AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
ALYN KONTRAKSI


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini kehamilan Alyn sudah menginjak usia 4 bulan.


Sudah tidak ada morning sickness lagi. Indra penciuman Alyn juga kembali normal. Hanya saja nafsu makan Alyn semakin hari semakin meningkat.


Tapi Permintaan Alyn terkadang juga masih aneh-aneh. Seperti saat ini, Alyn meminta Arya memanjat pohon mangga di halaman belakang rumahnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Alyn ingin makan rujak petis dengan buah segar langsung petik dari pohonnya.


Arya sudah menolak keinginan istri tercintanya, takut hal itu bisa mengganggu kesehatan istri dan anaknya. Tapi keinginan Bumil tidak pernah bisa di tolak. Pada akhirnya Arya menurutinya.


Mereka terlihat kompak sebagai sepasang suami istri. Arya yang mengolah petisnya sedangkan Alyn mengupas buah mangganya.


Mereka makan rujak mangga berdua di gardu halaman belakang rumahnya. Di selingi obrolan ringan dan canda tawa.


***


Perut Alyn semakin membesar. Usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan tapi Perut Alyn terlihat lebih besar dari ibu hamil pada umumnya. Arya dan Alyn sudah bisa merasakan tendangan dari si debay. Bayi di kandungan Alyn sangat aktif. Gerakan mereka akan lebih aktif saat Arya menyentuh perut Alyn. Sepertinya bayi itu sudah bisa mengenali Ayahnya.


"Hay anak Papa..." Arya mengusap perut buncit Alyn.


"Dug... Dug...Dug..." Tendangan sang Debay sangat aktif di tangan Arya. Di bagian manapun tangan Arya di letakkan tendangan debay selalu mengikuti. Dan itu membuat Arya merasa terharu. Masih di dalam perut saja Arya sangat bahagia apa lagi setelah keluar.


"Kangen Papa tidak?..."


"Dug dug dug..." Tendangan semakin gencar.


"Sayang dedek bayinya pengen di tengok."


"itu sih akal akalan kamu saja mas."


"Ok kita tes ya." Ucap Arya. Arya mendekatkan bibirnya ke perut buncit Alyn.


"Anak papa yang baik. Kalau kamu setuju sama pertanyaan Papa, tangan papa di tendang ya. Mengerti." Arya meletakkan tangannya ke perut Alyn. "Dug dug dug." Si debay menendang nendang.


"Anak papa yang baik, Apa Papa jahat?" Arya meletakkan tangannya ke perut Alyn tapi tak ada tendangan dari debay. Arya menaik-turunkan alisnya melihat Alyn yang tersenyum melihat suaminya seperti anak kecil.


"Anak Papa yang baik. Apa Papamu jelek?" Tetap tidak ada tendangan.


"Anak Papa yang baik. Apa Papamu ganteng?"


"Dug dug dug..." Debay merespon.


"Sayang kamu lihat kan anakku setuju kalau Papanya ganteng." Ujar Arya. Alyn hanya menyaksikan kebahagiaan Arya semenjak dia hamil.


"Anak Papa yang baik. Apa kalian kangen Papa dan ingin di tengok?..."


"Dug dug dug dug..."Debay merespon.


"Hahahahahaha..." Alyn tertawa. Anak dan ayah sangat kompak. Akhirnya Arya mendapatkan jatahnya juga.

__ADS_1


****


Arya selalu setia menemani istrinya memeriksakan kehamilannya di rumah sakit. Arya menjadi suami yang siap siaga untuk Alyn.


Di ruangan dokter spesialis kandungan, Alyn melakukan USD di temani Arya di sampingnya. Di layar monitor terlihat ada dua bayi yang sudah bisa bergerak gerak. Yang satu laki laki dan yang satu perempuan. Kebahagiaan Alyn dan Arya tambah berlipat lipat.


Arya dan Alyn sangat bahagia melihat gambar di monitor itu. Tak henti hentinya Arya bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan.


"Baby girl bisa bantuin kamu nanti untuk masak di dapur. Dan Baby boy akan jaga Mama sama adiknya kalau aku tidak ada." Ucap Arya.


"Mas kamu ngomong apa sih? Aku tidak suka." Alyn merengut.


"Hehehe."


****


"Mas kebelet pipis." Ujar Alyn sambil menyilangkan kakinya, setelah keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan. Arya tersenyum melihat tingkah konyol Alyn yang terlihat menggemaskan, terkadang juga menyebalkan setelah hamil.


Kemudian Arya segera mengantarkan Alyn ke toilet. Akhir akhir ini Alyn memang lebih sering keluar masuk toilet untuk buang air kecil. Dan hal yang paling di syukuri Arya saat ini, dia sudah tidak lagi bau di Indra penciuman Alyn.


Setelah Alyn memasuki toilet, Arya menghubungi asisten pribadinya untuk menanyakan perihal seputar pekerjaan. Arya menjauh dari toilet, memilih tempat yang lebih sepi dari lalu lalang orang yang lewat. Arya pindah di pojok tapi masih bisa melihat ke arah pintu keluar toilet.


Beberapa saat kemudian Alyn keluar dari toilet wanita. Ia menoleh ke kanan kemudian menoleh ke kiri akhirnya dia bisa menemukan Arya yang sedang menghubungi seseorang lewat telepon di seberang lorong rumah sakit.


Alyn berjalan menghampiri Arya dengan perutnya yang mulai membuncit.


Arya dan Alyn sama sama tercengang melihatnya. Perut wanita itu buncit tapi lebih buncit perut Alyn. Alyn dan Arya terkesiap melihatnya.


"SUCI." Cetus Alyn. Suci terkejut mendengar namanya di panggil. Suci mendongak lalu berdiri, menatap lekat wajah Alyn. Suci melihat perut Alyn dan langsung menutupi perutnya sendiri yang besar. Suci pergi menjauh meninggalkan Alyn. Suci mempercepat langkahnya karena malu berhadapan dengan Alyn.


Alyn dan Arya berdiri mematung menyaksikan kepergian Suci. Setelah Suci tak nampak Arya menghampiri Alyn.


"Sayang, maafkan lah dia setulus hatimu, seperti kamu memaafkanku. Kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu menyimpan dendam." Ucap Arya mengingatkan Alyn, bahwa sifat dendam itu tidak baik dan hanya memperburuk keadaan. Alyn mengangguk.


"Apa Suci sudah nikah mas?"


"Aku tidak tahu."


"Apa itu anak dari Cassanova sekaligus Mahasiswa abadi itu mas?"


"Aku juga tidak tahu."


***


Alyn sering mengalami kontraksi palsu akhir akhir ini, karena usia kehamilan Alyn sudah 9 bulan. Dan prediksi dokter beberapa hari lagi Alyn akan melahirkan.


Alyn lebih sering keluar masuk toilet sekarang, untuk buang air kecil. Punggung Alyn juga sering sakit. Arya selalu memijat punggung Alyn setiap Alyn mengeluh sakit.

__ADS_1


Arya sudah menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan untuk proses bersalin Alyn. Dari mobil, Pakaian dan lain lain. Hingga jika saatnya tiba dia tidak perlu kebingungan.


Hari ini Arya terpaksa pergi ke kantor karena proyek barunya akan segera di resmikan dan itu membutuhkan waktu , tenaga ekstra dan butuh konsentrasi untuk mengurusnya. Arya berkejaran dengan waktu.


Sebenarnya ini tidak mudah bagi Arya karena konsentrasi Arya terbelah menjadi dua dengan memikirkan proses persalinan Alyn, yang katanya tidak mudah bagi seorang ibu. Bahkan ibu harus bertarung melawan maut saat proses itu. Di kantor Arya tidak bisa konsentrasi padahal dia sedang melakukan rapat, Arya gelisah.


****


Alyn semakin kesakitan. Rasa sakitnya lebih dari sakit yang sebelumnya.


"Bi ini kenapa sakit banget ya Bi, tidak seperti biasanya." Alyn sudah mengeluarkan banyak peluh. Alyn meminum air mineral, biasanya sakitnya akan segera hilang setelah beberapa saat tapi sakitnya ini tidak hilang hilang malah semakin sakit.


Padahal proses persalinan masih jauh prediksi dokter.


"Bi tolong hubungi mas Arya Bi saya tidak kuat lagi." Ucap Alyn.


****


Arya menerima panggilan telepon di tengah tengah rapat. Arya terlihat panik dan gusar.


"Segera bawa istri saya ke rumah sakit xxx. Kita bertemu di sana."


"Rapat di tunda." Kemudian Arya bangkit mendorong mundur kursi dengan lututnya. Dia berjalan setengah berlari, jantung Arya bergemuruh hebat. Lututnya terasa lemas. Arya sangat panik dan khawatir.


Arya menggunakan motor kantor. Jalanan cukup lengang karena masih jam kerja. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan penuh karena jarak kantor dan rumah sakit lumayan jauh.


Arya meliuk-liuk menyalip setiap kendaraan yang berada di depannya dengan lihai. Motor, mobil, truk semua dia salip.


Arya terkejut saat ada anak kecil berseragam merah putih menyebrang jalan sembarangan. Arya berusaha menghindari anak itu tapi naas motor Arya menabrak trotoar hingga Arya terlentang jauh dari motornya.


Tubuh Arya bersimbah darah. Banyak orang mengerubunginya. helm Arya terlepas dari kepalanya.


"Masih hidup apa meninggalkan di tempat?"


"Tidak tahu."


"Kasihan sekali ya..."


"Darahnya banyak banget."


"Dia tidak bergerak."


Ucapan orang orang yang mengerubungi Arya.


****


SELAMAT MENIKMATI

__ADS_1


__ADS_2