
"Bugh." Arya menendang perut Zain.
"Uuhhh." Tendangan Arya membuat Zain mengaduh karena sakit dan terseret mundur beberapa langkah.
Akhirnya terjadi pertarungan sengit antara pihak Arya dan pihak Iqbal. Beruntungnya pertarungan tidak menggunakan senjata, hanya terjadi baku hantam di antara kedua kelompok. Karena sudah jadi kesepakatan antara Arya dan Brayen. Asal musuh tak bersenjata maka pihak Arya juga tidak bersenjata.
Arya melangkah cepat hendak memukul wajah Zain tapi berhasil di tangkis oleh Zain. Saat Arya akan memberi bogem mentah pada Zain, tangan Arya di cekal dan diplintir oleh Zain hingga membuat tubuh Arya berbalik dan memunggungi Zain. Tapi Arya berhasil menyikut wajah Zain dengan sikunya.
Arya berlari ke arah Zain melompat tinggi dan menendang wajah Zain hingga dia tersungkur di lantai. Membuat cairan merah mengalir di sudut bibirnya. Beruntung rasa trauma Arya pada darah tidak kambuh, mungkin karena otaknya bekerja keras untuk mencari Alyn. Yang ada di pikirannya hanya Alyn tidak ada yang lain.
Arya menarik Krah baju Zain...
"Cepat buka Cermin itu." Triak Arya yang sudah geram pada Zain.
Zain tidak menjawab dia malah membenturkan dahinya ke hidung Arya hingga membuat hidung Arya mengeluarkan darah segar kemudian Zain memukuli perut Arya secara bertubi-tubi.
Saat mendapat kesempatan, Arya memegang kepala Zain, memutar tubuhnya sendiri dan membanting Zain ke lantai.
Beberapa saat kemudian sudah banyak beberapa anggota yang terkapar di lantai, di tangga, di atas meja dan dimana mana tapi Arya dan Zain terus berkelahi saling menyerang dan mempertahankan diri. Rumah Iqbal di buat porak poranda.
****
"Uuuhuuukk uhuuk uhuuuuk . Sebenarnya terbuat dari apa ruangan ini? Hingga asap pun tidak bisa keluar." Ujar Alyn.
"Alyn... Kenapa Aku merasa Iqbal itu seperti psikopat ya? Dia berubah sejak merantau." Ujar Rani yang sudah lemah.
"Jangan banyak bicara Ran. Kau sudah sangat lemah. Kamu terlalu banyak bergerak hingga kehabisan tenaga. Lebih baik kamu banyak berdoa." Ujar Alyn karena Rani terlihat sudah pucat dan lemas. Rani terlalu banyak mengeluarkan tenaga tadi saat berusaha keluar dari ruang ini di bandingkan dengan Alyn.
Alyn sama lemasnya seperti Rani tapi keadaan Rani lebih mengkhawatirkan.
"Aku sudah tidak kuat Lyn. Jika aku mati, Katakan pada Iqbal, aku tidak akan pernah memaafkannya dan aku menyesal pernah mencintainya. Tidak perlu belajar mencintaiku. Aku sendiri takut jika harus di cintai orang seperti Iqbal." Ujar Rani. Alyn yang mendengar Ucapan Rani di buat ternganga, tidak percaya.
"Ran. Apa aku tidak salah dengar? Ran, sadarlah Ran." Rani mulai lemah dan Alyn memeluknya sambil menangis.
"Ran yang kuat Ran. Jangan mati dulu. Kamu harus membalas Iqbal. Gara gara dia, tidak ada pemuda yang mau mendekatimu. Kamu harus kuat Ran." Ujar Alyn sambil menangis melihat Rani tak berdaya.
"Apa maksudmu Lyn?" Tanya Rani lirih. Mata Rani mulai terpejam.
__ADS_1
"Iqbal yang menghalangi para pemuda yang mendekatimu Ran. Maafkan aku yang sering cemburu pada mu dulu Ran." Ujar Alyn.
"Ran. Rani. Rani bangunlah Ran. Raniiiiii..." Triak Alyn saat melihat Rani tak sadarkan diri.
*****
Iqbal baru saja bangun tidur. Dia mengambil Hpnya. Dahi Iqbal mengernyit saat melihat begitu banyak panggilan dari Zain. Iqbal tidak mengetahui adanya panggilan dari Hpnya Karena sedang di silent.
Dia menghubungi Zain balik tapi panggilannya tak kunjung di terima.
Iqbal membuka HPnya dan mengecek CCTV. Iqbal di kejutkan dengan pertarungan sengit yang terjadi di rumahnya. Iqbal memantau kamar Alyn, kosong. Iqbal mengecek setiap ruangan tapi Rani dan Alyn tidak di temukan.
Iqbal memutar ulang CCTV. Iqbal masih tenang saat melihat dua wanita itu berada di kamarnya. Tiba-tiba empat bodyguard menyeret paksa dua gadis yang di sayanginya memasuki ruang rahasia dan itu membuat emosi Iqbal menguar.
Iqbal memang menyuruh Zain untuk menyembunyikan Alyn dan Rani ke dalam ruang rahasia jika Arya tiba tiba datang. Tapi melihat perlakuan empat bodyguard itu membuat Iqbal kesal.
Kemudian Iqbal melihat CCTV di ruang rahasia. Iqbal di kejutkan dengan banyaknya kepulan asap di ruang itu.
Iqbal kesulitan untuk mencari keberadaan Alyn dan Rani karena ruangan itu di kerubungi asap.
"Dasar gadis bodoh. Apa yang mereka lakukan."Ujar Iqbal khawatir.
Iqbal bangkit dan bergegas pergi. Sambil menelepon pilotnya. Saat Iqbal membuka pintu sudah ada penjaga apartemen dan dua anak buahnya, utusan dari Zain karena sulit menghubunginya.
Iqbal berjalan cepat menuju roof top apartemen, dengan langkah panjang dan sedikit berlari. Iqbal di ikuti anak buahnya.
"Maaf tuan... Suami nona Alyn datang dan menyerang jadi terpaksa...." Ujar anak buah Zain.
''Diamlah." Hardik Iqbal. Seketika anak buahnya diam kicep.
*****
Di kediaman Iqbal. Arya dan Zain masih terlibat pertarungan. Sedangkan Brayen masih menghajar beberapa anak buah Zain. Ketiganya sama sama tangguh.
Helicopters berhasil mendarat sempurna di halaman besar rumah Iqbal. Iqbal berlari cepat memasuki rumahnya.
Satu tinju dari Zain berhasil mendarat di rahang Arya.
__ADS_1
Tiba tiba ada yang menarik baju Zain dari belakang. Zain reflek meninju namun tinjuan Zain luput karena Iqbal bisa menghindar. Iqbal pun memberi satu tinjuan di wajah Zain hingga mengakibatkan Zain tersungkur ke dasar lantai.
"Berhenti semuaaaaa." Teriakan Iqbal berhasil menghentikan perkelahian kedua belah pihak.
"Bodoh... Kenapa kau mengurung mereka tanpa pengawasan. Segera buka ruangan itu." Perintah Iqbal yang sudah di rundung kecemasan, meneriaki Zain. Iqbal berlari cepat menuju tangga dan di ikuti Arya dan Zain.
Zain pun menggesek Kunci yang berbentuk pipih menyerupai KTP.
Cermin itu perlahan mulai terbuka sedikit demi sedikit dengan sendirinya.
Arya dan Zain di kejutkan dengan kepulan asap yang menyeruak keluar dari ruang rahasia. Arya mencengkram kerah kemeja Iqbal.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?..." Hardik Arya. Tapi Iqbal tidak menjawab karena tahu posisinya salah.
"Tuan Arya, bukan saatnya bertikai. Selamatkan dulu nona Alyn." Ujar Zain.
Pintu rahasia itu mulai terbuka sempurna. Kemudian Iqbal menghempaskan tangan Arya lalu berlari memasuki ruang rahasia itu dan di ikuti Arya.
Iqbal, Arya dan Zain menutup hidungnya karena asap yang membuat sesak.
Iqbal yang berdiri di ambang pintu kamar mandi di kejutkan dengan keadaan Rani yang sudah tak sadarkan diri di dalam pelukan Alyn yang sedang menangis.
"Rani..." Triak Iqbal yang langsung berlari menghampiri Rani dan mendekap Rani dalam pelukannya. Tangan Iqbal bergetar melihat keadaan Rani yang tidak berdaya.
"Ran sadar Ran. Bangun Ran." Iqbal menangis tapi Rani tak bergerak sedikitpun.
Sedangkan Arya menghampiri Alyn dan mendekap Alyn dalam pelukannya.
"Mas...Rani mas. Rani..." Alyn menangis terisak di pelukan Arya dan pingsan. Lalu Arya segera membopong Alyn keluar.
Kemudian Iqbal membopong Rani keluar dari ruang rahasia.
Iqbal memercikkan air ke wajah Rani yang sudah berada di atas ranjang tapi Rani tetap tidak sadar.
Zain memeriksa denyut nadi Rani. Iqbal menatap Zain yang wajahnya terlihat syok.
"Bagaimana Zain. Bagaimana keadaan Rani." Ujar Iqbal yang suaranya meninggi.
__ADS_1