
Setelah makan malam bersama selasai, Arya kembali ke kamarnya dan mengecek struktur perkembangan dari tiap-tiap cabang usaha yang dikelolanya.
Sedangkan Alyn membantu Bi Ijah membereskan meja makan.
Walaupun Alyn adalah Nyonya di rumah Arya tapi Alyn tidak serta merta berdiam diri saja di rumah. Alyn juga selalu membantu pekerjaan Bi Ijah di dapur sebab Arya hanya ingin memakan masakan dari istri tercintanya.
Untuk membersihkan rumah Arya memperkerjakan dua asisten rumah tangga, khusus untuk membersihkan rumah. Sebab Arya tidak ingin melihat Alyn melakukan pekerjaan itu lagi.
Arya hanya mengizinkan Alyn melakukan pekerjaan di dapur dan Arya tidak berani menentang hal itu, karena ini adalah permintaan dari Alyn.
"Bi Ijah sudah makan apa belum?..." Tanya Alyn pada bi Ijah.
"Sudah nyonya." Jawab bi Ijah sopan.
"Apa semua para pekerja di sini sudah makan malam bi?" Tanya Alyn lagi pada Bi Ijah.
"Sudah nyonya." Jawab bi Ijah lagi.
"Kalau begitu saya permisi ke kamar dulu ya bi." Ucap Alyn sopan pada Bi Ijah.
"Iya nyonya." Jawab bi Ijah. Kemudian Alyn pergi meninggalkan bi Ijah yang sedang menata piring di dapur.
Alyn sangat perhatian kepada semua pekerja yang ada di rumahnya. Walaupun Alyn adalah majikan di rumah Arya, namun Alyn selalu memperlakukan para pekerja di rumah itu dengan baik.
Oleh sebab itu semua para pekerja di rumah Arya sangat betah apalagi memiliki majikan sebaik nyonya Alyn dan tuan Arya. Bahkan terkadang Arya sering mengirimkan oleh-oleh untuk keluarga dari para pekerja yang bekerja di rumahnya.
Selesai berberes-beres di dapur, Alyn pergi memasuki kamarnya. Dia mengambil hp-nya dan melakukan panggilan video call pada adiknya Alena.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Alena adik dari Alyn, langsung menerima panggilan video call dari kakak tercintanya itu.
"Assalamualaikum adik." Alyn mengucapkan salam pada adiknya.
"Waalaikumsalam Mbak Alyyyyyn." Alena menjawab salam Alyn dengan penuh semangat. "Mbak apa kabar?" Ucap Alena dengan penuh kegirangan.
"Alhamdulillah mbak baik dik. Gimana kabar keluarga disana?... Apa Abah sehat?..." Tanya Alyn pada adiknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mbak semua keluarga di sini baik dan sehat. Abah juga sehat Mbak. Tiap pagi saja Abah olahraga mengelilingi kampung." Ujar Alena.
"Kamu itu ada ada saja dik. Palingan Abah cuma jalan kesana-kemari di halaman rumah seperti biasa." Ujar Alyn yang tak percaya pada ucapan adiknya yang suka bicara asal.
Meskipun Alena adalah adik kandung dari Alyn tapi sifatnya lebih mirip dengan Rani.
"Hehehehe.... Mbak kok tau sih?..." Tanya Alena.
"Ya tahu lah.... Kan mbak sangat mengenal kamu. Kamu masih suka kebut kebutan pake motor ya?..." Tanya Alyn yang sangat khawatir dengan tingkah adik kesayangannya itu yang sedikit unik.
"Tidak mbak. Alena kapok. Gara gara Alena jatuh dari motor, penyakit jantung Abah jadi kambuh. Mbak kapan main ke sini?... Adik kangen sama Mbak." Ujar jawab Alena adik Alyn.
"Insya Allah kapan-kapan mbak main ke sana. Nanti Mbak akan tanya suami Mbak bisanya kapan. Soalnya suami Mbak sekarang lagi sibuk-sibuknya kerja. Jadi tidak ada waktu untuk main ke sana." Ujar Alyn yang sangat merindukan keluarganya tapi tidak mau merepotkan suaminya.
"Adik. Umi sama Abah di mana?... mbak kangen." Tanya Alyn.
"Sebentar Mbak ya... Aku masuk ke rumah dulu.
Abah, Umi, Abaaah, Umiiiii, ini lho Mbak Alyn telepon. Abaaaaahhhh, Umiiiiii." Ujar Alena sambil berteriak-teriak memanggil kedua orang tuanya.
"Kamu itu kenapa? malam malam kok teriak teriak. Anak gadis nggak baik teriak-teriak seperti itu." Tutur Umi Naya menasehati.
"Ini loh Umi, Mbak Alyn telepon." Sahut Alena. Gadis periang yang ceriwis dan selalu grusa grusu dalam melakukan hal apapun.
"Nak kamu apa kabar? Umi kangen sama kamu. Kapan kamu main kesini? Kabari Umi dulu kalau mau main ke sini. Biar nanti Umi masakin makanan kesukaan kamu. Oh ya... Makanan kesukaan suami kamu apa ya? Nanti Umi juga siapin makanan kesukaan suami kamu." Umi Naya memberondong banyak pertanyaan untuk Alyn, sambil menyapu air matanya yang mengalir karena merindukan akan sulungnya.
Alyn yang melihat ibunya menangis, pun ikut mengeluarkan air matanya.
"Mbok Yo tanyanya satu persatu toh Umi... Kalau banyak pertanyaan gini gimana Alyn bisa jawab." Ucap Abah Fajar. Kemudian Umi Naya memberikan hpnya kepada suaminya, malu pada Alyn karena menangis.
"Umi jangan nangis dong. Alyn kan juga ikut nangis." Ujar Alyn sambil menghapus air matanya.
"Umi ngapain nangis gitu sih...Mbak Alyn kan ikut suami ke Jakarta bukan ikut perang dunia ke tiga." Ujar Alena ceplas Ceplos sambil mengunyah kacang polong.
"Alena. Sudah berapa kali Abah bilang, yang sopan kalau bicara sama orang tua." Tutur Abah Fajar menasehati.
__ADS_1
"Maaf Abah, Alena khilaf." Ujar Alena menunduk lalu melirik Abah nya Sambil tersenyum.
"Jangan senyam senyum dik. Kalau orang tua menasehati itu di patuhi." Ucap Alyn.
"Mbak Alyn kok tau sih aku ngapain?...Mbak punya ilmu terawang ya?..." Ujar Alena. Walaupun Alyn tidak melihat Alena tapi Alyn tahu betul kebiasaan adik kesayangannya itu setiap di ceramahi selalu menunduk tapi cengengesan.
"Ya tahulah itu kan kebiasaan kamu." Bukan Alyn yang menjawab tapi Abah Fajar.
"Hehehe." Alena malah cengengesan dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
Alena dengan seenaknya duduk di tengah tengah kedua orang tuanya yang tadinya duduk bersebelahan.
Sejak tadi Alyn hanya melihat Abahnya saja karena Umi masih sibuk menangis dan tidak mau tersorot kamera.
"Abah sini bah, Hpnya bah." Alena mengambil Hpnya dari tangan Abah Fajar. Kemudian mengarahkan kamera ke arah Umi Naya.
"Mbak Alyn, lihat nih mbak Alyn. Umi nangisan nih loh. Lihat nih." Ujar Alena menunjukkan video Umi Naya pada Alyn, saat Uminya sedang menangis. Alyn hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya yang tidak berubah sedikit pun.
"Dasar anak bandel." Ujar Umi menarik telinga Alena.
"Adah, dah da da da da da. Ampuni aku Umiku yang cantik jelita." Teriak Alena mengadu kesakitan. Kemudian Umi Naya melepas telinga Alena lalu menghapus air matanya.
Alyn sangat merindukan suasana keluarganya yang hangat. Serta tingkah konyol dari adiknya. Tanpa Alena suasana di rumah itu sepi.
"Nikahin saja adik Alena, Umi. Biasanya kalau orang sudah nikah bisa berubah lebih dewasa." Ujar Alyn, bercanda.
"Iiiliiiiiihhhh... Nggak , Nggak mau...Alena kan masih mudah. Masa depan masih panjang membentang. Masa remaja itu waktunya bersenang senang. Bukan waktunya nyebokin bayi." Ujar Alena menolak dengan tegas.
"Iya nanti akan Umi jodohin sama mang Ujang tukang ojek itu." Ujar Umi Naya.
"Iiiiiihhhhh amit amit jabang bayi. Umi tarik kutukannya. Ucapan adalah doa loh Umi." Ujar Alena merengek.
*****
Jangan lupa like komentar vote favorit ya kaka
__ADS_1