
Promo novel berjudul BABU JADI RATU
"Loh, antingku di mana?" Aku baru menyadari antingku hilang setelah sedetik keluar dari kamar majikanku. Aku berbalik, memasuki kamar itu lagi. Ku telusuri lantai kamar dan ranjang tapi tidak ada, padahal tadi waktu aku membereskan kamar Den Alfian masih ada.
"Nah, ketemu." hatiku lega, setelah 30 menit mencari akhirnya aku bisa melihat Kilauan emas di kaki ranjang. Aku segera mengambilnya."Masih rezekimu, Nurmala." gumamku pada diri sendiri sembari memungut antingku.
BRAAAAAKKKK.... Baru saja ku raih antingku, aku di kejutkan dengan suara dentuman pintu yang memekakkan telinga di banting sangat keras oleh Den Alfian.
Tubuhku langsung berdiri tegap, aku takut dan merinding melihat tatapannya yang tajam, pria yang selalu bersikap dingin berusia 27 tahun itu menyeringai, ada kilatan birahi di matanya.
DEG... Jantungku berdegup tak karuan ketika Den Alfian mengunci pintunya, dia berjalan mendekatiku, aku gugup, tubuhku gemetar hebat.
"Den sa-saya mau keluar. Tolong bu-buka pintunya." tapi dia tak menghiraukan perkataanku. Aku bergeser merapatkan tubuhku ke dinding untuk menjauhinya. Aku berlari secepat mungkin tapi sebelum berhasil meraih pintu, langkahku tercekat, nafasku tertahan. Dia mencengkram pergelangan tanganku. Aku menoleh ke belakang, bau alkohol di mulutnya menyengat di Indra penciumanku, matanya gelap penuh dengan kilatan gairah. Dengan kesadaran penuh aku memberontak, menarik-narik tanganku. Berusaha melepaskan cekalannya.
"Plaaaakkk...." ku layangkan satu tamparan keras di pipinya hingga membekas memar merah.
"Tolooong hemmmm..." teriakku sekuat tenaga, sejurus kemudian dia membekap mulutku dan menyeretku dengan paksa, seketika itu aku menangis, air mataku tumpah, aku menangis tersedu-sedu, memberontak, aku memukuli dadanya, berusaha melepaskan diri. Sedetik kemudian tubuhku terasa melayang terlempar di atas ranjang. Setelah aku menyadari, dia sudah menindih tubuhku. Mengungkungku di bawah kuasanya.
"Toloo,,,mmmm" Den Alfian membungkam bibirku dengan bibirnya yang berbau alkohol, tangannya sudah bergerilya menj*m*h tubuh bagian atasku. Lelehan demi lelehan air mata mengalir dengan deras. Hatiku terasa tak karuan, aku merasa sebentar lagi akan kehilangan segalanya.
"Toloooooong" teriakku.
"Tolong Den, jangan lakukan ini pada saya. Saya hanya pembantu." Dia tak memperdulikan tangisan dan pemberontakku.
"SREEEEEKK...."
Dengan sekali tarikan dia sudah merobek pakaianku, membuat bagian atasku menyembul. Tatapannya semakin bernafs*. Aku tetap berusaha sadar dan terus memberontak, tapi semakin aku memberontak maka semakin kuat dia berusaha melumpuhkanku.
Dia menikmati setiap jengkal demi jengkal tubuhku. Tak peduli dengan tangisanku, mata hatinya sudah tertutup kabut. Aku semakin kalut, air mata semakin deras mengucur.
Terlalu banyak memberontak membuat tenagaku lemah, kepalaku mulai pening. Aku memukul dadanya dengan sisa tenagaku. Namun tak berimbas apapun padanya.
Segalanya terasa begitu cepat, hingga aku menjerit kesakitan, yang ku banggakan selama ini telah hilang di renggut secara paksa. Kesucian yang seharusnya aku berikan kepada suamiku nanti, malah di renggut oleh laki-laki biadab ini. Masa depanku hancur. Aku hanya bisa menangis meratapi nasibku, di bawahnya. Sebesar apapun aku memberontak percuma, kehormatanku telah hilang.
BRAAAAAKKKK
"ALFIAN." terdengar teriakan pak Lukman.
BUGH. Satu tinju mendarat di bibir Alfian hingga ia terjungkal ke belakang, membuat tautan tubuh kami terlepas. Ku rasakan selimut mulai menutupi tubuh telanj*ngku. Kesadaranku pun mulai hilang.
__ADS_1
***
Ketika Nurmala membuka mata, ia sudah berada di dalam kamarnya dengan pakaian baru. Dia berharap apa yang ia alami hanyalah mimpi. Tapi untuk mimpi, itu terasa begitu nyata.
"Mbak, udah bangun." terdengar suara seseorang di sisi Nurmala.
Di samping Nurmala sudah ada Sarah, adik dari Alfian Laksmana, dia tersenyum hangat pada Nurmala dengan mata yang sembab. Nurmala berusaha bangun, badannya terasa remuk, ia pegang bagian intimnya, terasa sakit. Tenyata bukan mimpi. Air mata kembali tumpah, gadis malang itu menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka akan mengalami hal senista Ini dalam hidupnya.
Malam hari terdengar perdebatan sengit antara anak dan orang tua, membuat hati Nurmala kian tersayat.
"Papa nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Kamu harus nikahin dia."
"Dia nggak hamil. Kenapa harus tanggung jawab. Cukup beri uang sebagai kompensasi, beres."
"BRAAAAAKKKK. Alfian, jaga bicara kamu." pak Lukman, ayah dari Alfian menggebrak meja.
"Dia masuk ke kamarku memang untuk menawarkan diri kan, Pa." mendengar suara Alfian, hati Nurmala kian teriris. Tega sekali mengatakan hal seburuk itu padanya. Dia tak butuh tanggung jawab darinya.
"ALFIAN, CUKUP." kini Mama Ayu yang berbicara keras lantaran tak bisa menahan kekecewaan terhadap putranya.
"Mbak jangan khawatir, mas Alfian pasti akan tanggung jawab dan nikahi mbak." Sarah menghapus air mata Nurmala namun segera ia tepis.
Nurmala segera bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari mengemasi semua pakaian dan barang-barangnya.
"Loh, mbak Nur mau kemana?"
"Aku harus pergi dari rumah ini." Nurmala memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas sembari menyeka air mata yang terus mengalir sendiri tiada henti.
"Loh, mbak jangan pergi. Tolong maafin kak Alfian. Kak Alfian pasti akan tanggung jawab." kata Sarah.
"AKU BUKAN PELACUR, KAKAKMU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU." Teriak Nurmala.
"Mbak tolong jangan pergi mbak, tunggu Mama sama papa dulu....MA.... MAMAAAAA.... MBAK NUR MAU PERGI MA...." Sarah berteriak memanggil mamanya, sementara tangannya berusaha menahan kepergianku. Aku acuh, menulikan telingaku. Rumah ini sudah seperti neraka bagiku.
Tak lama kemudian pak Lukman dan Bu Ayu datang. Mereka berusaha mencegahku yang terus melangkah.
"Nak, tolong jangan pergi seperti ini. Alfian pasti akan tanggung jawab." kata pak Lukman.
"Maafkan perbuatan Alfian, ibu malu. Ibu sudah gagal mendidik anak." tanganku tercekat. Bu Ayu menahan tanganku. Aku menoleh, air matanya tak kalah derasnya denganku. Aku tahu beliau adalah orang baik dan tulus. Tapi perbuatan bej*t anaknya membuat dadaku sesak, jangankan melihatnya, melihat rumah dan keluarganya hatiku hancur.
"Tolong jangan cegah saya, atau saya akan melaporkan Alfian ke polisi." perlahan cekalan Bu Ayu mengendur.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Nak, malam-malam begini. Biar Pak Supri yang antar." kata Pak Lukman.
"Tidak perlu pak terima kasih." sebelum pergi, mataku tak sengaja bertemu dengan pria jahat itu, membuat emosiku mencuat dan meradang. Dia menatapku dengan tajam, aku lebih dulu memutus kontak mata kami dan pergi.
Diam-diam, Pak Lukman mengutus Pak Supri untuk mengikuti Nurmala. Percuma menahan Nurmala saat ini, hatinya hancur dan butuh tempat untuk menyendiri.
***
Di kegelapan malam, rintik hujan turun membasahi bumi, seolah ikut merasakan duka yang melanda Nurmala. Ia duduk di bangku halte, kepalanya bersandar di pilar, tatapannya kosong mengarah pada percikan hujan di genangan air. Bayangan setiap sentuhan Alfian tak kunjung sirna, padahal sudah berusaha menghapus ingatan itu. Ia memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan. Mengusap bibir dan lehernya dengan kasar, agar jejak merah yang di tinggalkan Alfian hilang, tapi hanya luka tergores kuku tajamnya yang ia dapat. Lagi-lagi air matanya meleleh tanpa bisa di cegah.
Nurmala segera menyeka air matanya ketika mobil Ferrari putih berhenti di depannya. Tangannya mengepal ketika sosok pria bertubuh tinggi tegap, dadanya bidang, berkulit putih bersih, matanya tajam, hidung mancung, bibir kecil namun berisi, rahangnya tegas, pria itu turun dari mobil dengan memakai kaos polo warna putih dan celana jins. Wajahnya terpahat begitu sempurna tapi karakternya buruk, dia pria jahat yang tega merenggut kehormatan Nurmala.
"Kamu mau kemana? Biar ku antar." kata Alfian.
Nurmala bungkam, menatap Alfian penuh dengan kebencian. Dia melangkah menjauhi Alfian, namun langkahnya tertahan karena Alfian menarik tangannya.
"PLAAAAKKK...." Satu tamparan keras mendarat di pipi Alfian. Nurmala Meratapi nasibnya, kenapa tadi dia tak berdaya di bawah kunjungan Alfian.
"JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTORMU." teriak Nurmala, dengan nafas memburu, tangannya mengacung ke wajah Alfian. Pun memegangi pipinya yang panas namun hatinya lebih panas, harga dirinya merasa terkuliti.
Alfian mengambil cek dari saku celananya senilai 300 juta lalu menyodorkan cek tersebut ke hadapan Nurmala. Tangan Alfian masih mengambang di udara."Aku rasa ini cukup untuk menebus kesalahanku."
"PLAAAAKKK...." lagi-lagi Nurmala menampar pipi Alfian.
"Aku bukan pelac*r berengs*k, Aku bukan pelac*r.... Aku masih punya harga diri.... Hikzzzzz....." Nurmala memukuli dada Alfian bertubi-tubi.
"Dasar wanita tak tahu Terimakasih." Alfian mencekal kedua tangan Nurmala karena tak tahan dengan pukulan dari gadis malang itu.
"Dasar bajingan, binatang. Ku sumpahi kamu masuk neraka?"
"Terserah." setelah menghempaskan tangan Nurmala dengan kasar, Alfian pergi memasuki mobil, meninggalkannya bersama cek yang jatuh ke papingan.
Nurmala membiarkan cek itu terbawa angin, di tengah guyuran hujan. Sikap Alfian semakin membuatnya muak, dia merasa di perlakukan seperti wanita murahan.
***
Alfian menghela nafas panjang ketika melihat ranjangnya berantakan, ada bercak darah di sana. Bayangan ketika dia memaksa gadis itu tergambar jelas di sana.
"Aaaaakkkhhh, sial...." Alfian menarik seprai dan membuangnya ke lantai. Dia menjambak rambutnya frustasi, karena mabuk ia kehilangan kendali dan menghancurkan masa depan gadis lugu itu. Tak mungkin Alfian menikahinya, dia tak mencintai Nurmala.
***
__ADS_1