AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PERTEMUAN PERTAMA SETELAH LAMA TAK JUMPA


__ADS_3

FLASH BACK ON ARYA


"Gadis kecil yang selalu kamu buat menangis dulu. Cucu dari Nelayan yang telah menyelamatkan Abimu saat tenggelam di laut."


"A' A' Alyn. Alyndia kah maksud Umi?...."


"Ya."Ucap Umi. Kenapa Hatiku tergerak mendengar nama gadis cengeng itu sebagai jodohku. Waktu kecil aku memang menyukainya. Tapi itu dulu. Sekarang sudah ada Suci yang mengisi hatiku.


"Kalau masih ragu istikharah, biar hatimu mantap dan tidak gamang. Kalau perlu istikharahkan juga si Suci, yang Umi yakini hasilnya buruk. Kalau sama Alyn kamu masih tidak cocok. Cari gadis lain asal jangan Suci. Titik. Keputusan final tidak dapat di ganggu gugat. Ya sudah Umi Sholat dulu." Umi menepuk bahuku sebelum pergi.


...****************...


Tak tanggung-tanggung aku istikharah selama 2 Minggu. Menimbang nimbang dan berpikir mencari keputusan untuk masa depanku.


Kini Kami bertiga berada di ruang tamu.


Aku berada di hadapan kedua orangtuaku. Hanya untuk mengutarakan niatku saja aku nervous, jantungku dag dig dug. Tanganku berkeringat. Peluh bercucuran di dahiku.


Abi dan Umi mengerutkan dahi karena tidak sabaran ingin mendengar keputusanku.


Tarik nafas keluarkan.

__ADS_1


"Huuuuufffhhh...."


"Bismillahirrahmanirrahim Aku bersedia menikahi Alyn." Hah lega rasanya.


"Haaaaaaaaa." Aku terkejut mendengar teriakan Umi.


"Prok prok prok prok." Umi bertepuk tangan saking bahagianya. Beliau berhambur memelukku. Mencium seluruh wajahku bahkan hidungku. Tidakkah Umi berlebihan.


Dan Abi dia menepuk jidatnya melihat reaksi Umi. Aku tersenyum melihat kebahagiaan orang tuaku.


Beberapa hari kemudian kami berkunjung ke rumah orang tua Alyn. Membawa banyak sekali oleh oleh untuk keluarga Alyn. Mobil kami berhenti di depan halaman rumah Alyn. Rumahnya begitu asri dan sederhana.


Semakin aku melangkah mendekati rumah Alyn. Aku semakin gugup. Berjalan pun susah rasanya. Aku sangat, sangat, sangat nervous.


Akhirnya sampai juga aku dan kedua orangtuaku duduk di ruang tamu rumah Alyn.


"Alyn keluarlah nak. Bawakan calon suamimu minum."Ujar Abah.


Mendengar ucapan Abah membuatku malu. Lagi lagi hatiku bergetar. Aku gugup menunduk tak berani mendongak. Tanganku sudah di penuhi keringat dingin. Jantungku berdegup lebih kencang saat mendengar langkah kakinya. Aku tegang. Jantungku, ada apa dengan jantungku?....


Gadis cengeng itu duduk di samping Abah. Aku bisa melihat kakinya tapi aku tak berani mengangkat wajahku. Tapi aku penasaran seperti apa gadis kecil yang selalu aku goda dulu?...seperti apa gadis yang selalu aku buat menangis karena dia lebih perhatian pada saudaraku Arfa daripada Aku.

__ADS_1


Ku beranikan diri meliriknya sekilas lalu aku menunduk lagi.


"Masya Allah... Dia gadis yang manis. Dia cantik. Lebih cantik dari Suci, asal Alyn mau memoles sedikit saja wajah polosnya dia akan sangat cantik." Ada apa dengan hatiku? Kenapa tidak mau berhenti bergemuruh.


Aku menunggu hatiku untuk menyesal. Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal.


Kedua keluarga kami berbicara panjang lebar sedari tadi. Sedangkan aku dan Alyn saling diam. Aku sesekali curi pandang pada gadis kecil yang dulu aku taksir. Dia manis. Aku tak bosan melihatnya. Sepertinya dia malu, dia sama sekali tak mengangkat wajahnya. Hanya memutar mutar cincin yang melingkar di jari manisnya.


Aku semakin memantapkan hatiku untuk melangkah lebih jauh.


Tak lama kemudian Abi dan Umi berpamit pulang. Ada rasa kecewa, ada rasa tak puas, ada rasa berat, entah karena apa? Beruntung aku sempat mencuri fotonya di ponselku.


...****************...


Satu bulan telah berlalu. Umi sengaja mempercepat acara pernikahanku dengan Alyn karena takut aku berubah pikiran.


Di malam, satu hari sebelum aku menikahi Alyn. Aku menemui kekasihku untuk meluruskan segalanya.


****


Jangan lupa like komentar vote

__ADS_1


__ADS_2