
"Di mana kamu bertemu dengan wanita bercadar itu?"
"Di supermarket di jalan xxxx kak."
"Ok. Sudah ku catat alamatnya di ponsel ku. Aku akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut."
"Kak, jangan sampai Abang Brayen tau masalah ini ya kak."
"Tidak akan. Percayalah. Mungkin aku akan meminta bantuan pada si kurcaci."
"Kurcaci? Siapa itu kak."
"Si Khasanuci."
"Owalah asistennya Abang yang sipit itu toh. Kok bisa sipit ya."
"Bisa lah. Kan dia keturunan Jepang."
"Ouw...."
"Oya...Untuk sementara waktu kau jangan memakai gelang ini, sampai masalah Brayen terusut, karena ada yang ganjal dengan masa lalu Brayen. Aku takut jika kamu memakai gelang ini keselamatan mu jadi terancam." Alena melotot mendengar ucapan dari Arya.
"Kak jangan nakut nakutin deh."
"Aku serius Alena."
***
"Semakin lama chattingan dengan Brayen, Anita semakin merasa nyaman dengan Brayen.
Sampai akhirnya nanti malam Brayen baru berani mengajak Anita kencan.
Anita sudah berdandan cantik untuk bertemu dengan Brayen.
Brayen sudah reservasi tempat untuk kencan nya nanti malam, dia bilang tempatnya akan sangat istimewa.
***
Anita memasuki Cafe mengedarkan pandangannya mencari meja nomor 20 yang sudah dipesan oleh Brayen. Anita menemukan mejanya berada diatas papan kayu, tepat di samping danau, dia berjalan ke arah mejanya, dipandanginya sejenak meja itu.
"Aku tidak menyangka Brayen bisa seromantis ini, memilih tempat yang indah untuk kencan pertama kami." Kemudian Anita duduk di kursinya.
"Anita." Ucap Brayen.
"Iya." Jawab Anita. Kemudian Brayen duduk di hadapan Anita.
"Maaf kenapa Anda di duduk di kursi itu? kursi itu sudah ada pemiliknya." Anita bertanya keheranan.
"sa-sa saya ya-yang me-mesan te-tempat i-ini."
"Anda siapa?..."
"Sa-saya Be-Brayen."
"Apa?" Anita syok mendengar pernyataan Brayen. Dia laki laki yang tampan dengan tubuh yang tinggi tapi sayang gagap.
"Anda pasti bercanda." Ucap Anita yang masih tidak percaya.
"Ti-tidak."
"Ja ja-di yang chattingan dengan saya selama ini adalah anda ?...."Ucap Anita yang ikut gagap.
"I-iya. Ji-jika an-anda A-ni-ta." Ucap Brayen. Anita mendadak wajahnya memucat.
"Ke-kenapa?... A-apa ka-kau ke-ke-cewa pa-padaku?"
"Huuuuufffhhh....Tidak saya sama sekali tidak kecewa." Ucap Anita.
"Bagaimana ini? Jika di tinggalkan aku tidak enak hati. Kasihan." Anita membatin membayangkan jika posisinya berada di posisi Brayen pasti kecewa jika ditinggalkan.
__ADS_1
"A-ni-ta ke kenapa ka-kau me-mela-mun?"
"Oh tidak apa. Bisa kita pesan makanan sekarang."
"Te-ten-tu." Ucap Brayen. Anita pun akhirnya bisa mengobrol santai dengan Brayen. Dia berusaha menghargai perasaan sesama manusia.
***
Keesokan harinya di kampus.
Dosen menyuruh Rio untuk mempresentasikan karya puisinya. Rio pun maju ke depan kelas, membacakan puisi ciptaannya. Rio terus memandang Alena sambil sesekali mengedipkan mata padanya.
"Aku tenggelam dalam lautan cinta."
"Ku coba keluar ke permukaan, namun hatiku terjerat rasa."
"Aku dahaga di tengah hamparan lautan cinta."
"Karena tak mampu menyelami sanubarimu."
"Jarak di antara kita membuatku mengerti, betapa dekatnya hatiku padamu."
"Akan ku hancurkan jarak pemisah, agar kita menyatu."
"Aku menjalani proses mencari cinta sejati."
"Kini sudah kutemukan tempatku untuk berlabuh."
"Rasa ingin memiliki ini membunuhku."
Rio mengedipkan mata sekali lagi pada Alena. Kemudian membungkukkan badannya memberi hormat pada semua mahasiswa di kelasnya.
"Prok prok prok prok...." Semua teman di kelasnya memberikan tepuk tangan.
"Karya puisi yang bagus Rio tapi kau lupa memberikan judul. Memangnya Apa judul puisi ini?" Ucap sang dosen pembimbing.
"Prok prok prok prok prok." Semua para mahasiswa kembali bertepuk tangan melihat Alena yang menutup wajahnya dengan buku.
"Dasar Rio...Kalau tau begini kan, aku tidak akan menyembunyikan identitas pernikahanku. Jika Aku mengakuinya Sekarang, teman-teman pasti akan menghujatku. Jika tidak mengakuinya Maka Rio akan terus mengganggu ku, Ini semua salahku dari awal." Alena membantin.
***
Setelah jam pulang kampus Alena mengemasi bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Alena, apa kau suka puisi yang ku buat untukmu?..."
"Tidak." Alena bangkit dan pergi. Rio menarik tangan Alena.
"Jangan sentuh aku Rio."
"Alena cobalah buka hatimu sedikit untukku."
"Tidak akan pernah."
"Tapi..." Ucap Rio terhenti saat tiba tiba datang seorang mahasiswi memanggil Alena.
"Alena di panggil Bu Anita di ruangannya."
"Iya." Alena pun pergi meninggalkan Rio.
"Huuuuufffhhh perasaanku jadi tidak enak."
***
"Alena kenapa kamu memberikan saya no telepon yang salah?" Ucap Anita dengan nada sedikit kesal.
"Ibu kan minta nomor kak Brayen. Jadi saya memberi ibu nomor kak Brayen."
"Bukan nomor Brayen yang itu. Tapi Brayen kakakmu."
__ADS_1
"Brayen yang ibu maksud itu sudah menikah." Ucap Alena.
"APA?" Anita terkejut dan meremas kertas yang bertumpuk di meja kerjanya.
"Kenapa kamu tidak bilang Alena."
"Karena Ibu tidak bertanya."
"Pergilah Alena." Ucap Anita. Entah kenapa Alena jadi tidak tega melihat wajah patah hati Anita, kini Alena mulai menyadari bahwa semua kesalahan berawal dari dirinya yang gengsi tidak mau mengakui pernikahannya karena semua teman di kelasnya masih lajang.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Alena, kemudian Alena pun bangkit dan melangkah pergi. Namun sebelum sampai di pintu Alena berbalik dan kembali menghampiri Anita.
"Ibu maaf. Saya bukan hanya adik ipar kak Arya, tapi saya juga adalah istri dari Abang Brayen." Ucap Alena benar-benar menyesal walaupun terlambat. Anita semakin syok bercampur malu karena di kerjain oleh istri Brayen, apa lagi Anita meminta nomor Brayen pada Alena.
"Apa kau bercanda?"
"Saya tidak bercanda Ibu."
"Kamu sengaja mengerjaiku, dengan memberikan nomor telepon pria gagap padaku."
"Walaupun gagap tapi dia juga manusia yang memiliki hati Bu." Ucap Alena. Anita kemudian memegang ujung kerudung Alena.
"Apa kamu tidak malu dengan kerudungmu." Ucap Anita, dia meremas kerudung Alena. Kalimat Anita berhasil menohok hati Alena. Dia merasa terhina dengan kelakuannya sendiri. Alena malu dengan sikapnya yang hina.
Kemudian Anita melepaskan kerudung Alena. Alena pun pergi berlari dengan air mata.
***
Alena berdiri di depan cermin kamarnya, memandangi pantulan dirinya yang memakai baju syar'i dan kerudung, merenungkan setiap perbuatannya.
"Apa kamu tidak malu dengan kerudungmu" Kalimat ini terus terngiang di telinga, hati dan pikiran Alena.
"Kelakuanku sangat tidak cocok dengan kerudung dan baju syar'i ini. Aku malu." Ucap Alena. Brayen memperhatikan Alena yang terlihat muram. Brayen menghampiri Alena dan memeluknya erat dari belakang.
"Kenapa?...." Ucap Brayen. Alena membalik tubuhnya dan memeluk Brayen dengan erat.
"Abang. Maafin aku ya, yang tidak mengakui pernikahan kita."
"Lalu."
"Besok aku akan mengakui di hadapan semua orang kalau aku sudah menikah. Biar nggak nambah masalah lagi."
"Bagus.... Belajar lah dewasa mulai sekarang."
"Iya." Jawab Alena. Brayen membelai kepala Alena.
***
Author.
kakak kakak yang cantik dan ganteng, Vote hanya bisa di berikan 1 Minggu sekali. Tolong bagi vote seikhlasnya yeeeee.....
OYA...PENGUMUMAN PEMENANG.
Untuk pendukung karya novel ini, ini gambarnya.
Foto saya ambil semalam jam 9.
Yang merasa ada di rangking 1 dan di rangking 2 tolong kirim nomor WA ke komentar di bawah ini.
Yang juara 1 uang tunai Rp100.000 dan juara 2 pulsa 10.000.
Mam Azka Rangking 1. Dapat Rp 100.000.
Kece Gucci Kita rangking 2.Dapat Pulsa 10.000.
Selamat untuk para pemenang
__ADS_1