
POV Alyn.
"Lalu apa yang Umi lakukan saat Umi mengetahui perselingkuhan Abi???...." Tanya Alyn serius karena Alyn juga berada di posisinya.
"Umi menunjukkan posisinya yang sebenarnya kalau Umi Ini adalah istri sah sedangkan dia hanya seonggok kotoran. Sampah masyarakat." Ujar Umi dengan menggebu-gebu bercerita kala ingat kajadian masa lampau.
"Dengan cara?...." Tanya Alyn yang masih belum mengerti maksud Umi.
"Umi pakai hukum rimba. Umi Jambak pelakor itu hingga jatuh ke dasar lantai, Umi tunggangi dia terus aku benturkan kepala wanita itu ke lantai dan ku cakar cakar wajahnya hingga banyak goresan. Abi sampai kualahan melerai kami." Umi menceritakan masa lalunya dengan memeragakan tangannya, menjambak Jambak dan mencakar udara seolah-olah sedang menghajar pelakor itu.
Alyn yang mendengar cerita Umi sampai terperangah, tak percaya dengan apa yang di ceritakan Umi.
"Masak Umi bisa sesadis itu?" Ucap Alyn.
"Umi lepas kendali nak, saat menyaksikan Abi bercumbu dengan wanita lain. Hati Umi terbakar cemburu. Umi sendiri heran dapat kekuatan dari mana sampai bisa mengajar wanita berbisa itu." Ujar Umi menjelaskan. Alyn dapat melihat ada raut kecewa di wajah Umi dan ada kesedihan di sana.
"Umi yang sabar. Itukan cuma masa lalu. Sekarang kan Abi sudah setia." Alyn berusaha menenangkan hati ibu mertuanya itu.
"Heh, masa lalu...." Umi tersenyum kecut. "Tapi sakitnya masih terasa sampai saat ini nak." Lanjut Umi.
Alyn dapat mengerti apa yang Umi rasakan. Hati Alyn juga terasa sesak saat mengingat suaminya bercumbu dengan wanita lain. Jika Alyn tak melihatnya sendiri mungkin rasanya berbeda. Maka dari itu rasanya sulit untuk memaafkan Arya.
"Umi....Apa pelakor itu langsung pergi dari kehidupan Umi setelah di hajar Umi." Tanya Alyn.
"Tidak nak. Wanita itu berusaha mati matian memisahkan Abi dan Umi. Bahkan wanita itu hampir membunuh Abi karena mengetahui Umi mengandung Arya. Dia bilang Umi juga harus merasakan sakit yang dia rasakan yaitu kehilangan cinta. Umi baru tahu kalau pelakor itu sudah lama memendam rasa pada Abi." Umi menceritakan segalanya. Alyn mengangguk ngangguk mendengar cerita Umi.
******
Keesokan harinya setelah kumpul keluarga, Arya mengajak Alyn ke kamar. Arya memberikan paper bag pada Alyn yang berdiri keheranan.
"Apa ini? ..." Tanya Alyn. Alyn membuka paper bag yang berisi gaun cantik dan memasukkannya lagi.
"Pakailah dan berhias yang cantik untukku. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ucap Arya.
"Aku tidak mau." Ucap Alyn mengembalikan paper bag itu dengan menempelkannya ke dada Arya. Dan Arya langsung mencekal tangan Alyn yang masih memegang paper bag itu.
__ADS_1
"Apa kau yakin." Ucap Arya yang menaikkan satu alisnya dengan memberikan tatapan mesum pada Alyn. Arya melangkah maju mendekati Alyn. "Apa kau mau berduaan saja di kamar ini denganku" Lanjut Arya.
Membuat Alyn ketakutan dan berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Arya. Arya tidak tinggal diam dia membungkam bibir Alyn dengan lembut. Alyn mendorong Arya sampai Arya melepaskan Alyn.
"Iya aku ganti baju." Ucap Alyn. "Bisa bisa aku di perkosa kalau berduaan disini dengan mas Arya." Batin Alyn.
Arya melepas tangannya dan Alyn segera pergi. Baru tiga langkah Alyn berjalan Arya sudah mendekap Alyn dari belakang. Melingkarkan tangannya ke pinggang Alyn. Dan mencumbu Alyn. membuat Alyn bergeliat kegelian.
"Lepas mas." Ketus Alyn.
"Segera terima aku jadi suamimu Lyn. Aku sudah tidak tahan." Ucap Arya yang sudah di liputi gairah. Menyentuh Alyn membuat Arya candu. Arya menyesal kenapa dulu Arya tidak langsung menerkam Alyn hanya untuk alasan tidak masuk akal.
"Lepas mas." Alyn berusaha melepaskan tangan Arya tapi Arya tak menggubris ucapan Alyn.
"Mas kau sudah berjanji tidak akan menyentuh ku, kalau aku belum siap." Alyn berusaha mengingatkan Arya akan janjinya dan berusaha melepaskan tangannya Arya yang nakal.
"Aku memang pernah berjanji tidak akan melakukannya tanpa izinmu. Tapi aku tidak pernah berjanji untuk tidak melakukan pemanasan denganmu." Ucap Arya pada Alyn lalu mendorong Alyn di atas ranjang dan menghampiri Alyn. Mata Arya sudah di rundung gairah.
"Kamu mau apa mas?" Alyn beringsut memundurkan diri.
*****
Di restaurant yang mewah Iqbal memandangi gadis cantik yang berada di hadapannya. Yang di pandang membalasnya dengan tatapan sinis.
"Kau bilang akan mengembalikan Barang yang kau curi. Mana?" Rani menjulurkan tangannya pada Iqbal.
"Santai lah sedikit. Kita makan dulu." Ucap Iqbal dengan mode tenang.
Setelah selesai menikmati hidangan, Iqbal tersenyum melihat Rani yang makan seperti anak kecil. Iqbal mengambil sapu tangan dan membersihkan sisa makanan di sudut bibir Rani. Membuat Rani tercengang memerhatikan Iqbal dengan seksama. Iqbal adalah laki laki yang dingin namun penuh perhatian, sikap inilah yang telah mencuri hati Rani. Tapi sayang Rani tak beruntung, Iqbal malah mencintai sahabatnya sendiri yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
"Ran." Iqbal memanggil Rani, Kini tatapan Iqbal sangat serius dan tegas.
"Hemmm." Jawab Rani hanya berdehem.
"Kau adalah sahabatku."Ujar Iqbal.
__ADS_1
"Iya." Jawab Rani sambil mengangguk perlahan. Ucapan Iqbal yang hanya menganggapnya sahabat membuatnya tak nyaman.
"Kau tau apa yang sebenarnya ku rasakan saat ini." Ujar Iqbal.
"Iya." Jawab Rani singkat.
"Katakan apa yang kurasakan." Ujar Iqbal. Yang ingin tahu jawaban Rani.
Rani menghela nafas. "Perasaan kita sama Iqbal hanya beda jalur." Batin Rani.
"Kau terluka walau terlihat tenang." Ucap Rani. Dan Iqbal membenarkan itu.
"Bantu aku menghapus lukaku Ran. Aku juga akan membantu mu menghapus lukamu. Aku tidak mau terus menerus Marasa kan sakit ini." Ujar Iqbal selayaknya manusia pada umumnya yang bisa merasakan sakit.
"Apa maksudmu lukaku?..." Tanya Rani.
Iqbal memberikan barang yang di bungkus rapi dengan kertas kado.
"Buka di rumahmu. Aku tidak mau melihat mu syok disini." Ujar Iqbal. Yang sudah bisa menerka apa yang akan terjadi jika Rani tahu isi kado itu.
Tapi Rani tak menggubris ucapan Iqbal. Dia langsung membuka bingkisan dari Iqbal karena penasaran dengan isinya. Perasaan Rani jadi tak nyaman
"Deg." Jantung Rani berdenyut. Rani terperangah melihat isi bingkisan itu. Wajah Rani menjadi pias dan mendadak pucat, tangannya sudah bergetar dan mata Rani sudah merah, Air mata mulai menganak di pelupuk matanya.
"Braaakkkk." Karena emosi Rani menggebrak meja membuat semua mata tertuju padanya.
"Kau lancang sekali Iqbal." Bentak Rani dengan nafas yang sudah menggebu-gebu.
*********
Like nya jangan di lewati ya gaes
Jangan lupa dukung author pake like komentar vote favorit
Jangan lupa tinggalkan like di setiap episode ya gaeeeessss PLIIIIIIISSS
__ADS_1