
Kemudian Iqbal, Brayen, Arya, Khasanuci dan anak buahnya melangkah mundur dengan kedua tangan yang terangkat ke atas . Dengan langkah perlahan memberikan jalan untuk Yazid keluar, mereka semua menatapnya begitu tajam kecuali Khasanuci. Yazid masih menodongkan pistol ke kepala Alena dengan tangan kanannya.
Khasanuci yang posisinya bersebrangan dengan Iqbal terlihat santai dan dia memberikan kode pada Iqbal. Khasanuci di sisi sebelah kanan Yazid sementara Iqbal berada di sisi kiri Yazid. Sementara Iqbal menyimpan pisau di balik punggung tangan kirinya yang tertancap di jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Eh NYAMUK." Refleks Yazid mengarahkan pistolnya ke arah Khasanuci saat Khasanuci menepuk tangannya. Sebelum pistol itu benar benar mengarah ke Khasanuci Iqbal dengan cekatan melempar pisau ke tangan Yazid hingga pistol di tangan Yazid terjatuh ke bawah.
Dengan segera Brayen menyerang Yazid. Brayen menghajar Yazid dengan serangan membabi buta. Yazid sudah berusaha melawan tapi Brayen tidak memberikan kesempatan untuknya membalas serangan Brayen.
"Bug..."
"Brengsek."
"Berani kau menyentuh istriku."
"Darah PENGHKIANATAN mengalir di tubuh mu."
"Ku bunuh kau."
"Akan ku hancurkan seluruh keturunan mu sampai ke akar-akarnya."
"Bug...Bug...Bug...Bug...." Brayen terus menghajar menendang, menyikut, meninju bahkan membanting Yazid hingga dia tak berdaya, sementara yang lain hanya menonton. Membiarkan Brayen melampiaskan amarahnya. Karena mereka menganggap Brayen lah yang lebih berhak membalas kekejian Yazid pada keluarganya dan juga rakyat Chiber.
"ABANG BERHENTIIII..." Teriakan Alena terjeda sejenak. Brayen masih mengepalkan tangannya saat meninju perut Yazid, mata Brayen beralih menatap Alena. Brayen pun tersenyum samar menatap Alena.
Arya, Khasanuci dan Iqbal memilih keluar. Brayen berjalan mengambil pistol menoleh sebentar dan...
"Door...Door..." Alena terperanjat kaget, dia menutup mata dan telinganya saat Brayen menembak kaki kiri dan kanan Yazid. Anak buah Brayen meringkus Yazid dan menyeretnya keluar.
__ADS_1
Brayen berjalan ke arah Alena Kemudian memeluk Alena begitu erat. Hati Alena terasa lega dan tenang berada di pelukan Brayen, dia menangis tersedu-sedu dalam dekapan Brayen.
Brayen berusaha melepaskan pelukan Alena yang membelit tubuhnya begitu erat. Tapi Alena teramat lengket tidak mau melepaskan Brayen, Brayen tersenyum senang melihatnya. Alena seperti anak kecil yang tidak mau lepas dari ibunya.
"Abang aku takut Abang kenapa Napa, ku pikir Abang udah.... Udah...." Alena merengek karena Brayen tidak mau di peluk. Alena menangis makin menjadi-jadi di pelukan Brayen. Dia merasa lega, tak menyangka bahwa suaminya masih hidup.
"Ayo kita pulang. Yang lain sudah menunggu di bawah." Ucap Brayen. Brayen terus membujuk Alena tapi Alena masih tidak berhenti menangis, Alena masih syok dengan peristiwa penculikan dan berita kematian Brayen, hatinya masih kacau. Brayen yang rindu dengan Alena langsung menciumnya. Berharap bisa mengurangi rasa takut di hati Alena.
Toh misi membongkar kedok Yazid dan keluarganya masih di lakukan besok. Bahkan rencana sudah tersusun rapi, hanya tinggal menjalankannya saja.
***
"Di mana Alena dan Brayen? Sejak tadi di tunggu tidak kunjung turun." Ujar Arya yang baru saja selesai membereskan masalah anak buah Yazid di lantai dasar.
"Mungkin sedang membujuk dan menenangkan Alena, takut Alena mengalami trauma psikologis setelah mengalami kejadian penculikan." Ucap Iqbal.
"Bisa jadi." Sahut Khasanuci. Sementara Arya manggut-manggut.
"Jangan menatap ku seperti itu. Mau ku jonggkel Matamu, hah." Ujar Khasanuci dengan suara tinggi.
"Kau dan keluargamu begitu kejam, bukan hanya pada keluarga Bos ku tapi juga pada rakyat jelata." Kemudian Khasanuci meludahi wajah Yazid dan menendangnya hingga roboh.
***
"Lama sekali, sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan di atas." Arya masih menggerutu kesal.
"Sudah lah Tuan Arya, anda santai saja sambil menghisap rokok." Ucap Khasanuci yang sejak tadi merokok bersama dengan Iqbal.
__ADS_1
"Aku tidak merokok. Istri dan anakku pasti cemas memikirkan keadaanku." Ucap Arya.
"Ya elah, lebay sekali. Tuan Iqbal juga punya istri tapi tidak selebay anda Tuan Arya." Ucap Khasanuci.
"Aku juga merindukan Istriku." Ucap Iqbal yang sejak tadi diam saja kini malah angkat suara.
"Eh, salah ya..." Ucap Khasanuci.
"Kau saja yang tidak merindukan istrimu karena istrimu galak." Ucap Arya.
"Hey kita semua sama, suami perkasa yang takut istri Hahahaha..." Ucap Khasanuci.
"Bukan takut, hanya mengalah karena cinta." Sahut Iqbal.
"Tuh dengarkan apa kata Iqbal." Ucap Arya membenarkan ucapan Iqbal.
"Kalau anda bukan mengalah tuan Arya, tapi merasa bersalah karena pernah berkhianat." Ucap Khasanuci.
"Sialan kau." Ucap Arya menginjak kaki Khasanuci.
"Aaawww... Dasar suami tukang selingkuh." Ujar Khasanuci yang tidak terima dengan perlakuan Arya.
"Mau mati kau." Arya mendelik ke arah Khasanuci, dia sangat malu Khasanuci mengatainya di depan Iqbal, mantan kekasih yang pernah di cintai istrinya.
"Huuuuufffhhh...Aku juga merasa bersalah karena sudah memperkosa Rani. Apapun alasannya perbuatanku tidak dapat di benarkan. Kesalahanku jauh lebih fatal di bandingkan kesalahan Arya." Sahut Iqbal. Semua orang tahu jika Rani hamil duluan karena Iqbal, jadi Iqbal tidak merasa sungkan mengungkapkannya.
"Tenang lah saudaraku, yang penting kau sudah menyesalinya dan mau bertanggung jawab." Ucap Arya kemudian menepuk pundak Iqbal untuk memberikan semangat.
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI