
Nama. : Zain Alfaro
Usia. : 28 Tahun
Sifat. : Setia, cerdas,
perhatian, tegas, teguh
pendirian.
Gestur tubuh : Tampan, Tinggi, perut six pack,
kulit putih, gigi gingsul.
Catatan. : Mengabdikan hidupnya pada Iqbal setelah Iqbal menyelamatkan hidupnya yang hampir di bunuh oleh beberapa anggota mafia karena menjadi saksi pembunuhan. Semenjak itu dia setia mengabdikan hidupnya pada Iqbal. Dia merintis usaha bersama Iqbal dari nol.
****
Mendengar suara kegaduhan, Alyn dan Zain keluar dari ruang makan, menuju asal suara yang ricuh.
Setelah keluar ternyata sepi. Tidak ada siapa siapa.
"Tuan asisten, kau juga dengar suara ribut-ribut kan tadi." Tanya Alyn.
"Tidak." Jawab Zian singkat dan berbohong.
"Kau bohong." Ujar Alyn.
"Anda hanya berhalusinasi. Sebaiknya anda beristirahat. Jangan coba-coba untuk kabur karena itu hal yang percuma." Ucap Zain.
"Kau sama saja dengan tuanmu." Ujar Alyn. Kemudian Zain pergi meninggalkan Alyn. Alyn mendengus kesal lalu pergi ke kamar.
****
__ADS_1
"eeeeemmmmmmm...." Rani berusaha berteriak tapi tak bisa karena Iqbal membekap mulutnya di sebuah ruangan. Rani hanya bisa melihat kepergian Alyn.
"Asal jangan Triak, aku akan melepasmu." Ujar Iqbal bernegosiasi. Rani pun mengangguk.
Kini mereka berdua duduk di kursi saling berhadapan.
"Maaf." Ucap Iqbal tulus.
"Jangan minta maaf kalau masih berniat jahat."Ketus Rani.
"Maaf aku hanya tak mau kamu menemui Alyn dalam keadaan seperti ini." Lanjut Iqbal.
"Sama saja." Ketus Rani.
"Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Alyn. Aku tidak mau ada orang yang menyakiti kalian. Suami Alyn memiliki wanita simpanan. Padahal aku sudah merelakan Alyn untuk pengkhianat itu." Ujar Iqbal masih dengan mode tenang dan kaku.
"Kau sadar apa yang kau katakan?... Apa yang kau lakukan itu menyakiti kami berdua. Menyekap Alyn dan memisahkan Alyn dari suaminya apa kamu pikir itu benar?..." Ujar Rani.
"Alyn memiliki rumah tangganya sendiri. Harusnya kamu tidak ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dengan caranya sendiri." Lanjut Rani.
"Apa kau pikir dengan menyekap Alyn kau bisa mengurangi masalah Alyn. TIDAK. Yang ada kau malah menambah masalah Alyn. Jika suami Alyn mengira kau main serong dengan Alyn, mau di bawa kemana reputasi Alyn dan keluarganya di kampung Nelayan. Kau tau betul, reputasi itu sangat penting bagi keluarga Alyn." Tutur Rani.
"Jika kau menikahi Alyn apa kau pikir Alyn akan bahagia. Bertahun-tahun kau pergi meninggalkan Alyn tanpa kabar yang pasti. Apa kau pikir Alyn masih mencintaimu? Kau sendiri ragu kan dengan prasaan Alyn padamu."
"Perempuan itu butuh kepastian Iqbal. Apa lagi di usia Alyn yang sudah menginjak usia 24 tahun yang belum menikah karena menunggu mu yang tidak jelas keberadaannya. Apa kau pikir Abah akan menjadikan Alyn prawan tua karena menunggumu yang tidak tahu kapan akan kembali." Ucapan Rani membuat hati Iqbal terenyuh.
"Aku juga menyayangi Alyn sama denganmu. Aku tahu suami Alyn berselingkuh tapi aku hanya bisa menguatkan Alyn. Karena Alyn bukan anak kecil yang tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Jika Alyn ingin bercerai dari suaminya biarkan dia bercerai dengan nama yang bersih tanpa embel embel dirimu." Lanjut Rani.
"Aku sahabat Alyn. Aku akan bicara dari hati ke hati dengan Alyn agar tahu hubungan yang sebenarnya dengan Suaminya. Dan agar aku tahu apa yang Alyn inginkan." Lanjut Rani.
"Jika ingin membahagiakan kami, bahagiakan kami dengan cara berpikir kami. Bukan dengan cara berpikir kamu?..." Iqbal mendengarkan ceramah Rani dengan seksama.
"Iqbal kau masih sahabatku kan. Aku tahu kamu berhati baik dan tulus walau terlihat menyeramkan dari luar." Ucapan Rani di beri tatapan yang menusuk oleh Iqbal, mungkin karena Iqbal tersinggung. Rani tetaplah Rani kalau bicara kadang suka seenaknya sendiri. Entah kenapa melihat wajah Iqbal seperti itu membuat sudut bibir Rani sedikit tertarik.
__ADS_1
"Lalu bagaimana aku harus membahagiakanmu?..." Tanya Iqbal.
"Aku tidak mau jadi pelarianmu. Pastikan dulu hatimu kosong untuk menempatkan orang lain di sana. Biarkan aku bebas dengan kebahagiaan ku sendiri." Pinta Rani.
"Terserah kau saja." Ujar Iqbal yang mulai beranjak dari duduknyanya.
"Apa aku sudah boleh pergi?..." Tanya Rani yang senyumnya sudah mengembang.
"Kau temani lah Alyn agar tidak ada fitnah dan nama Alyn selalu bersih." Ujar Iqbal dan berlalu pergi. Membuat wajah Rani seketika langsung merengut.
"Bagaimana aku bisa menghubungi suami Alyn jika aku ada di sini." Batin Rani.
*****
"Zain. Kau urus mereka berdua dan tinggallah disini. Untuk sementara aku akan tinggal di apartemen." Perintah Iqbal Pada Zain.
"Tuan....!" Panggil Zain.
"Telinga ku sakit mendengar ceramah mereka." Jawab Iqbal.
Beberapa saat kemudian Zain mengantar Rani menuju ke tempat Alyn berada.
"Tuan kau Tampan. Apa kau sudah punya pacar?" Tanya Rani yang penasaran.
"Tidak." Jawab Zain singkat.
"Apa kau mau jadi pacarku?" Tanya Rani yang usil karena kurang kerjaan.
"Tidak." Jawab Zain.
"Apa aku jelek?..." Tanya Rani.
"YA." Jawab Zain singkat.
******
__ADS_1
Happy reading
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT