
"Jangan di sini, di hotel saja." Ujar Mas Arya.
Kemudian Mas Arya membawaku ke hotel terdekat yang berada tepat di depan Club malam itu.
Setelah membawaku ke hotel mas Arya memapah tubuhku yang terasa limbung karena rasanya kakiku sudah tidak mampu menopang badan ku sendiri. Minuman haram itu membuatku tak karuan.
Mas Arya membawaku masuk ke dalam kamar.
Aku pasrah mas Arya melakukan apapun padaku. Aku menikmati segala sentuhan mas Arya walaupun sangat sakit di awal.
Kini mas Arya sudah menjadikan aku miliknya seutuhnya.
Kesucian ku sudah ku serahkan pada mas Arya.
Tubuhku terasa remuk redam karena ulah mas Arya. Aku sangat lelah setelah menghabiskan malam panas bersama dengan mas Arya.
Aku sangat bahagia mas Arya tidak benar benar meninggalkan ku.
Mas Arya masih membelit pinggang ku dengan tangannya. Mas Arya memeluk ku dari belakang. Aku sempat berpikir ini hanyalah mimpi belakang.
Kemudian mata kantukku mulai terpejam. Aku tidur di dalam pelukan mas Arya yang memelukku dengan posesif.
******
Keesokan harinya waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB Alyn selesai meletakkan hidangan di atas meja makan, lengkap dengan kopinya yang Alyn letakkan di hadapan Arya.
"Terima kasih sayang." Ujar Arya kemudian menyeruput kopinya.
"Huh.... panas." Ujar Arya.
"Ya iyalah panas mas. Asapnya saja masih mengepul." Sahut Alyn.
Alyn meletakkan piring di hadapan Arya. Kemudian mengambil nasi yang kemudian di letakkan di atas piring.
"Mas lauknya mau yang mana?"Tanya Alyn.
"Yang itu. Yang itu. Dan yang itu." Jawab Arya seraya menunjuk menunjuk lauk yang ia pilih.
Alyn memang memasak banyak menu setiap harinya karena semua pekerja yang berada di rumah itu memakan makanan yang sama dengan majikannya.
Semua adalah perintah dari Arya sebab Arya selalu mengingatkan Alyn untuk senantiasa berbagi.
"Kalau ada orang, jangan makan sendirian. Kasihan kan yang lain kalau cuma lihat." Petuah Arya yang selalu Alyn ingat.
Setelah Arya dan Alyn selesai sarapan. Alyn mengantarkan Arya yang akan berangkat kerja ke depan rumah.
__ADS_1
"Mas aku minta izin ya, mau main ke cafe Rani." Ujar Alyn pada Arya.
"Boleh tapi ada syaratnya...!" Ujar Arya memberikan Alyn persyaratan.
"Apa mas?..." Tanya Alyn pada Arya dengan mengerutkan Alisnya.
"Cium." Jawab Arya sambil menunjuk-nunjuk pipinya.
Kemudian Alyn mengecup pipi Arya dan langsung lari terbirit-birit memasuki rumah.
Arya tercengang sambil menyentuh pipinya.
"Wah wah wah....Istriku sudah mulai nakal padahal aku cuma bercanda. Sepertinya ini kode darinya. Nanti malam pasti sudah bisa membuka segel. Ucap Arya sambil menyentuh pipinya. Kemudian Arya pergi memasuki mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.
Tepat pukul 09.00 WIB Alyn memarkir motornya di tempat parkir cafe milik Rani. Alyn melangkah kakinya memasuki Cafe. Cafe terlihat sedang lenggang tidak banyak pengunjung.
Alyn memasuki dapur Cafe Rani tanpa sungkan-sungkan seperti kebiasaan yang dia lakukan.
"Rani." Panggil Alyn. Kemudian Rani melihat asal suara itu. Rani tampak tercengang melihat penampilan baru sahabatnya itu.
"Alyn tumben pakai hijab." Tanya Rani.
"Hehehe iya aku hijrah sekarang jadi wanita berhijab." Jawab Alyn.
"Wah... Hebat, hebat. Bagus sekali." Ujar Rani.
Tanya Alyn pada Rani.
"Hehehe tunggu pintu hatiku diketuk oleh hidayah dulu." Jawab Rani, malu pada pertanyaan Alyn.
"Kamu lagi buat apa?"Tanya Alyn.
"Aku lagi buat eksperimen menu baru untuk Cafe ku ini." Jawab Rani.
"Boleh aku bantu?" Tanya Alyn.
"Oh tentu, ku terima dengan senang hati bantuanmu karena masakanmu sangat enak. Itu akan sangat membantuku dalam membuat eksperimen baru." Jawab Rani. Kemudian Alyn mulai membantu Rani meracik resep baru.
"Kok tumben sih cafemu sepi?" Tanya Alyn pada Rani.
"Iya ini kan jam kerja. Biasanya ramainya itu jam 12 waktu karyawannya istirahat." Jawab Rani.
"Kring kring kring kring kring kring kring kring." Suara dari HP Rani berbunyi. Rani segera menerima panggilan dari nomor private number.
"Halo halo halo halo halo ini siapa ya? halo halo ini siapa? Kalau tidak jawab aku matiin loh telponnya. Halo halo halo halo halo." Ujar Rani. Kemudian Rani memutus sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Siapa Ran?" Tanya Alyn.
"Tidak tahu, tidak ada nomor teleponnya." Jawab Rani.
"Kring kring kring kring kring kring." HP Rani kembali berbunyi.
"Haduuuuuh siapa lagi ini. Private number lagi." Rani berseru.
Kemudian Rani menerima panggilan itu lagi.
"Halo halo halo halo halo ini siapa ya?... Maaf ya Ini siapa?... Halo ini siapa kenapa telepon aku terus?...Kalau tidak mau bicara ku matiin nih telponnya. Halo halo halo hallo Bandung. Hallo hallo Bandung." Ujar Rani saat menerima sambungan telepon tanpa suara itu.
"Tetap tidak mau menjawab. Ok fiks." Kemudian Rani memutus sambungan telepon itu lagi.
"Siapa Ran?" Tanya Alyn lagi yang heran.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Nomornya tidak ada." Jawab Rani.
"Mungkin penggemarmu Ran?" Jawab Alyn.
"Mana ada orang yang menggemari ku? Selama ini tidak ada laki-laki yang mau mendekatiku." Ujar Rani.
"Dulu di Kampung Nelayan nggak ada yang berani mendekatimu, itu semua karena mas Iqbal Ran. Masa' iya sampai sekarang tidak ada laki-laki yang mau mendekatimu Ran? Padahal kau cantik." Jawab Alyn.
"Ada sih tapi aku tidak tertarik." Jawab Rani.
"Kamu tidak tertarik dengan laki laki lain karena hatimu masih terikat dengan mas Iqbal Ran." Ujar Alyn.
"Kring kring kring kring kring kring kring kring." Telepon berdering lagi. Rani mulai gemas dengan penelepon tak dikenal itu.
"Iiiiih nyebelin. Siapa sih telepon mulu, di angkat nggak di jawab. Meskipun beribu kali bilang halo tetap tidak dijawab." Rani tidak mengangkat telepon itu karena sudah jengkel dan kesal.
"Apa kamu sering menerima panggilan itu Ran." Tanya Alyn.
"Iya. Setiap hari aku menerima panggilan seperti itu setelah aku keluar dari rumah sakit. Tapi anehnya dia telepon tidak pernah menjawab ucapan ku." Ujar Rani.
"Jangan-jangan itu mas Iqbal Ran. Cuma dia malu mau mengakuinya. Dia kan egonya tinggi dan tidak bisa membedakan mana harga diri dan gengsi dan tidak bisa membedakan mana cinta dan obsesi." Ujar Alyn.
"Alyn Sudahlah jangan sebut nama itu lagi aku sudah move on darinya." Ujar Alyn.
"Apa kau yakin?" Tanya Alyn.
"Yakin seyakin-yakinnya." Jawab Rani sambil mulai mengolah resep barunya itu lagi.
"Kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring kring." Panggilan telepon itu terus berdering tanpa henti. Membuat Rani kesal padahal Rani sudah tiga kali mengganti nomor telepon tapi tetap saja ada panggilan dari orang tak dikenal dan tak mau berbicara.
__ADS_1
*****
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT