AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
HARTA SUAMI ADALAH HARTA ISTRI


__ADS_3

"Siapa yang mengizinkanmu memakai gelang ini Alena?" Ucap Brayen dengan tegas.


"Bang ingat baik-baik ya... Ini prinsip, harta suami adalah harta istri dan harta istri adalah harta istri. Jadi apapun harta Abang aku boleh pakai, iya kan. Iya dong masa' nggak."


"Ayo cepat kembalikan. Jangan membuat tensi ku naik Alena."


"Abang itu cowok, cowok itu diharamkan memakai perhiasan berupa emas. PAHAM. Jadi ini buat aku aja."


"Huuuuufffhhh malah ceramah."


"Jangan macam-macam kamu Alena." Ucap Brayen tegas.


"Cukup satu macam." Ucap Alena santai dengan kepala yang teleng ke kanan dan ke kiri, Brayen hampir tertawa, dia tidak bisa benar-benar marah menghadapi Alena.


"Bibirmu itu kalau bicara suka ngasal. Cepat kembalikan."


"Biar ngasal Abang doyan. Emangnya Abang mau pakai gelang ini?"


"Tidak..."


"Lalu Abang mau kasih gelang ini sama siapa?... Kok aku istrinya nggak boleh pakai?...Terus Abang beli ini buat siapa?..."


"Jangan mendebat ku Alena. Ayo mana, kembalikan cepat."


"Abang itu pelit sekali sih sama istri. Semenjak Kita nikah, Abang itu tidak pernah memberikan aku perhiasan. Abang itu suami pelit, super duper pelit, tidak romantis, kaku kaya kanebo kering. Istri cuma diberi makan supaya bisa hidup untuk bisa di bajak?... Abang itu harusnya bersyukur punya istri seperti aku, karena sudah mau menerima kekurangan Abang apa adanya."


"Alena kamu tuh kalau bicara suka ngelantur. Cepat kembalikan. Aku akan menggantinya dengan yang baru. Kamu boleh memilih apapun yang kamu mau. Dengan kartu ini, kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan." Brayen kemudian memberikan Alena black card.


"Aku tidak suka yang warna hitam aku lebih suka yang warna gold."


"Alena... Jangan membuatku marah cepat berikan dan ambil ini." Alena malah menyembunyikan tangannya yang di lingkari gelang itu di balik punggung. Alena menatap Brayen dengan wajah yang bersungut-sungut.


"Aku udah terlanjur cinta sama gelang ini. Seistimewa apa sih gelang ini? Apa ini dari mantan Abang?"


"Aku tidak pernah berpacaran, kamulah satu-satunya perempuan yang hadir dalam hidupku."


"Lalu kenapa marah marahin aku? Awas saja kalau minta jatah ya nanti malam."


"Yang marah marah itu kamu." Ucap Brayen mulai lirih karena mendengar ancaman Alena.


"Lalu gelang ini milik siapa?..."


"Gelang itu tidak penting."

__ADS_1


"Abang kalau aku ngambek minggat lagi loh...."


"Hadoooohhh iya iya..." Brayen menghela nafas. "Umi bilang gelang itu ditemukan bersamaku sewaktu aku dibuang di panti asuhan." Ucap Brayen dengan wajah sendu.


Alena menjulurkan gelangnya dihadapan Brayen namun wajahnya menghadap ke luar jendela mobil. Brayen melihat gelang di tangan Alena kemudian beralih melihat Alena.


"Kau saja yang simpan." Ucap Brayen karena tak tega melihat Alena yang sejak tadi ngotot mempertahankan gelang itu.


"Terima kasih Abang..." Alena berhambur memeluk Brayen dan mencium pipi Brayen bertubi-tubi.


"Hatiku sakit setiap kali melihat gelang itu."Brayen membantin.


***


"Rio kau tidak bisa memutuskan ku secara sepihak. Aku sudah memberikan segalanya padamu. Bahkan kita sudah..." Rio langsung membungkam mulut Helen dengan tangannya.


"Aku tidak pernah memaksamu. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka."


"Rio kamu tidak bisa mencampakkanku setelah aku memberikan segalanya padamu." Helen menangis terisak, dia tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya setelah semalam Rio memutuskan hubungan mereka.


"Dulu Kau sudah berjanji akan menikahi ku setelah kita lulus nanti jika aku mau melakukannya dengan mu."


"Itu dulu." Jawab Rio santai.


"Waaaahhhhh pipiku panas Cak...."Ucap Rio sambil mengusap-usap pipinya yang panas karena tamparan Helen.


***


"Hey cantik..." Ucap Rio saat melewati bangku Alena. Alena hanya melengos malas.


"Kenapa pipimu?" Sinta bertanya pada Rio.


"Abis di ***** Helen tadi." Sahut Alena. Alena sempat melihat Helen menampar Pipi Rio di ujung koridor. Walaupun tidak tahu titik perkaranya apa, sebab jaraknya terlalu jauh. Rio menelan salivanya, membuat jakunnya naik turun takut Alena mendengar percakapannya dengan Helen.


"Wah ganas juga ya si Helen ******* sampai memberi bekas telapak tangan..."


"Hahahaha..." Si Rio malah di tertawakan teman sekelasnya.


"Ah...Biasa Cowok....Di usap usap sambil memandang Alena begini ntar memarnya hilang. Iya kan Dinda."


"Ya elah lebay lu...Elu mah bukan selera Alena." Ucap Sinta.


"Masih belum aja. Entar juga selera."

__ADS_1


"Lama lama gerah juga di buntuti play boy cap kadal." Alena membantin.


Setiap hari Rio tak henti hentinya menggoda Alena hingga Alena jadi ledekan di kelas. Tidak hanya di kelas, di manapun Alena berada dia selalu mengikuti. Rio juga sering memberi Alena hadiah tapi Alena selalu menolak.


***


Di ruang Praktek semua mahasiswa dan mahasiswi melukis sesuai imajinasi mereka di atas kanvas.


Alena menutup mata dan sesekali memoles kanvas dengan kuas yang sudah di lumuri cat, dia membayangkan wajah suaminya.


"Sempurna..." Ucap Alena setelah selesai melukis, dia melukis wajah Brayen. Lukisan Alena sama persis dengan wajah asli Brayen, terlihat nyata dan hidup.


"Bidadari hatiku lihatlah lukisan ku." Rio memanggil Alena tapi Alena tidak menggubrisnya karena Rio masih memanggilnya bidadari hatiku.


"Wah Alena Rio melukis dirimu? Sama persis lagi."


Alena tak peduli dengan ucapan teman temannya. Alena hanya memperhatikan wajah suaminya terutama matanya yang mengingatkan Alena pada wanita bercadar itu.


Alena mengambil cat berwarna hitam dan melukis ulang lukisannya. Alena memakaikan hijab di lukisan Brayen, kemudian Alena menutup wajah Brayen dengan cadar seperti yang di kenakan wanita yang di lihatnya di supermarket tadi pagi.


"Benar benar sama persis mata Abang sama wanita itu." Ucap Alena setelah memperhatikan hasil lukisan Brayen yang kemudian di pasangi cadar oleh Alena.


"Sepertinya aku harus alih profesi, dari seniman menjadi detektif."


***


"Alena pulang bareng yuk...."Ucap Rio pada Alena yang menunggu jemputan dari Brayen di depan gerbang.


"Tidak. Terima kasih. Aku di jemput." Jawab Alena, yang berdiri di depan gerbang bersama dengan Sinta dan Citra yang sama sama menunggu jemputan.


"RIO CAKRAM DININGRAAAAT..." Tiga gadis cantik dengan pakaian seksi memanggil Rio.


"Buuugg...Aaaawww" Satu tas mendarat sempurna di wajah Rio saat Rio menoleh. Tiga wanita itu mengeroyok Rio, memukulinya dengan tas di hadapan Citra, Sinta dan Alena.


"Bisa bisanya kau memutuskan kami bertiga tanpa alasan." Tiga wanita itu mengamuk, membuat Rio tak punya muka di hadapan tiga gadis jutek yang dulu pernah di dekatinya namun tak berhasil. Setelah gagal mendekati Citra dan Sinta, kini Rio benar benar serius pada Alena. Maka dari itu Rio memutuskan semua hubungan dengan pacar pacarnya.


***


Akhir Bulan sebentar lagi yang mau dapat hadiah 100ribu di rangking satu jangan lupa dukungannya VOTE LIKE KOMENTAR FAVORIT.


Di akhir bulan pemenang bisa lihat di bawah ini.


__ADS_1



__ADS_2