
"Byuuuuurrr..." Zara Anne terbangun saat Khekanan menyiramnya dengan air. Zara Anne terkejut saat dia bangun sudah tidak mengenakan apapun bahkan sudah ada lelaki simpanan Haya Casiraghi lelaki yang bernama Hazel di samping Zara Anne.
Zara Anne di fitnah berselingkuh dengan lelaki simpanan Haya Casiraghi.
Khekanan menghajar habis Hazel hingga babak belur. Padahal Hazel dan Zara Anne tidak melakukan apapun, keduanya sama-sama pingsan.
Akhirnya lelaki simpanan Haya Casiraghi di beri hukuman mati. Dengan begitu rahasia besar Haya Casiraghi tertutup rapat. Sementara Zara Anne di asingkan di kota Madupa yang terletak jauh dari pemukiman, penuh dengan pohon rindang. Dia di asingkan sampai dia melahirkan nanti. Baru Khekanan akan memberikan keputusan lebih lanjut.
Saat kehamilan Zara Anne mulai membesar, Khekanan datang ke tempat pengasingan di kota Madupa dengan tubuh penuh luka dan raut wajah yang khawatir, dia membawa Zara Anne keluar dari gedung pengasingan.
Khekanan dan Zara Anne di kejar oleh para pengkhianat yang di pimpin oleh perdana menteri.
Saat pasukan mulai dekat, Khekanan membuka cincin dan memberikannya pada Zara Anne dan menyuruhnya pergi.
"Maafkan aku karena tidak percaya padamu, Bawa cincin Zamrud ini, pergilah yang jauh. Jangan kembali lagi. Terlalu banyak pengkhianat di sini. Akan sulit membedakan yang setia, pergilah. Jaga anak kita."
"Lalu kau bagaimana?..."
"Aku akan menghadang mereka. Kau pergi lah."
"Tapi...!"
"Pergilah waktu kita tidak banyak." Kemudian Zara Anne pergi menjauh.
Dari kejauhan Zara Anne melihat pertarungan Khekanan dan akhirnya Khekanan di tembak oleh perdana menteri.
Di perjalanan Zara Anne di tolong oleh seseorang dan membawanya ke tempatnya sekarang ini.
Tapi orang yang menolong Zara Anne tewas karena seseorang yang memakai penutup kepala karena tidak mau memberi tahu keberadaan Zara Anne.
Beruntung Zara Anne bisa lolos. Zara Anne melahirkan seorang diri. Setelah melahirkan, dia menitipkan bayinya pada pemilik panti.
FLASH BACK OFF.
Arya meraup wajahnya, dia berduka atas masa lalu Brayen. Dia tidak menyangka bahwa kehidupan Brayen dan orang tuanya begitu memilukan.
"Jika orang yang membawamu kemari tewas karena menolongmu berarti penjahat itu masih berkeliaran di sini." Ucap Arya.
"Bisa jadi."
"Ibu jangan khawatir, saya akan berusaha membantu menyelesaikan masalah Ibu."
"Mari ikuti saya." Ucap Arya setelah Zara Anne puas menangis.
"Kemana?"
"Ini sudah siang. Waktunya Ibu makan siang."
"Tapi aku tidak lapar Nak."
"Ibu tetap harus makan. Jaga kesehatan Ibu."
Kemudian Arya beranjak pergi di ikuti Zara Anne.
***
"Ya ampun mas." Alyn terkejut melihat penampilan baru Arya. Arya jadi malu sendiri di buatnya. Semakin terkejut lagi saat Khasanuci dan wanita bercadar keluar dari ruangan Arya.
"Dia siapa mas? Ada apa ini?" Alyn melongo memandang Arya.
"Ibunya Brayen. Sudahlah nanti aku ceritakan. Sekarang layani mertuamu itu." Alyn semakin tertegun. Masih sangsi atas Ucapan Arya.
Kemudian Alyn membawa Zara Anne ke ruang makan. Alyn menghidangkan begitu banyak makanan di hadapan Zara Anne. Alyn melayani Zara Anne dengan senang hati.
__ADS_1
Zara Anne membuka cadar saat ia hendak makan.
"Masya Allah.... Cantik sekali...." Alyn mengagumi kecantikan alami Zara Anne. Tanpa riasan, dia cantik alami.
Sementara Arya dan Khasanuci mulai berdiskusi mengenai masalah Brayen.
***
Ranjang yang di tiduri Alena bergoyang, kemudian sebuah tangan menyusup ke pinggang Alena. Brayen memeluk Alena yang sedang menangis dari belakang.
Brayen tidak tega membiarkan Alena menangis terlalu lama.
"Berhentilah menangis..." Ucap Brayen sambil mencium ceruk leher Alena. Seketika tangis Alena terhenti. Dengan segera Alena menghapus air matanya. Melepaskan tangan Brayen dari pinggangnya. Kemudian Alena turun dari ranjang.
Brayen menarik tangan Alena.
"Mau kemana?"
"Menyiapkan makanan."
"Tunggu lah sebentar disini." Ucap Brayen kemudian menarik tangan Alena hingga terduduk kembali di tepi ranjang. Brayen kembali memeluknya dan kembali menciumi Alena.
"Aku lapar." Ucap Alena.
"Lapar atau marah."
"Lapar." Kemudian Brayen membiarkan Alena pergi.
***
Alena menuangkan makanan, lauk pauk dan sayuran di piring Brayen. Kemudian Alena ikut bergabung di meja makan. Alena makan dalam diam. Keceriwisan yang biasa ia tunjukkan hilang, meja makan yang biasanya ramai karena celotehnya hilang. Entah mengapa Brayen merasa seperti ada yang hilang.
"Alena kenapa kamu diam saja?..." Ucap Brayen menatap Alena dengan wajah datarnya.
"Belajar diam dari banyaknya berbicara." Jawab Alena tanpa ekspresi.
"Aku hanya belajar dewasa, seperti yang Abang mau."
"Huuuuufffhhh... Alena."
Setelah beberapa saat kemudian keduanya selesai makan. Alena membereskan semua piring kotor yang ada di meja makan.
"Alena bersiap siap lah...Aku akan membawa mu ke suatu tempat."
"Iya."
"Kita akan ke panti asuhan."
"Iya."
***
Di dalam mobil keduanya sama-sama diam. Brayen mencoba mengajak Alena bicara. Namun jawaban Alena hanya IYA dan TIDAK.
Tidak seceria biasanya. Biasanya satu pertanyaan selalu Alena jawab satu paragraf.
"Alena ada apa dengan mu? Kenapa kamu diam saja, tidak ceria seperti biasanya."
"Lebih baik aku diam Bang, dari pada salah bicara."
"Tapi ya tidak seperti ini juga Alena."
"Lalu aku harus gimana?...Ngomong salah. Diam juga salah."
__ADS_1
"Huuuuufffhhh... Jangan puasa bicara."
"Hemmmm..."
"Heeemmm APA?"
"Heeemmm Iya."
Brayen melihat taman bermain, Kemudian Brayen mengarahkan mobilnya ke parkiran taman.
"Katanya mau ke panti, ngapain ke sini?..."
"Ngajak bocah itu ke taman. Bukan ke panti." Bibir Alena langsung mengerucut. Brayen langsung menciumnya.
"Iiiiiihhhhh Abang, main nyosor aja."
"Lah bibir kamu mengerucut gitu. Berarti kan ingin di cium Hahahaha." Wajah Alena kembali di teluk. Brayen turun dari mobil. Dia mengitari mobil dan membuka pintu untuk Alena.
Brayen menggenggam tangan Alena. Taman sepi pengunjung, tidak banyak kendaraan yang lewat, sebab taman tidak berada di jalan utama.
"Ngambeknya jangan lama-lama. Nanti cantiknya hilang 1 % loh." Brayen mengucapkan kalimat seperti saat Alena merayunya.
"Pacaran setelah menikah itu enak ya. Bebas mau ngapain aja, berpahala lagi." Ucapan Brayen di sambut senyuman oleh Alena. Alena pun menyandarkan kepalanya ke lengan Brayen karena tubuh Brayen begitu tinggi. Alena tidak bisa lama-lama marah dengan Brayen.
"Mau main ayunan." Brayen menawarkan.
"Mau." Ucap Alena tersenyum antusias.
Alena duduk di ayunan sementara Brayen mendorongnya. Brayen terlihat seperti ABG yang baru mengenal pacaran. Keduanya kembali akur dan bercanda seperti biasanya.
"Kamu mau Ice cream." Ucap Brayen saat melihat penjual Ice cream di ujung jalan.
"Mau, pake banget."
"Kamu tunggu di sini. Biar aku yang beli."
"Aku ikut."
"Tuan putriku tercinta, tunggu di sini sebentar. Aku tidak akan hilang...."
"Iiiiiisssss iiiisss iiiisss....Sudah sana..."
Kemudian Brayen pergi ke rombong Ice cream, yang sedikit jauh dari tempat Alena berada.
Setelah Brayen membayar dan menerima Ice cream, Brayen mendengar teriakan Alena.
"Abaaaang...." Brayen langsung menjatuhkan Ice creamnya saat melihat dua orang laki-laki sudah menyeret Alena yang memberontak di jalan beraspal.
Brayen pun mengejarnya namun peluru terus melesat menuju ke arah Brayen. Brayen berlari di balik mobil yang berjajar terparkir di pinggir jalan untuk menghindari peluru.
Saat melihat Alena sudah di masukkan ke dalam mobil Brayen mengejar kepergian mobil itu. Brayen terus berlari dengan sangat cepat...
"Abaaang.... Abaaaang... Abaaaang..." Alena melihat ke belakang, berteriak memanggil manggil Brayen yang terus mengejarnya.
"Doooor...." Brayen terjatuh saat satu tembakan menembus dadanya.
"Abaaaaaaaaang...." Alena berteriak histeris saat melihat tubuh Brayen tergeletak di tengah jalan beraspal.
***
Author.
SELAMAT MENIKMATI....
__ADS_1
Saya menerima saran ya kakak tapi yang penyampaian santun. Syukur Alhamdulillah pembaca novelku orangnya santun2... Penyampaian kritiknya juga Santun.
TERIMA KASIH LOVE YOU