AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
ALYN DAN RANI MULAI LEMAH


__ADS_3

Alyn langsung lemas saat tidak mendengar suara Arya lagi. Triakan Alyn makin lirih karena percuma berteriak pun Arya tak dengar.


"Berhenti Ran. percuma mas Arya sudah keluar. Dengar juga tidak." Ucap Alyn putus asa.


"Jangan menyerah Lyn. Pasti ada jalan keluarnya." Ujar Rani. Alyn menangis di pelukan Rani.


Langkah Arya terhenti. Dia melihat ke arah tempat tidur Alyn. Mata Arya fokus pada bantal yang terdapat beberapa rambut Alyn. Arya mengambil bantal itu lalu menciumnya.


Arya sangat mengenal bau parfum siapa itu.


Arya merasa sangat dekat dengan Alyn tapi Arya tak dapat melihatnya Alyn.


Iqbal sudah menyiapkan segala keperluan Alyn bahkan sampai parfum, handbody dan bedak, Iqbal tahu merk yang di sukai Alyn.


Arya membongkar semua isi lemari dan menemukan sesuatu terjatuh dari sana. Card memory Alyn.


"Alyyyyn.....Alyyyyn.... Dimana kamu?....."


"Alyyyyn...." Triak Arya. Alyn dan Rani kembali bersemangat saat masih bisa mendengar suara Arya. Arya membuka semua lemari. Membuka setiap Ruangan di kamar itu. Bahkan Arya mencari di kolom ranjang.


Alyn melihat ada rokok dan korek yang tergeletak di atas meja. Alyn mengambil rokok itu.

__ADS_1


"Ran tempat ini kedap suara tapi tempat ini pasti memiliki ventilasi udara. Asap pasti bisa bisa menyeruak keluar lewat celah celah di sini." Ujar Alyn.


Kemudian Alyn menyalakan rokok itu. Alyn dan Rani terbatuk batuk saat menghisap rokok itu. Kepulan asap keluar dari mulut mereka berdua.


"Asap rokok kurang banyak Lyn. Harus ada banyak asap agar bisa mengundang suamimu kesini." Ujar Rani.


Rani mengambil satu bantal dan membakarnya padahal Alyn sudah melarang.


"Ran kau sudah gila ya. Kita bisa mati karena kehabisan oksigen." Ujar Alyn.


Rani tak peduli larangan Alyn. Kepulan asap membuat Alyn dan Rani sesak. Alyn dan Rani terbatuk batuk.


"Uhuk uhuuuuk uhuuuuk."


"Ran. Matikan apinya. Jika tidak, kita bisa mati disini Ran. Aku sudah tidak tahan." Ujar Alyn yang nafasnya sudah mulai sesak karena kepulan asap.


"Iya kamu benar. Terpenjara di istana megah aku rasa lebih enak dari pada jadi mayat perawan." Jawab Rani.


Kemudian Alyn dan Rani keluar membawa air untuk memadamkan Api. Tapi sayangnya asap masih tetap bergumul di sana. Rani dan Alyn kembali masuk kamar mandi membasuh lagi wajahnya dengan air.


Bau menyengat berhasil membawa Arya kembali melangkah memasuki kamar mandi.

__ADS_1


Arya heran berasal dari mana bau menyengat itu. Arya mengelilingi kamar mandi yang sangat luas itu dan mengamati setiap dinding kamar mandi itu. Tidak ada yang mencurigakan.


Kini pandangan Arya beralih di cermin kamar mandi.


Arya mengambil marmer tempat sabun dan melemparkannya ke cermin itu. Tapi cermin itu tidak pecah. Bahkan tidak tergores sedikit pun.


"Ini bukan cermin biasa." Ujar Arya lirih. Entah kenapa Arya sangat yakin bahwa istrinya ada di balik cermin itu.


Arya mengambil pistol yang ada di pinggang belakangnya.


"Alyn jika kamu ada di depan cermin menyingkirkan lah. Aku akan menembak cermin itu." Teriak Arya.


Kemudian Arya menembak cermin itu. Namun cermin itu tidak tergores sedikit pun.


"Sial...Cermin apa yang Iqbal ciptakan." Arya ke luar menghampiri Zain.


"Ya Tuhan tolong kami." Doa Alyn dan Rani yang mulai lemah karena rasa sesak akibat kepulan asap itu.


"Cepat buka Cermin itu." Arya mencengkram kerah jas yang Zain kenakan.


"Cermin Apa yang anda maksud?" Tanya Zain tetap tenang dan pura pura bodoh.

__ADS_1


"Seraaaaaaaaang." Teriak Arya memerintah anak buahnya dan anak buah sahabatnya yang merupakan ketua mafia. Arya Bekerja sama dengan Brayen teman seperjuangannya semasa kecil saat keluarga Arya memberikan naungan padanya yang yatim piatu.


__ADS_2