AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PENCULIKAN


__ADS_3

"Huuuuufffhh...Kapan kamu akan menikah Rio."


"Doakan secepatnya." Ucap Rio.


"Papa ini udah tua, udah sakit sakitan. Papa ingin punya Cucu. Kalau Papa meninggal sebelum punya cucu gimana?..."


"Papa itu ngomong apa sih." Ucap Mama Rio yang sedang menyajikan makanan di atas meja.


"Papa akan panjang umur dan menimang 10 cucu dariku." Ucap Rio.


"Gimana mau nimang cucu, nikah saja belum. Kerjaanmu hanya Gonta ganti pacar saja. Cari perempuan baik baik dan segera nikahi dia."


"Iya Pa." Ucap Rio sambil menyuapi Papanya yang duduk di kursi roda dengan makanan.


"Rio kan masih kuliah Pa." Ucap Mama Rio.


"Kan bener Ma. Rio sudah cukup umur. Sudah waktunya dia menikah." Ucap Sang Papa.


"Aku sudah menemukan perempuan yang cocok Pa, besok aku akan melamarnya. Jika dia mau aku akan mengenalkannya sama Papa dan Mama."


"Papa harap ini bukan omong kosong mu."Papa Rio memberikan tatapan keraguan, karena dia tau betul sifat anaknya yang suka Gonta ganti pasangan.


"Aku serius Pa, kali ini." Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati Rio berdebar saat menatap mata seseorang.


"Kalau begitu, segera kenalkan dia sama Papa."


"Udah jangan berdebat, Rio kamu juga makan. Biar Mama yang menyuapi Papamu."


"Papa bisa makan sendiri." Ucap Papa Rio.


"Nggak...Biar Rio saja yang menyuapi Papa, sebagai baktiku pada orang tua."


"Kalau kamu mau berbakti pada orang tua, pastikan kamu mendapatkan gelar sarjana. Kuliah kok nggak lulus lulus."


"Huuuuufffhhh...Iya Ma." Rio sangat tidak senang jika membahas masalah perkuliahan, orang tuanya selalu menuntut dia untuk segera lulus. Wajar sih, karena dia mahasiswa tertua di kampusnya. Dia adalah juara bertahan di kampus itu, di usianya yang sudah mencapai 27 tahun harusnya di bisa mendapatkan gelar sarjana S2. Tapi gelar S1 saja dia belum berhasil mencapainya.


Tapi Rio yang sekarang berbeda, dia sudah mulai berubah. Sudah ada kemauan untuk maju. Dia sudah berhenti pergi ke Club malam. Dia sudah berhenti celap celup sembarangan, Ini berkat Alena.

__ADS_1


Alena benar-benar membuatnya candu, setiap hari setiap saat setiap detik yang dia pikirkan hanyalah Alena. Bahkan dia memutuskan semua kekasihnya agar bisa mendapatkan sedikit celah di hati Alena.


Di dalam kelas pun hanya Alena yang ia pandangi. Bukan hanya curi pandang, dia blak blakan memandangi Alena. Alena lah yang membuatnya semangat untuk masuk kampus dan tidak membolos seperti biasanya.


Rio mulai rajin belajar semenjak kehadiran Alena di kelasnya, nilai mata pelajarannya juga mulai meningkat sebab dia malu jika terus menerus di tegur oleh dosen di hadapan Alena.


Semua teman kelasnya di kampus sangat takjub dengan perubahan Rio. Rio si pemalas dan Rio yang selalu gonta ganti pasangan seperti ganti baju, kini benar-benar rajin belajar dan jomblo. Semua teman kelas Rio sangat salut pada Alena, tanpa melakukan apapun pada Rio, Alena sudah bisa merubah perilaku Rio lebih alim sedikit, walaupun hanya sebesar biji sawi.


***


Arya sudah menyelidiki wanita bercadar itu.


Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah perumahan kompleks.


Satu minggu sekali, wanita itu akan keluar dari rumah majikannya untuk berbelanja di supermarket yang di ceritakan Alena, supermarket itu tidak jauh dari rumah majikan wanita bercadar itu. Wanita itu pulang pergi berjalan kaki.


Beberapa hari ini Khasanuci sudah mencoba mengajaknya bicara di rumah majikannya, saat majikannya tidak berada di rumah. Tapi wanita itu langsung membanting pintu hingga tertutup. Kabarnya Wanita itu tidak pernah berbicara dengan orang asing. Dia menutup diri dari masyarakat.


***


"Bagaimana? Apa aku sudah mirip dengan Brayen?" Ucap Arya sambil bercermin, Arya mengenakan softlens berwarna biru dan sedikit bulu halus di area rahangnya (Brewok) Seperti Brayen, dengan rambut yang di buat sedikit pirang.


"Sialan kau."


"Jangan mengumpat, lihat lah wanita bercadar itu keluar."


Sekarang tepat hari Minggu, wanita itu mulai keluar dari rumah majikannya. Arya, Khasanuci dan tiga bodyguard wanita yang sudah mengintainya sejak tadi, kini mulai mengikutinya.


Di jalan yang sepi, Khasanuci menghadang jalan wanita itu dan menunduk hormat.


"Maaf, Saya minta waktu Anda sebentar." Khasanuci mencoba bicara baik-baik dengan wanita itu.


"Maaf saya tidak punya waktu, saya sedang terburu-buru." Wanita itu malah menghindar, dia terlihat panik.


"Ini mengenai Tuan Brayen." Wanita itu semakin cepat berjalan, dan menjauh.


"Aku tahu wanita itu tidak akan membuatnya mudah tapi menculik wanita rasanya sangat tidak etis. Aku seperti kriminal saja." Ucap Arya di dalam mobil dia mengibas ngibaskan tangannya, memberi isyarat pada tiga bodyguard wanita itu untuk bertindak. Dua Bodyguard itu langsung turun.

__ADS_1


Dua bodyguard wanita itu berjalan di sisi wanita bercadar itu, dan menghimpitnya di tengah tengah. Dia yang terlihat ketakutan akhirnya berusaha melarikan diri. Tiba-tiba satu bodyguard wanita muncul di hadapannya dan menariknya masuk ke dalam mobil Arya.


"Aaaaakkkhhh..."


"Kalian siapa?..." Wanita itu terlihat panik.


"Tolong kerjasamanya, kami tidak akan menyakiti anda." Dua bodyguard Memegangi tangan wanita itu, saat dia memberontak.


"Kalian siapa? Dan mau apa? Tolong lepaskan saya, kalau tidak saya akan berteriak."


"Toloooong, Toloooooong, Toloooooong..." Wanita itu meronta-ronta dia terlihat panik dan ketakutan. Salah satu bodyguard itu membekap wanita bercadar itu dengan sapu tangan hingga wanita itu tak sadarkan diri.


***


Wanita itu mulai membuka mata, yang pertama kali di lihatnya adalah Arya yang duduk di hadapannya. Sementara Khasanuci berada di depan pintu. Wanita itu langsung duduk, dia terlihat panik.


"Siapa kau?... Kenapa membawaku kemari?... Tolong lepaskan saya, jangan sakiti saya." Wanita itu sangat ketakutan.


Arya sendiri bingung mau mulai percakapan dari mana, sebab dia tidak tahu apapun tentang masa lalu Brayen dan wanita itu, Arya sudah mencoba mencari informasi Brayen di panti asuhan, tapi dia sama sekali tidak menemukan jejak apapun, data data Brayen tidak ada. Penjaga panti asuhan yang menemukan Brayen sewaktu bayi juga sudah meninggal, membawa pergi semua informasi.


Wanita itu turun dari ranjang, berjalan mundur karena ketakutan. Kini dia merembet ke tembok, berjalan menyamping di sudut tembok.


"Toloooong, toloooong, Toloooooong..." Wanita itu berteriak histeris , dia terus menyudutkan dirinya di dinding kamar. Berusaha menjauhi Arya.


Arya merasa sangat tidak nyaman karena telah melakukan penculikan terhadap wanita bercadar itu. Hati Arya resah karena rasa bersalah.


"Tenanglah Ibu. Aku Brayen anakmu." Entah kenapa kata itu keluar dari mulut Arya. Khasanuci berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Arya yang di buat sendu. Tapi kalimat Arya berhasil menenangkan wanita bercadar itu. Wanita itu berhenti berteriak, dia menatap Lekat-lekat wajah Arya, dengan nafas yang memburu. Matanya berkaca-kaca.


Kini Arya bisa melihat dengan jelas. Benar apa yang di katakan Alena. Mata wanita itu adalah duplikat dari mata Brayen. Arya memperlihatkan cincin Zamrud yang ia kenakan pada wanita bercadar itu.


"Kenapa ibu membuangku di panti asuhan?..." Ucap Arya dengan wajah sendu, penuh penghakiman. Seolah-olah seribu bongkahan batu telah menghujaninya semasa hidup.


***


Author.


Hatiku gembira, riang tak terkira. Karya ku naik level kakak... Ini semua berkat dukungan dari kalian semua... Terima kasih yang sebanyak banyaknya. Tanpa dukungan dari kalian, karya saya tidak ada artinya.

__ADS_1


Love you readers


__ADS_2