
"Lalu apa lagi yang Yazid lakukan padamu?..."
"Karena aku sedih dan tidak mau makan, dia mau mencuci otakku supaya nggak ingat Abang." Brayen kembali memeluk Alena dengan sangat erat. Alena dapat merasakan emosi Brayen lewat tarikan nafasnya yang kembang kempis.
"Abang memeluknya kekencangan, aku sampai sesak nafas."
"Maaf aku tidak sengaja." Ucap Brayen merasa bersalah.
"Nggak apa-apa."
"Percayalah, aku akan membalas perbuatannya dengan setimpal." Kemudian Brayen membawa Alena ke atas ranjang lalu menceritakan segalanya pada Alena. Menceritakan masa lalunya dan rencananya besok. Alena pun kembali menangis tersedu-sedu takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
Brayen terus mengusap punggung Alena berusaha menenangkan hati istri kecilnya. Alena segera menghapus air matanya karena tidak ingin Brayen terbebani dengan kesedihan Alena.
"Semoga Abang bisa membongkar kedok orang jahat disana. Dan yang jahat bisa mendapatkan balasan yang setimpal."
"Aamiin."
"Terus Abang bakal jadi orang kaya nomor satu di negeri Chiber?..."
"Aku sama sekali tidak tertarik pada kekayaan, karena kekayaan ibuku sudah lama menderita. Aku hanya ingin di sini, Aku hanya ingin menjadi seorang suami biasa dan Ayah dari anak-anak kita. Aku kesana hanya ingin membersihkan nama baik ibuku dan membasmi para penjahat yang ingin membunuh ibuku." Ucap Brayen yang sebenarnya bimbang, sebenarnya hati Brayen sedang tertekan dan tidak baik-baik saja. Apa yang di alaminya terasa lebih buruk dari pada di buang di panti asuhan.
Di malam terakhir ini Alena dan Brayen hanya melakukan ibadah dan berdoa sepanjang malam. Berharap tujuannya yang baik ini di beri kelancaran.
***
Di Negeri Chiber.
Berkat pengakuan dari para penjahat yang berhasil di bekuk oleh Brayen, Brayen berhasil mendapatkan informasi mengenai para pengkhianat negara, anggota politik negeri Chiber.
Kelompok Brayen sudah mendapatkan bukti para koruptor di negeri Chiber. Yazid melakukan korupsi besar-besaran.
Para penjahat yang terlibat dalam pembunuhan Khekanan dan yang ingin melenyapkan Zara Anne berhasil di bekuk semua. Perdana menteri pun juga berhasil di bekuk. Mereka di culik satu persatu di kediamannya.
Di negeri Chiber sudah tersebar desas desus mengenai Yazid yang merupakan hasil perselingkuhan dari Hazel pengawal pribadi Haya Casiraghi, kemudian memfitnah Zara Anne. Hal itu membuat Haya Casiraghi kalang kabut kebingungan dan konsentrasinya terpecah karena kekacauan yang terjadi.
***
__ADS_1
Ibu kandung Khekanan(Khaidar) yang sudah menerima surat kaleng dari Brayen mengenai kebobrokan Haya Casiraghi dan perdana menteri, membakar hangus surat tersebut.
Ibu Khaidar juga sudah menerima bukti bukti kejahatan Yazid, hanya perlu pengakuan dari Haya Casiraghi.
Akhir pesan di surat panjang yang Brayen kirim pada Ibu Khaidar bertuliskan. " Sampai kapan anda akan membiarkan kejahatan terjadi dan mengubur kebenaran dalam diam?... Mendiang anakmu Khekanan dan suamimu Syahir pasti menangis di bawah tanah. Tolong beri saya kesempatan untuk membongkar kedok mereka. Aku rela di hukum mati jika terbukti aku bersalah."
Ibu Khaidar diam diam menyuruh pengawal setianya untuk memasang CCTV di tempat tersembunyi di semua tempat, terutama di wilayah Haya Casiraghi. Ibu Khaidar tak langsung mempercayai surat kaleng tersebut, maka dari itu dia melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan caranya sendiri. Dan menyuruh orang untuk memata matai mereka.
Ibu Khaidar memberikan Brayen jalan untuk masuk ke rumah besar. Brayen di antar dua pengawal menuju ke ruangan Ibu Khaidar Yaitu nenek Brayen.
Kini Brayen duduk berhadapan dengan Neneknya. Brayen kemudian melepas maskernya. Hati Khaidar terenyuh melihat wajah wajah Brayen, perpaduan antara Zara Anne dan Khekanan. Hanya matanya yang sama persis dengan Zara Anne tapi untuk keseluruhan sama persis dengan Khekanan.
Namun Khaidar masih menunjukkan wibawanya di hadapan Brayen. Begitupun Brayen yang menatap Khaidar dengan pandangan yang tegas. Kemudian Brayen menyampaikan rencananya pada Khaidar dan meminta sedikit bantuan dari Khaidar. Khaidar pun mengabulkan permintaan Brayen.
***
Haya Casiraghi terkejut saat melihat Zara Anne berada di kamarnya. Zara Anne duduk sambil membersihkan kukunya.
"Kau..." Ucap Haya.
"Bukan kah kau sudah mati!"
"Aku tidak akan mati sebelum membongkar perselingkuhan mu dengan Hazel pengawal pribadi mu. Rakyat sudah menuntut agar putramu melakukan test DNA."
"Hah....Hahahaha... Hal itu tidak akan terjadi tanpa persetujuan dari Yazid."
"Dasar wanita tak tahu diri. Kau yang berselingkuh dengan Hazel tapi kau dan ayahmu yang licik itu malah menjebak ku."
"Hey... Jaga ucapanmu... Kau tidak tahu bicara dengan siapa."
"Aku tahu, kau adalah sampah masyarakat."
Tangan Haya Casiraghi sudah mengayun ke atas untuk menampar Zara Anne namun berhasil di cekal oleh Zara, kemudian Zara memelintir tangan Haya.
"Brengsek kau... Kau sudah masuk ke kandang singa. Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu seperti aku membunuh Khekanan." Ucap Haya. Haya yang tak puas saat melihat perdana menteri hanya menembak Khekanan satu kali, Haya juga menembaknya berkali kali, Haya berkali kali menembak sebab dia sakit hati karena Khekanan sudah membunuh Hazel.
Zara Anne berusaha menahan emosi, dia masih ingin membongkar kedok Haya Casiraghi.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kau tega melakukannya. APA SALAH SUAMIKU?...." Zara Anne yang terbawa emosi tak bisa mengontrol emosinya padahal dia sudah berusaha menahannya.
"KARENA DIA HANYA MELIHATMU, TAK PERNAH MENYENTUHKU DAN DIA MALAH MEMBUNUH KEKASIHKU HAZEL." Haya Casiraghi berteriak tak kalah kencang. Beruntung kamarnya kedap suara jadi teriakannya tidak akan terdengar sampai keluar, pikir Haya.
Zara Anne pun menangis lega sambil tersenyum.
"Kau sudah gila. Apa yang kau tertawakan?..."
"Kita sedang siaran langsung di TV. Rakyat Chiber saat ini sedang menyaksikan karaktermu yang buruk. Terima kasih kau sudah jujur. Lihat lah di atas mu. Di sana dan di sana." Ucap Zara Anne menunjuk kamera ke atas dan ke beberapa sudut. Haya Casiraghi langsung terduduk lemas. Dia berusaha merapikan pakaiannya karena salah tingkah.
"Dengar penjelasanku, semua itu tidak benar. Aku hanya bergurau." Ucap Haya Casiraghi yang wajahnya sudah pucat.
Kemudian pintu kamar terbuka, menampakkan Ibu Khaidar yang wajahnya merah padam. Beliau masuk dengan banyaknya wartawan yang meliput. Ibu Khaidar masih berusaha menahan diri, karena saat ini sedang siaran langsung di TV.
Brayen yang bersembunyi di sudut lemari pun ikut keluar. Brayen bersembunyi untuk berjaga-jaga jikalau terjadi hal yang buruk pada Ibunya. Brayen menghampiri ibunya yang sedang menangis kemudian memeluknya.
"Pengawal seret dia dan jebloskan dia ke penjara." Ucap Khaidar menyuruh Pengawal untuk menjebloskan Haya Casiraghi ke penjara.
Semua Rakyat Chiber yang menonton drama Haya Casiraghi mengecam keras dan mengutuk perbuatan Haya Casiraghi dan keluarganya.
"Mari Bu kita pulang, nama ibu sudah bersih." Ucap Brayen.
"Kalian mau kemana?..."
"Sudah waktunya kami pulang."
"Ini rumah kalian."
"Kami tidak punya tempat di sini." Ucap Brayen.
Brayen menghela nafas berat, dia tak tega.
***
SELAMAT MENIKMATI...
Anggap percakapan bahasa Inggris semua ya.
__ADS_1