AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PESAN DARI BRAYEN


__ADS_3

Seperti anak gadis Brayen menangisi kepergian Alena di dalam mobil. Seketika dunianya terasa gelap dan hancur, dia tidak menyangka bahwa gadis menyebalkan yang baru saja dikirim Tuhan untuknya akan membuat hidupnya jungkir balik, gadis yang awal pertemuannya sangat menjengkelkan ternyata sudah mengisi relung hati Brayen.


"Ini salahku yang terlalu keras mendidiknya, menuntut dia untuk jadi seperti apa yang kuinginkan. Hingga dia sangat membenciku dan enggan membuka hatinya untukku. Seandainya aku tahu, aku akan mencintainya sedalam ini dan kehilangannya, aku tidak akan sekeras itu padanya."


Berulang kali Brayen membentur-benturkan kepalanya di kemudi mobilnya. Rasanya kepala Brayen ingin pecah memikirkan Alena, ini adalah patah hati kedua dalam hidup Brayen selama hidupnya. Patah hati karena orang tua dan sekarang patah Hati Karena Istri.


"Ting Ting Ting Ting" Suara HP berdering menampakan layar penuh itu menyala Padang


"Ehem ehem ehem ehem." Brayen berusaha menormalkan suaranya kemudian menerima panggilan itu.


"Halo, Iya Ci ada apa lagi?..."


"Kan sudah aku katakan, semua sudah aku persiapkan. Kau hanya tinggal mengirim barangnya saja." Brayen menjawab pertanyaan dari Khasanuci dengan kesal karena terbawa suasana hatinya yang kacau balau.


"Itu Kenapa anakmu menangis terus dari tadi?... Di mana istrimu? Kenapa dia tidak menjaga anakmu dengan baik dan malah meninggalkannya padamu?.... Kau tahu aku sangat tidak suka mendengar Tangisan Anak kecil. Istri seperti itu buang saja ke laut." Brayen yang gusar semakin gusar saat mendengar suara tangisan anak kecil. Saat panggilan pertama tadi anak itu menangis dan panggilan saat ini anak itu juga masih menangis. Brayen sangat kesal karena ibu anak itu tidak becus menjaganya.


"Ya sudah kalau begitu Aku tutup dulu teleponnya, karena aku masih ada urusan.... Eh Khasanuci tunggu dulu, kau periksa dulu dengan teliti berkas-berkas yang mereka berikan nanti."


"Baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya dulu. Brayen menutup panggilan dari asisten pribadinya Khasanuci.


***


Alena yang sejak tadi menahan rasa sakit di hati, kini sudah tak bisa membendung lagi rasanya. Sudah tiga kali dia riwa-riwi masuk ke dalam toilet untuk menangis.


Beruntung tempat duduknya di dalam pesawat berada di belakang Abi dan Umi nya jadi 2 orang tuanya tidak mengetahui bahwa Alena sedang mengalami masa-masa paling terpuruk dalam hidupnya.


"Duh kenapa ya, Hatiku sakit banget, sakiiiiit banget. Pengen di peluk lagi sama Abang, pelukan Abang bisa sedikit mengurangi rasa sakit hatiku." Setelah puas menangis, Alena mencuci muka untuk kesekian kali. Kemudian dia kembali memakai hijab nya dan keluar dari toilet lalu duduk di kursi penumpang.


***


10 jam kemudian. Brayen memandangi hp-nya, berharap ada panggilan telepon dari Alena, jika bukan panggilan telepon setidaknya ada notifikasi pesan dari Alena. Semakin lama semakin jauh dari Alena membuatnya sangat menderita, Brayen benar-benar takut kehilangan Alena.


"Alena pasti sudah sampai di rumahnya." Gumam Brayen, berharap Alena mengatakan padanya bahwa dia sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan.


"Apa yang sedang dia lakukan ya?..."


"Apa dia juga sama sedihnya sepertiku?..."


"Apa selama beberapa hari tinggal bersama aku tidak ada kesan berarti untuknya?..."


"Apa dia sudah makan?..."


"Apa dia sudah tidak bersedih dan bahagia hidup tanpaku?..."

__ADS_1


"Kenapa aku jadi terlihat bodoh sekali?...Apa susahnya telepon dan bertanya?... Jika hanya menerka-nerka mana bisa Aku punya jawaban yang benar dan pasti?"


***


Di tempat lain Alena juga terus memandangi hp-nya berharap Brayen memberinya kabar. Tapi layar HPnya tidak ada tanda-tanda pesan dari Brayen masuk.


Keduanya sama-sama rindu dan bersedih atas perpisahan ini tapi sayang gengsi lebih mendominasi ketimbang kejujuran atas perasaan yang mereka rasakan, keduanya sama-sama merasa takut mendapat penolakan jika jujur.


Tak tahan menahan gengsi yang terus menyakiti hati satu sama lain, Keduanya bangkit dari ranjang di rumah masing-masing.


Keduanya berjalan kesana kemari meyakinkan diri untuk menghubungi pasangannya. Pasangan suami istri itu saling menelepon di waktu yang bersamaan. Di waktu yang bersamaan mereka menekan tombol panggilan.


"MAAF NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG SIBUK" suara operator telepon. Mereka mencoba menghubungi lagi dalam waktu bersamaan.


"MAAF NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG SIBUK" suara operator telepon.


"Ck...Apa HATI YANG TERTINGGAL masih suka mengganggu istriku ya atau jangan-jangan dia yang sedang menghubungi Istriku." Ujar Brayen.


"Ck... Kenapa tidak bisa dihubungi ya? Pasti wanita itu masih menghubungi suamiku?..." Ujar Alena.


Brayen kembali mondar-mandir di dalam kamar dia mencoba mengetik pesan.


"Malam istriku..." Isi chat. " Ah terlalu lebay hapus saja." Ucap Brayen kemudian langsung menghapusnya. Kemudian Brayen mengetik lagi.


"Hy..." Isi chat " Aku rasa ini cukup, ah sial Aku tidak pernah chattingan dengan perempuan." Gumam Brayen.


***


Arya berjalan tergesa dengan langkah lebar, dia memasuki rumah Brayen. Ingin sekali dia meninju wajah dari Kakak angkatnya itu yang sudah mengirim Alena pulang ke Kampung Nelayan. Arya menghampiri Khasanuci asisten pribadi Brayen yang berdarah Jepang di ruang tamu.


"Di mana Brayen?" Arya bertanya pada Khasanuci dengan wajah tegas.


"Tuan Brayen sedang galau. Sejak tadi mondar-mandir di kamarnya."


"Heh ternyata Tuan mu bisa galau juga rupanya." Arya tersenyum mengejek.


"Tuan Brayen manusia biasa bukan hewan jelas juga bisa galau."


"Kenapa dia galau?..."


"Karena tangannya tidak bisa mengirim pesan yang hanya secuil."


"Hahahaha bosmu memang bodoh. Kenapa kau mau jadi anak buahnya?..."

__ADS_1


"Karena walau kasar dia berhati mulia."


***


"Ting..." HP Alena berbunyi. Alena begitu semangat meraih hp-nya di atas nakas. Padahal baru saja ia hendak menutup mata tapi urung setelah mendengar hp-nya berbunyi.


Hati Alena berbunga-bunga saat membaca notifikasi pesan berinisial suamiku.


"Alena Aku sangat merindukanmu. Apakah kau juga merindukanku?..." Chat dari Brayen.


Alena berjingkrak-jingkrak di atas ranjangnya karena sangat bahagia menerima pesan dari Brayen. Apalagi Brayen mengatakan bahwa ia merindukan Alena, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Yeyeyeye ternyata Abang merindukanku, Oh bahagianya hatiku. Aku juga sangat merindukanmu Abaaaang" Alena terus berjingkrat-jingkrat di atas ranjangnya sambil berteriak.


"Alena sebenarnya kamu sudah mencuri hatiku." chat dari Brayen lagi.


"Aaakkkkhhhhh Abang Bray kau juga sudah mencuri hatiku... Chori Chori Sapnon Mein Aata Hai Koi


Saari Saari Raat Jagaata Hai Koi


Dil Mera Dil Bekaraar Ho Gaya


Dil Mera Dil Bekaraar Ho Gaya


Aisa Lagta Hai Mujhe Pyaar Ho Gaya


Chori Chori Sapnon Mein Aata Hai Koi


Saari Saari Raat Jagaata Hai Koi


Aa... A... A...A...." Seperti orang gila Alena bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan panggulnya meniru gerakan serial India yang selalu ia tonton.


Kemudian notifikasi pesan masuk kembali Alena tidak percaya dengan pesan terakhir yang dikirim oleh Brayen, membuat Alena menjadi geli mendadak wajahnya menjadi pucat, terduduk dan terkulai lemah. Dia menyilangkan tangannya di dadanya.


"Aku ingin mimik susumu Alena..." Chat terakhir dari Brayen.


"Abang, aku juga rindu sama Abang tapi Susu Apa yang dimaksud Abang?" Akhirnya Alena membalas chat dari Brayen...


***


...Hayooo...Siapa yang bilang kalau yang telepon itu Suci?... Tadi kan Brayen cuma Panggil Ci.... Tapi readers langsung merajuk kayak Alena....


...Suci sudah insyaf, kasihan kalau di tuduh terus...Iya nggak....

__ADS_1


...SELAMAT MENIKMATI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK....


__ADS_2