
"Lah ngapain marah... orang isinya cuma sepasang kekasih sedang bercumbu." Ujar Alyn.
"Ah...Aku tidak percaya istriku suka lihat begituan." Ujar Arya yang tidak menyadari apapun.
"Kalau nggak percaya lihat saja isinya." Usul Alyn.
"Aku nggak suka lihat film begituan. Lebih suka prakteknya." Ujar Arya.
"Praktekin saja sama Suci. Kan enak bibirnya manis lagi." Ketus Alyn.
"Nggak lah. Lebih manis bibirmu." Jawab Arya tersenyum kikuk. Alyn sangat emosi karena Arya bisa membandingkan bibirnya dengan bibir Suci.
"Iiiiihhh... Pergi sana mas. Jauh jauh dariku." Alyn mendorong dada bidang Arya yang mulai mendekati Alyn. Arya malah senang melihat Alyn cemburu.
"Nggak mau. Aku mau praktek sama kamu saja." Ujar Arya menggoda Alyn.
"Minta jatah sana sama pacarmu. Kamu kan sangat cinta sama Suci." Ujar Alyn.
"Nggak lah... Aku lebih cinta sama kamu."Jawab Arya.
"Lebih cinta sama aku." Alyn nampak berpikir. "Berarti kamu masih cinta sama Suci dong..." Alyn menatap Arya dengan tajam. Arya diam kicep. Bibir Alyn mulai mengerucut dan Alyn kembali membelakangi Arya.
"Uuuuupppss...Aku salah Jawaban ya." Batin Arya.
"Sayang jangan marah lagi ya." Ucap Arya sambil membelai rambut Alyn tapi Alyn tak menjawab.
"Yang penting kan sekarang aku sudah setia." Lanjut Arya.
"Mana aku tahu kamu setia atau tidak?" Ujar Alyn.
"Kalau tidak percaya belah lah dadaku." Jawab Arya. Alyn tersenyum tapi Arya tak melihat.
"Mana pisaunya? Akan Ku belah dada mu dan ku buang nama Suci dari hatimu." Ucapan Alyn membuat Arya syok dan melotot. Melihat ekspresi Arya.
"Sayang kalau kamu sudah sehat, Langsung belah duren ya. Kita praktekin isi memory yang sudah kamu pelajari itu." Ujar Arya tanpa tahu malu.
"Praktek apa?..." Tanya Brayen yang baru masuk tanpa mengetuk pintu.
"Nikah dulu baru nanti aku jelaskan." Jawab Arya. Brayen malah nyengir kuda dan menggosok tengkuknya.
"Hay adik ipar. Bagaimana keadaanmu?..." Tanya Brayen yang kini berdiri di samping Arya.
"Alhamdulillah baik. Kamu kakaknya mas Arya?..." Tanya Alyn yang baru pertama kali melihat Brayen.
"Lebih tepatnya sahabat rasa saudara kandung." Jawab Brayen sambil tersenyum manis pada Alyn. Arya yang tidak suka itu malah menyikut pinggang Brayen.
"Kau tidak berubah. Masih sama. Pencemburu adalah sifat alami mu." Ujar Brayen.
__ADS_1
"Ck." Arya malah berdecak dan memutar bola mata malas.
"Istri mu sudah baik baik saja dan masalah mu sudah selesai. Kalau begitu aku pamit dulu." Ujar Brayen berpamitan pada Arya.
"Kenapa terburu buru?" Tanya Arya yang masih merindukan sahabatnya alias kakak angkatnya.
"Aku sibuk. Kalau membutuhkan bantuanku kau tahu kan cara menghubungi ku." Ujar Brayen.
"Apa segalanya sudah kamu urus?." Tanya Arya. Brayen mengangguk dan mengajak Arya berbicara agak jauh dari Alyn. Brayen berbisik pada Arya. Pertanyaan Arya pada Brayen membuat Alyn curiga.
"Apa yang kalian bicarakan?..." Arya dan Brayen saling pandang dalam diam kemudian menatap Alyn tanpa mau menjawab.
"Mas jangan katakan kamu mau balas dendam sama mas Iqbal?... Atau ada hal buruk yang terjadi pada Rani. Jawab mas jangan diam saja." Tanya Alyn dengan suara bergetar, karena takut membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Rani. Arya mengernyitkan alisnya.
"Sudah kukatakan berulang kali, jangan sebut nama bedebah itu di hadapanku." Ujar Arya masih dengan nada tenang. Walau emosi sudah menguar. Membayangkan Alyn tinggal satu atap dengan Iqbal membuat emosi Arya meradang.
Mengerti suasana sedang tidak nyaman, Brayen melangkah keluar meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar itu.
"Katakan mas apa yang kamu rencanakan? Aku tidak mau kamu balas dendam pada mas Iqbal." Tanya Alyn dengan lirih.
"Setelah semua yang Iqbal lakukan padamu. Kau masih saja mengkhawatirkannya." Ujar Arya yang masih cemburu jika Alyn menyebut nama Iqbal.
"Iqbal seperti itu karena kamu mas." Ucapan Alyn membuat Arya makin marah. Karena Alyn masih saja membela Iqbal.
"Cukup Alyn. Aku sudah memaafkanmu karena sudah lari dariku bersama laki laki lain. Jangan membuat emosiku semakin memuncak." Ujar Arya dengan tegas. Kata kata Arya menyinggung hati Alyn. Arya sudah merendahkan harga diri Alyn. Padahal Alyn tak sedikit pun berniat kabur dengan laki laki lain.
"Menculik???" Ujar Arya.
"Ya aku di culik. Bukan lari ke pelukan mantan seperti mu." Ucapan Alyn membuat Arya semakin merasa bersalah.
"Alyn...." Arya menyesal dan hendak menyentuh Alyn tapi Alyn menolak.
"Pergilah. Urus dendam dan mantanmu. Setelah itu ceraikan aku." Ujar Alyn.
"Berhenti meminta cerai dariku."
Kemudian Arya keluar menemui Brayen.
"Bagaimana?...Apa mau di lanjutkan?" Tanya Brayen.
"Jangan. Nanti istriku akan semakin marah." Jawab Arya.
"Hemmmm...Jadi suami takut istri....Jadi kamu akan membiarkan dia bebas begitu saja?" Tanya Brayen.
"Tentu tidak. Kita ubah rencana. Iqbal tetap harus di hukum walau itu hukuman ringan." Jawab Arya.
Kemudian Arya merancang siasat bersama Brayen.
__ADS_1
****
Arya kembali masuk ke ruangan Alyn. Tapi Alyn tetap tidak mau melihat Arya.
"Sayang... Jangan marah....Aku akan mengabulkan permintaan mu. Bukan kah kamu ingin tahu keadaan Rani yang sebenarnya." Ujar Arya. Akhirnya Alyn mau melihat Arya.
"Kamu bilang Rani tidak di rawat di sini?…" Ujar Alyn.
"Maaf aku bohong. Aku hanya tidak mau kamu cemas."
******
Arya mendorong kursi roda Alyn menuju ruangan Rani.
"Sayang maaf ya...Aku janji akan berubah." Ujar Arya.
"Iya mas. Aku juga minta maaf. Harusnya kita sama-sama introspeksi diri." Kemudian Arya mengecup ubun ubun Alyn.
Alyn dapat melihat wajah Iqbal yang lusuh. Iqbal terlihat kalut.
"Mas." Ujar Alyn yang kini sudah berada di hadapan Iqbal. Seketika Iqbal menatap Alyn.
"Maaf." Ujar Iqbal dengan bersungguh-sungguh karena rasa bersalahnya.
"kamu dapat salam dari Rani." Ujar Alyn.
"Apa?" Tanya Iqbal antusias.
"Kata Rani. Jika aku mati, Katakan pada Iqbal, aku tidak akan pernah memaafkannya dan aku menyesal pernah mencintainya. Tidak perlu belajar mencintaiku. Aku sendiri takut jika harus di cintai orang seperti Iqbal." Ujar Alyn menyampaikan pesan dari Rani.
Mendengar kata-kata Alyn membuat hati Iqbal sakit terasa di cabik cabik. Seperti ada rasa tak rela. Kini tangan Iqbal mengepalkan tangannya, menahan semua gejolak yang ada.
Kemudian dokter keluar dari ruangan Rani dengan wajah lesu.
"Bagaimana dokter keadaan Rani?" Tanya Iqbal yang sudah harap harap cemas sejak tadi.
"Maaf tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain." Jawab dokter.
"Apa maksud anda? Katakan yang jelas?" Teriak Iqbal. Yang sudah mencengkram kerah dokter itu. Dokter hanya menggelengkan kepala dan menghampus air matanya. Kemudian berlalu pergi.
Kaki Iqbal seketika lemas tak bisa menopang badannya. Iqbal jatuh berlutut.
"Aaaaaakkhhhhhh....Raniiiiiiiii...." Teriakan Iqbal terdengar begitu pilu. Hati Iqbal hancur, seperti separuh jiwanya hancur.
********
Jangan lupa like komentar vote favorit
__ADS_1
like nya jangan di lewati pliiiiiiiiiiiiisssss