
Anak buah Brayen menggendong Suci seperti sedang menggendong beras di punggungnya. Lalu memasukkan Suci ke dalam mobil di bagian kursi penumpang.
Brayen membawa Suci ke markas rahasianya. Kemudian memberi instruksi pada beberapa anak buahnya. Sebab apa yang di lakukan Brayen di rasa belum cukup untuk membuat efek jera pada Suci.
Dengan segera para anak buah Brayen menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah bos besar mereka.
Beberapa saat kemudian Suci tersadar. Namun saat membuka mata, Suci tak bisa melihat apapun. Keadaan terasa pengap dan panas.
Suci mengingat kejadian terakhir sebelum akhirnya Suci pingsan. Ular itu merayap di tubuh suci. Kepala ular itu sudah berada di depan wajah suci dan akhirnya Suci tidak bisa mengingat apapun.
Suci mencoba menggerakkan tubuhnya namun tak leluasa. Tangan Suci pun tidak bisa bergerak seperti terikat dan terbungkus. Suci sendiri tidak paham dengan Apa yang terjadi, karena gelap Suci tak bisa melihat.
"Apakah aku sudah mati atau aku berada di dalam perut ular." Gumam Suci ketakutan berada dalam kegelapan.
Suci menggerakkan kaki dan tubuhnya namun terbentur suatu penghalang. Entah itu tembok atau apa. Kaki Suci mengayun ke atas namun juga terbentur penghalang.
"Braaakk braaakkk braaakk toloooooong...." Suci mulai memberontak bergerak ke sana kemari tapi anggota tubuhnya terbentur sesuatu. Sekarang Suci tahu dia berada di tempat yang sempit.
Suci sangat takut dan tak nyaman dalam keadaan seperti ini. Suci berada di tempat sempit seperti peti mati. Suci meyakini bahwa dirinya sudah mati.
Kemudian Suci mendengar suara ular berdesis. Suci semakin takut dan menggigil. Suci mulai berontak berteriak-teriak namun nafas Suci mulai sesak. Akhirnya Suci pasrah dan diam saja berada di tempat sempit.
"Toloooooong.... Keluarkan aku dari sini...Aku takut... Hikzzz... Hikzzzz..."
Semakin lama Suci sangat tidak nyaman dan tersiksa. Bergerak saja dia tak bisa.
Perut Suci mulai keroncongan dan sangat lapar. Dia berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang jawaban.
"Tolong....Aku mohon tolong Aku.... Toloooooong."
Tiba-tiba keadaan di sekitar Suci menjadi terang Suci.
Suci menjerit histeris melihat dirinya berada di dalam peti mati.
"Aaaaaaaahhhhhkkkkk" Suci berteriak sambil menangis histeris.
Apalagi diatasnya nya terdapat cermin yang sama panjang dengan tutup peti mati itu.
Suci dapat melihat jelas keadaannya sekarang. Tubuhnya sudah dibalut dengan kain kafan seperti pocongan. Kaki dan tangannya terikat hingga Suci tidak dapat melakukan banyak pergerakan.
"Aaaaaaaaaaaa.... Toloooooong.... Tolong.... Tolong. Siapa pun tolong aku." Suci berteriak ketakutan melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.
Suci menangis histeris ketakutan. Kematian Sangat menakutkan. Berada di ruangan sempit sendirian, terbujur dengan kain kafan sangat menyeramkan. Suci terus berteriak memberontak dan menendang nendang. Suci mulai takut pada kematian.
"Braaakkkk Braaakkkk Braaakkk. Toloooooong."
Suci yang kelelahan mulai menangis lirih.
__ADS_1
"Apakah seperti ini kematian?..." Gumam Suci lirih, di iringi air mata yang mengalir dari tiap sudut mata. Yang ada di pikirannya bukan lagi Arya dan pemuda yang menidurinya. Tapi bagaimana nasib dirinya setelah ini.
Suci mengingat Arya. Sudah berapa kali Arya menyelamatkan nyawa Suci tapi Suci sama sekali tidak menyayangi nyawanya. Suci terus saja memaksa Arya dan mendesak Arya untuk memenuhi keinginannya, jika tidak maka Suci akan mengancam untuk melakukan bunuh diri.
Suci selalu mengingatkan Arya akan kematian Arfa yang terjadi karena dirinya.
Suci menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan.
Nafas Suci mulai terengah-engah. Memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sangat menyeramkan.
Brayen dapat menyaksikan dengan jelas reaksi Suci di dalam peti mati itu lewat monitor yang ia pandang.
Peti mati itu sudah di pasangi kamera infrared, dapat terlihat walau dalam keadaan gelap. Headset yang terpasang di telinganya membuat Brayen dapat mendengar dengan jelas suara Suci. Namun suara Suci tak dapat menembus keluar dari peti mati yang di buat khusus itu.
"Tuan dia bisa mati ketakutan di dalam sana." Ucap Asisten pribadi Brayen yang setia berada di samping Brayen.
"Tunggu sebentar lagi." Ucap Brayen. Brayen menekan tombol pembuka kotak kecil yang berada di ujung kaki Suci.
Cacing tanah mulai keluar dan merayap di kaki Suci. Suci yang merasa geli karena ada yang menggelitik di kakinya melihat cermin di ujung kakinya.
"Aaaaaaa tolong aku....Keluarkan aku dari sini. Aku tidak ingin mati....Ya Tuhan ampuni aku. Aku masih ingin hidup. Aku tidak ingin mati. Aku menyesal." Suci berteriak histeris saat melihat pemandangan di kakinya.
"Heh... Akhirnya" Ujar Brayen. Brayen membuka tombol pembuka peti mati itu. Kemudian berjalan ke arah Suci.
"Ini adalah secuil gambaran dari alam kubur. Apa kau sangat menikmati kematian." Ujar Brayen dengan tegas. Dia bersedekap memandangi wajah Suci yang sudah pucat pasi. Suci menggeleng gelengkan kepala cepat.
Yang satu mengangkat bahu Suci dan yang satunya lagi mengangkat kaki Suci. Mereka berdua mengeluarkan Suci dari peti mati, kemudian membuka kain kafannya lalu membuka tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Salah satu dari pria itu memberikan pakaian bersih pada Suci.
"Mari saya antar ke kamar mandi" Ucap pria itu kepada Suci yang sudah berdiri. Kemudian Suci mengikuti pria itu.
****
Setelah Suci selesai membersihkan diri dan makan, Brayen membawa Suci ke panti asuhan tempat dulu ia di pungut oleh orang tua Arya.
Tetapi setelah ia bergabung dengan kelompok mafia, dia memutuskan untuk menghindari Keluarga Arya karena tidak ingin Keluarga itu terlibat masalah karenanya.
Akan tetapi setiap keluarga itu membutuhkan bantuan, maka Brayen akan siap sedia membantu di garda paling depan.
Brayen menunjukkan pada Suci anak anak yang menyandang disabilitas (Keterbatasan fisik dan mental) yang di buang dan tidak di inginkan oleh orang tua nya. Suci masih jauh lebih beruntung daripada mereka.
"Lihat lah mereka.... Kau jauh lebih beruntung daripada mereka. Kau hanya kehilangan cinta yang masih bisa kau cari gantinya tapi mereka...!!!" Suci memandangi wajah ceria mereka, walau dalam keadaan seperti itu mereka masih bisa tertawa.
"Mereka di buang dan tidak di inginkan oleh orang tuanya." Suci meneteskan air matanya, dia merasa iba.
****
__ADS_1
Kemudian Brayen membawa Suci ke rumah sakit. Brayen menarik tangan Suci, dia berjalan cepat hingga Suci tertarik mengikuti langkahnya.
Brayen menarik tangan Suci dan di hempaskan dengan kasar hingga Suci terhuyung. Dia membawa Suci di ruang ICU di mana orang-orang yang masih memiliki harapan hidup terbaring di ruangan itu.
"Lihat lah mereka yang sayang dengan nyawanya berjuang di sana. Sekali nyawa hilang maka tidak akan dapat di kembalikan. Nyawa itu sangat berharga. Harta masih bisa di cari, tapi nyawa....!!!" Ucap Brayen. Suci hanya mendengar dan melihat Brayen menggeleng gelengkan kepala.
Kemudian Brayen membawa Suci menuju arah teriakan seseorang yang menjerit histeris karena kehilangan nyawa istrinya.
Hati Suci terenyuh dan tersentil melihat pemandangan itu. Dia berharap istrinya hidup tapi Suci malah menginginkan kematian.
Kemudian Brayen membawa Suci menuju pintu keluar rumah sakit.
Kebetulan di sana Suci dan Brayen melihat seorang istri yang memohon dan menangis kepada bagian administrasi agar segera menangani kasus Kecelakaan suaminya tapi karena tidak sanggup membayar jumlah yang begitu besar, orang yang berada di bagian administrasi itu tidak bisa menuruti keinginan ibu tersebut.
"Nyawa itu sangat mahal." Brayen menatap Suci.
Kemudian Brayen dan Suci menghampiri resepsionis. Brayen membayar biaya perawatan dari suami orang tersebut. Kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
"Bunuh diri adalah dosa besar. Lebih besar dosanya dari pada membunuh orang lain. Seseorang yang mati karena bunuh diri maka akan kekal di neraka. Hanya karena cinta bodoh mu kau rela singgah ke neraka. Peti mati tadi
tidak ada apa apanya di bandingkan dengan alam kubur dan siksa neraka." Ucap Brayen memecah keheningan di dalam mobil.
"Aku harap setelah ini kau bisa sadar sepenuhnya. Jika kau tetap tidak sadar dan masih mengganggu rumah tangga Arya. Maka aku akan menikahimu. Kau tau kan akibatnya!" Ucapan Brayen membuat Suci melotot dan bergidik ngeri.
****
Brayen mengantarkan Suci pulang kembali ke rumahnya.
Di dalam kamarnya Suci mulai merenungkan kejahatan yang dia lakukan pada Alyn. Setiap kata dan fitnah yang ia lontarkan untuk Alyn kini ia sesali.
Puing puing ingatan saat Arya ketakutan melihat dirinya yang tak berdaya di rumah sakit mulai menyeruak di hati dan pikiran Suci.
Secara tidak langsung Suci sudah memberikan tekanan pada Arya. Arya yang selalu berusaha membahagiakannya dan selalu berusaha menyelamatkan nyawanya mulai menyentuh sanubari Suci. Suci menyesali segala perbuatannya pada Alyn dan Arya.
Air mata penyesalan mulai mengalir dari mata Suci. Padahal selama berpacaran dengan Suci, Arya selalu berusaha membahagiakannya dan menjaganya dengan baik.
Tapi Suci yang ingin menguasai Arya memaksa dan terus merayu Arya hingga Arya terbuai.
Kebaikan yang selama ini Arya berikan ia balas dengan air tuba. Hingga akhirnya Suci harus di hukum dengan hilangnya keperawanan yang selalu ia jaga untuk Arya, malah ia serahkan dengan senang hati pada sang Cassanova.
Suci menyesali dan merutuki kebodohannya. Dia sangat menyesal.
Les Privat dari Brayen tentang kematian dan alam kubur sukses membuka mata hati Suci.
****
Terimakasih atas dukungan kalian semua. Jangan lupa tinggalkan jejak like komentar vote favorit.
__ADS_1