Brayen kecewa, namun Brayen mengizinkan Alena.
***
Arya langsung menarik Alyn keluar dari perkumpulan keluarga. Arya sangat merindukan istrinya, sejak tadi dia sudah menahan hasratnya hingga membuat kepalanya pusing karena tidak segera di tersalurkan.
"Mas mau kemana?..."
"Ibadah..."
"Ibadah Apa jam segini?..." Alyn menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi.
"Ibadah di atas ranjang."
"Bercinta itu obat menghilangkan capek sayang." Ucap Arya sambil menyeret Alyn.
"Tapi mas...!"
"Udah ayo... Kepalaku udah cenut cenutan dari tadi." Arya pun memasuki kamar bersama dengan Alyn. Dengan senang hati Alyn melayani Arya.
***
Semua pasangan suami istri menikmati malam panas bersama di ranjang masing-masing.
Alena yang masih merindukan Brayen merengek pada Uminya untuk tidur dengan Brayen. Umi yang menyadari Brayen lebih berhak atas diri putrinya, akhirnya melepas Alena dengan suka cita.
__ADS_1
Brayen berdiri di depan jendela, memandangi pekatnya langit malam yang bertabur bintang. Memikirkan bagaimana jadinya besok di negeri Chiber, apakah semua rencana yang tersusun sedemikian rupa akan sukses dan bisa menguak kejahatan perdana menteri dan cucunya.
"Abang..." Brayen tersenyum bahagia saat melihat Alena di ambang pintu. Alena adalah obat paling mujarab di saat Brayen di rundung kegelisahan. Alena berlari berhambur ke pelukan Brayen.
"Kenapa kesini?..."
"Masih bertanya!... Ya kangen lah sama Abang." Alena berjinjit lalu mengecup pipi Brayen.
"Lalu Umi bagaimana?..."
"Ya nggak gimana gimana..."
"Huuuuufffhhh..." Brayen menghela nafas.
"Abang kenapa? Ada masalah?" Alena yang tidak tahu apa-apa bertanya polos. Dia mendongak berusaha meminta jawaban. Brayen langsung mengecup keningnya.
Alena kembali memeluk Brayen, Brayen masih belum menceritakan masa lalunya pada Alena. Yang Alena tahu hanya lah ayah Brayen sudah membunuh ayahnya Yazid. Alena juga belum bertemu dengan Ibunya Brayen, karena kelompok Brayen sepakat menyembunyikan Zara Anne sampai masalah benar benar tuntas.
"Abang aku nggak sanggup kalo harus Kehilangan Abang. Waktu aku melihat berita kematian Abang di sosmed aku sangat syok, aku nangis nggak berhenti henti."
"Masak sih?"
"Iya." Alena mengangguk, masih di pelukan Brayen. Brayen mengulas senyum sambil membelai rambut Alena.
"Yazid itu jahat Bang."
"Memang apa yang dia lakukan padamu?..."
"Setelah masa Iddah Ku Selesai dia akan menikahi ku. Karena aku nolak, Dia nampar aku."
"Apa?" Brayen langsung melepaskan pelukannya dari Alena, ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Tangan Brayen terkepal, emosinya meledak-ledak, giginya gemeretak karena menahan emosi.
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI