
Suci sangat malu pada Arya dan Brayen terutama pada Alyn. Dengan angkuhnya dia datang menemui Alyn dan membanggakan perzinahannya bahkan menyuruh Alyn untuk meninggalkan Arya.
Seandainya dia tahu bahwa laki-laki yang bercinta dengannya bukan Arya. Tentu Suci akan menutup rapat-rapat aib ini. Dan Suci tidak perlu semalu dan sehancur ini.
Suci sangat jijik pada dirinya sendiri. Pelacur saja masih ada harganya. Tidur dengan laki laki yang tidak di kenal masih dapat bayaran. Sedangkan Suci tidur dengan laki laki tak di kenal kemudian di tinggal seperti sampah.
Apakah ini hukuman karena sudah mengganggu rumah tangga orang.
Sekarang Suci sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan mereka bertiga.
"Ini file yang berisi identitas pemuda yang bermalam dengan mu di hotel. Semua tertera secara detail di dalam file ini. Kau bisa meminta pertanggungjawaban padanya. Tapi dia adalah sang Cassanova sekaligus Mahasiswa abadi. Entah kau mau apa tidak!..." Brayen menyerahkan file tentang identitas pemuda yang bermalam dengan Suci. Membuat Suci semakin malu dan kian terpuruk.
Suci sangat jijik membayangkan bercumbuannya, yang katanya Brayen dengan sang Cassanova. Suci perawan di cabik cabik oleh pria bekas puluhan atau ratusan wanita. Suci mendapatkan sisa yang menjijikkan.
Suci menangis tersedu-sedu hingga bahunya bergetar.
Alyn hanya menatapnya tak tega. Pikiran Alyn melayang kemana-mana.
POV Alyn.
"Mungkin ini hukuman buatmu Suci karena berusaha menghancurkan rumah tangga orang. Aku sedikit kasihan padamu. Kesucianmu hilang di renggut orang tak di kenal. Bukan di renggut sih tapi di serahkan."
"Walau bagaimanapun Suci juga pihak yang terluka. Karena cinta yang tak sesuai pada tempatnya manusia bisa berbuat apapun. Bahkan rela melenyapkan nyawa karena cinta tanpa keimanan pada yang maha kuasa. Semoga Suci tidak termasuk orang yang seperti itu."
"Padahal orang yang bunuh diri dosanya lebih besar dari orang yang membunuh orang lain."
"Dengan bunuh diri, seseorang akan merasakan penderitaan tiga kali, yang pertama penderitaan di dunia yang membuatnya melakukan hal seperti itu, yang ke dua penderitaan sakaratul maut, dan yang terakhir penderitaan yang kekal di akhirat nanti."
Sebenarnya Arya juga tidak tega melihat kondisi Suci tapi Arya ingin menjaga perasaan Alyn.
"Kalau begitu kami pulang." Ujar Brayen yang hendak bangkit namun bahunya di tahan oleh Arya. Arya menekan bahu Brayen hingga dia duduk kembali. Membuat Brayen memicingkan mata padanya.
"Kau mau kemana? Kenapa buru buru." Ujar Arya tersenyum manis pada Brayen, membuat Brayen geli di buatnya.
"Aku harus pergi. Aku masih banyak urusan." Ujar Brayen tegas.
"Urusanmu di sini belum selesai. Kau temani Suci di sini." Ucap Arya.
"Kenapa harus aku?" Ujar Brayen.
"Bukan kah kau penasaran kenapa aku sangat berat meninggalkan Suci. Jika kau tetap di sini maka kau akan dapat jawabannya." Ucap Arya berbisik di telinga Brayen.
"Maaf aku sudah tidak tertarik." Tolak Brayen.
"Jika kau beranjak dari sini maka kau akan menyesal." Tegas Arya.
"Suci jaga diri mu baik baik. Aku akan pergi." Ujar Arya.
"Suci yang sabar ya." Ucap Alyn tulus.
"Aku bisa jalan sendiri." Ujar Alyn menyingkirkan tangan Arya ketika Arya sudah menyentuh lututnya hendak membopong Alyn.
Arya mengerutkan alisnya saat melihat Alyn berjalan sendiri walaupun langkahnya terseok-seok
"Dasar wanita." Gumam Arya melihat Alyn berjalan dengan langkah pelan dan terseok-seok. Baru tadi istri kecilnya itu merengek tidak bisa jalan. Entah dia sengaja ingin mengompori Suci atau ingin bermanja-manja dengan suaminya.
__ADS_1
"Berarti masih bisa di pakai." Batin Arya tersenyum menyeringai.
Arya menyusul kepergian Alyn. Arya yang tidak sabaran melihat langkah kaki Alyn yang lambat segera menggendongnya.
"Mas aku bisa jalan sendiri tidak usah di gendong." Protes Alyn.
"Kelamaan. Cepat kita pulang terus kita bikin Adik." Ujar Arya yang sudah hampir sampai mobil.
"Mas kamu itu nyebelin."
"Salah sendiri kamu enak." Jawab Arya tanpa tahu malu. Arya memasukkan Alyn ke kursi depan mobil.
"Maaaaasss...." Alyn merengek.
"Cup..." Satu kecupan mendarat di bibir ranum Alyn.
"Kamu itu maniak **** ya mas." Ucap Alyn kesal.
"Jangan berisik." Ucap Arya memasang sabuk pengaman untuk Alyn. Lalu memutari mobil kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi. Alyn mengerucutkan bibirnya karena Arya sangat keterlaluan.
****
Tiga jam kemudian. Hp Arya berdering. Namun tak Arya hiraukan karena Arya sedang sibuk. Namun Hp Arya terus berdering tanpa henti.
"Mas angkat dulu telponnya, siapa tahu itu penting!" Ucap Alyn.
Akhirnya Arya menerima panggilan dari
Brayen.
"Ada apa? Kau mengganggu orang yang sedang asyik bercinta saja." Ucap Arya dengan suara yang terdengar kesal. Alyn yang berada di bawahnya mencubit lengan Arya, bisa bisanya mengatakan hal itu dengan mudah.
"Kenapa menelpon ku. Kan sudah ada kau yang mengurusnya." Jawab Arya.
"Jadi ini alasanmu berat meninggalkan Suci?" Ujar Brayen.
"Betul. Ya sudah, kau membuatku nanggung saja. Jangan ganggu aku lagi. Kau urus dia. Aku mau lanjut bercinta lagi dengan istriku." Arya memutuskan panggilannya dan melempar Hp ke sembarang arah.
"Sampai mana tadi." Tanya Arya.
****
Brayen memandangi keadaan Suci yang terikat dengan tali yang ia gunakan untuk percobaan bunuh diri.
Brayen mengikat Suci dengan tali itu kemudian menyumpal mulut Suci dengan sapu tangannya.
"Kau itu tidak mencintai Arya. Kau hanya terobsesi padanya. Jika kau mencintai Arya harusnya kau bisa menerima Arya bahagia bersama dengan orang lain meski bukan dengan mu."
"Jika kau terus seperti ini, Sama halnya kamu menyiksa Arya."
"Hormati hati, pikiran dan statusmu. Jangan menjadi rendah hanya karena cinta yang hilang."
"Namamu Suci. Sebelum memberimu nama aku yakin orang tua mu memberi harapan lebih padamu. Pasti orang tuamu berharap hati dan tingkah laku mu sesuci namamu."
"Kau mau mati kan. Baik aku bantu." Ucap Brayen.
__ADS_1
Brayen keluar dari kamar menuju dapur. Sambil menelepon anak buahnya, dia berusaha mencari sesuatu yang bisa melukai Suci. Membuka setiap laci dan.......
"Nah ketemu." Brayen mengambil pisau.
"Hallo....Bawa ular peliharaan ku ke alamat xxxx. Jangan yang itu tapi ular piton yang sudah jinak. Bawa kotak obat juga." Ujar Brayen berbicara di telepon dengan anak buahnya yang berada di seberang sana.
Brayen kembali ke kamar. Menghampiri Suci.
"Sini tanganmu." Brayen menarik tangan Suci yang terikat.
"Aku akan membuat mu mati perlahan." Ujar Brayen.
Brayen menyayat kecil kecil jari jari Suci. Membuat Suci meringis kesakitan. Dan menangis karena perih.
"Eemmmmm....Eeemmm... Eemmmmm..." Suci ingin berteriak namun tak bisa mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup sapu tangan.
"Jangan takut. Kau tidak akan mati dengan ini. Aku akan memberi mu kejutan sebentar lagi."
"Apa kau sakit?... Jawab lah atau aku akan menggoreskan pisau ini ke wajah mu." Tegas Brayen.
Suci langsung mengangguk karena kesakitan.
"Itu bukan sakaratul maut. Itu hanya luka ringan. Kecil. Jika kau tau rasanya sakaratul maut kau pasti akan menyesal telah melakukan percobaan bunuh diri."
"Pantas saja Arya berat meninggalkan mu. Kau selalu menterornya dengan ancaman bunuh diri. Cinta macam apa yang kau berikan untuk Arya. Apa kau tidak kasihan melihat Arya tertekan antara memilih wanita murahan sepertimu atau gadis baik baik seperti Alyn."
"Kau tahu kan Jawaban yang tepat! kenapa Tuhan tidak merestui hubungan mu dan Arya. Tapi malah memilih Alyn berjodoh dengan Arya. Aku rasa Tuhan saja muak dengan mu."
"Alyn adalah cinta Arya di masa kecilnya. Tapi semenjak kematian Arfa, Arya sudah tidak bisa di bawa ke kampung Nelayan lagi. Dulu Arya hidup tapi seperti orang mati, Kecelakaan Arfa yang terjadi di depan mata Arya membuat mental Arya terganggu."
"Karena kau. Arya hampir terbelenggu lagi ke dalam alam bawah sadarnya. Rasa bersalah Arya kembali menyeruak." Triak Brayen mengguncang bahu Suci.
"Seandainya kamu tidak terus menerus mengancam Arya. Tentu sudah lama Arya meninggalkan mu." Ucap Brayen makin lirih. Sementara Suci mencerna setiap ucapan Brayen.
"Cinta macam apa yang akan kau berikan pada Arya. Kau hanya bisa menyiksa Arya."
Mendengar bel berbunyi Brayen keluar. Tak lama kemudian Brayen kembali ke kamar bersama dua anak buahnya, yang membawa peti besar.
Mata Suci melotot saat melihat ular piton di keluarkan dari peti tersebut.
"Lempar ular itu pada Suci. Biar dia jadi santapan ular ini. Kau belum memberinya makan kan?" Tanya Brayen.
"Belum tuan." Jawab dua anak buahnya.
"Bagus. Biar Suci jadi santapan makan malamnya."
Suci meronta-ronta berusaha berteriak namun tak bisa mengeluarkan suara. Suci sangat ketakutan melihat ular besar itu berada di pangkuannya. Ular itu terus meliuk-liuk di atas tubuh Suci.
"Tenanglah sayang. Ini hanya latihan sebelum menuju alam kubur. Nanti di alam kubur pelaku bunuh diri juga akan di makan ular."
Kepala Ular itu sejajar dengan Wajah Suci. Suci yang ketakutan Akhirnya tak sadarkan diri.
"Buka tali pengikatnya" Perintah Brayen pada kedua anak buahnya. Kemudian Brayen mengoleskan salep pada luka sayatan di jari Suci.
"Semoga setelah ini kau akan takut melakukan percobaan bunuh diri lagi." Gumam Brayen.
__ADS_1
*****
Selamat bersenang-senang