
"Hoeeeekk Hoeeeekk Hoeeeekkk...." Morning sickness adalah hal yang setiap hari terjadi pada Alyn. Setiap pagi Alyn selalu mengeluarkan semua isi perutnya. Wajah Alyn terlihat pucat di penuhi keringat. Nafasnya tersengal sengal. Bi Ijah menyingkap rambut Alyn ke belakang. Kemudian kembali memijat tengkuk Alyn.
Arya hanya bisa melihat Alyn dari kejauhan. Keberadaan Arya hanya mempersulit keadaan Alyn. Alyn malah semakin mual berada di dekat Arya yang katanya bau, padahal semua orang tau tubuh Arya selalu harum tercium dari jarak yang cukup jauh. Sebelum hamil Alyn selalu ketagihan dengan aroma tubuhnya. Tapi sekarang malah sebaliknya.
Arya sangat tak berdaya dengan keadaan. Seolah-olah anaknya sangat tak menyukai Arya hingga dia tak mengizinkan Arya mendekati Alyn. Calon bayinya seperti ingin menguasai ibunya sendiri tanpa mau berbagi. Berkali-kali Arya mencoba memaksa mendekati Alyn, tapi malah berakhir dengan baju Arya yang basah karena muntahan Alyn.
Akhirnya Arya kembali lagi berpuasa karena debay tidak mau di kunjungi sang ayah. Padahal baru beberapa bulan yang lalu Arya baru bisa melakukan ritual belah duren. Sungguh sial nasib Arya.
Setelah Alyn mengeluarkan semua isi perutnya dia keluar dari kamar mandi, lalu berbaring di atas ranjang dengan nafas yang masih memburu. Arya hanya melihatnya dari jauh memegangi wedang jahe untuk Alyn, karena wedang jahe bisa mengurangi rasa mual yang Alyn alami.
Setidaknya ada hal yang bisa Arya lakukan untuk Alyn, walaupun hanya sekedar membuat wedang jahe. Bi Ijah menghampiri Arya mengambil wedang jahe buatan Arya untuk Alyn.
Pagi hari Alyn selalu muntah, Mood Alyn hanya normal di siang hari dan itu membuat Arya bahagia, malam hari Alyn akan makan berlebih bahkan melewati batas dan tidak bisa di cegah yang ada Alyn akan merajuk, lebih parahnya lagi menangis jika keinginannya tidak di penuhi.
Sikap Alyn yang berubah-ubah sungguh membuat emosi Arya naik turun. Terkadang Alyn marah tanpa alasan. Arya tidak habis pikir, bisa bisanya semalam Alyn menyuruh Arya tidur di lantai sementara ranjangnya begitu luas, cukup untuk lima atau enam orang. Tapi sebagai calon Ayah dan suami yang baik, Arya berusaha sabar menghadapi Alyn.
Setelah keadaan Alyn membaik Arya memutuskan untuk pergi ke kantor.
Semenjak Alyn hamil Arya lebih rajin beribadah dan memperbanyak sedekah, berharap anak yang di Kandungnya nanti bisa menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah serta bisa memberikan kebaikan dunia akhirat.
****
Siang hari mood Alyn membaik. Alyn menonton serial televisi bergenre kartun. Alyn memperhatikan TV dengan seksama dia melihat Mail yang sedang membawa sekantong plastik transparan yang menampakkan buah Cermai masam berwarna hijau di dalamnya.
"Mail kau bawa ape?..." Tanya Fizi.
"Buah Cermai....Mau???" Jawab Mail lalu mengangkat kantong plastik transparan itu tinggi tinggi ke udara menunjukkan buah Cermai kepada semua teman sekelasnya.
Melihat itu Alyn tergiur, Alyn menelan ludahnya banyak banyak.
"Murah je, harga kawan lah, dua seringgit, dua seringgit, dua seringgit..." Ujar Mail.
"Itu bukan harga kawan, tapi harga mencekik kawan." Ujar Fizi.
"Betul betul betul..."
"Hahahaha Hahaha...." Suara gelak tawa di ruang kelas TK.
"Hey...Cek gu datang ce' gu datang." Murid TK berhambur duduk di bangkunya masing-masing.
"Seeeelamat pagi ce'gu."
****
__ADS_1
Alyn segera mengambil Hpnya menghubungi Arya Video call.
"Assalamualaikum...." Ucap Alyn memasang senyum termanisnya.
"Wa Alaikum salam."
"Mas..."
"Iya....Ada apa?" Tanya Arya berusaha tenang walaupun perasaannya sudah tidak enak. Selalu seperti ini, setiap hari, di siang hari.
"Aku pengen buah Cermai..." Pinta Alyn merengek. Tuh kan benar...
"Iya nanti aku suruh orang cariin buat kamu. Nanti biar langsung di kirim ke rumah." Ucap Arya, mungkin bisa di tawar.
"Nggak mau mas. Aku maunya kamu yang cari. Dan itu sekarang."
"Huuuuufffhhh... Sayang aku sibuk.... Mengertilah sedikit..." Arya memasang wajah memelas, berharap Alyn mau mengerti.
"Mas nggak sayang aku, Mas nggak sayang debay... Padahal kan ini keinginan Dede' Bayi." Ucap Alyn mencebikkan bibir sambil mengelus perutnya. Ok fiks, Arya kalah dan Alyn menang. Jika tidak di turuti Alyn pasti menangis dan merajuk sepanjang waktu. Selalu kalah setiap menyangkut keinginan bayinya. Arya tidak menyangka seperti ini perjuangan seorang ayah.
Sepertinya calon anak Arya itu memiliki indera keenam. Setiap Arya menyuruh orang untuk melakukan tugas dari Alyn. Istrinya selalu tahu.
Jadi sekarang Arya harus usaha sendiri dari pada harus menerima kemarahan sang ratu di hati.
Arya menyerahkan tugasnya pada Nadia. Nadia tersenyum melihat wajah lesu Arya karena selalu mendapat tugas yang aneh dari istri tercintanya.
***
"Huuuuufffhhh....Debay kenapa kamu suka sekali mengerjai Bape nak?..." Keluh Arya di tengah teriknya matahari.
Dua jam sudah Arya berkendara, tubuhnya sudah basah dengan keringat bercampur bau karat matahari. Akhirnya Arya Menemukan pohon Cermai yang berbuah walaupun buahnya jarang yang penting ada buahnya. Hanya saja kenapa buah itu ada di puncak pohon!
Arya membuka blazernya kemudian ia sampirkan ke atas sepeda motornya.
"Bismillahirrahmanirrahim...." Walau takut Arya mulai memanjat pohon seperti kera. Kaki Arya gemetaran saat melihat ke bawah. Arya terus naik sampai ke ujung.
"Akhirnya...." Arya turun dengan selamat. Arya mengangkat tinggi-tinggi buah Cermai itu.
"Setelah ini izinkan Babe nengok kamu debay. Huuuh..." Arya pulang dengan semangat empat lima karena berhasil melakukan tugas dari Alyn.
****
"Di mana Istriku?..."
__ADS_1
"Menonton Televisi Tuan."
Arya menemui Alyn yang ternyata sedang terlelap. Arya membelai pipi mulus istrinya. Sudah lama Arya tak sedekat ini dengan Alyn. Arya sangat merindukan sentuhan Alyn.
Cobaan terbesar bagi laki-laki adalah berada satu kamar dengan istrinya tapi tak bisa melakukan apapun walau ingin.
Belaian tangan Arya mengganggu tidur Alyn.
"Mas..." Alyn duduk langsung memeluk Arya.
"Mas tumben kamu harum, Cup." Satu kecupan mendarat di pipi Arya.
"Haaaa..." Arya melongo tak percaya dengan apa yang di ucapkan Alyn. Arya bau keringat bercampur karatnya matahari malah di bilang harum. Sedangkan saat Arya harum malah di bilang bau. Apa seaneh ini kelakuan ibu hamil?
Arya mulai menyeringai nakal. Mengecupi semua wajah Alyn.
"Ini aku sudah dapat buah Cermainya." Arya menyodorkannya pada Alyn.
"Kok di kasih aku sih mas. Itu buat kamu."
"Maksudnya?..." Arya tak mengerti.
"Kamu yang makan, aku yang lihat." Ucap Alyn.
"APA???...." Mulut Arya menganga tak menyangka endingnya akan semasam ini.
"Mas yang makan, aku yang lihat." Ucap Alyn lagi.
"Sayang mana bisa aku menelannya! Buah ini masam." Ucapan Arya membuat Alyn cemberut.
"Baiklah baiklah.... Tapi ada syaratnya?"
"Apa?..." Tanya Alyn.
"Setelah aku makan ini kita bercinta."
"Boleh."
Arya kembali bersemangat. Akhirnya yang di tunggu tunggu tiba juga.
Walaupun terasa masam Arya terus mengunyah buah itu. Dengan mata terpejam dan tubuh yang gemetar karena masam. Yang penting hadiahnya.
*****
__ADS_1
Ngidamnya Alyn terinspirasi dari pengalaman saya ya Readers....
Selamat menikmati.