AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PENYESALAN BRAYEN


__ADS_3

"Ku colok nih pake garpu kalau masih melihatku kayak gitu."


"Hehe maaf... Jangan marah... Just kidding..."


"Nih cewe bikin penasaran. Jiwa penasaran gue meronta coy...."


"Maaf ya jangan tersinggung...."Ucap Rio tapi Alena tidak bergeming.


Kemudian Alena mulai melahap makanan yang sudah dingin di depannya. Rio pun hanya berani melirik dan curi pandang, takut kena semprot lagi oleh Alena.


"Ck....Ya ampun...Pulsaku habis lagi. Padahal harus ngabarin Mama Kalau aku pulang telat karena ada tugas kelompok." Gumam Rio pelan tapi masih bisa di dengar oleh Alena.


"Ehem...Dik kamu punya pulsa tidak...Aku mau telpon rumah tapi pulsaku habis jadi..." Belum selesai Rio menyampaikan alasannya, Alena sudah menyodorkan Hpnya pada Rio.


"Terima kasih..." Ucap Rio tapi Alena pelit suara.


"Hahay.....Tak ku sangka akan semudah ini mendapat nomornya." Rio membantin setelah memiscall nomornya sendiri yang sudah di silent.


"Tidak di angkat angkat dik oleh Mama ku telponnya. Ini Terimakasih." Rio mengembalikan Hp Alena setelah dia menghapus nomor hpnya dari Hp Alena.


"Sama sama..." Kemudian Alena beranjak pergi.


"Hey mau kemana?..." Rio mengikuti langkah kaki Alena.


"Bukan urusanmu." Ujar Alena datar. Rio terus mengekori Alena, mengajak Alena bicara tapi Alena cuek.


Rio cepat bergegas mengambil motornya saat Alena sudah keluar dari pintu Cafe. Alena berusaha memesan taksi online. Tapi Hpnya malah mati karena kehabisan baterai, Alena clingak clinguk menunggu taksi lewat tapi tidak kunjung muncul.


"Hey ladies....Ayo ku antar pulang..."


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."


"Di sini jarang ada taksi lewat." Alena tidak menggubris ucapan Rio.


"Bahaya bagi perempuan cantik pergi sendirian malam malam."


"Bahaya juga bicara dengan orang asing yang tidak di kenal." Balas Alena.


"Ayo kenalan dulu biar kita tidak jadi orang asing."


***

__ADS_1


"Tuan, Saya jadi tidak enak hati pada istri Anda. Dia pasti salah paham dan marah." Ucap Suci menyesalkan tindakan Brayen.


"Dia tidak akan marah. Nanti saya akan jelaskan padanya."


"Anda jangan terlalu keras padanya....Dia masih muda. Jiwanya masih labil. Dia juga cantik. Pasti banyak lawan jenis yang tertarik padanya. Jangan terlalu kasar dan keras padanya, saya takut Anda akan kehilangan dia dan menyesalinya. Dia masih punya keluarga kan, jika Keluarganya tahu putrinya di perlakukan dengan kasar oleh suaminya, mereka tidak akan terima bahkan lebih parahnya lagi memaksa Anda untuk menceraikannya."


Suci melihat buku jari Brayen sudah memutih karena mencengkram kemudi dengan kuat.


"Maaf bukannya menggurui tapi hanya sekedar mengingatkan anda, takut anda menyesal setelah terlambat menyadari kesalahan Anda." Lanjut Suci.


Ucapan Suci membuat hati dan pikiran Brayen gelisah.


"Alena masih muda, cantik, banyak yang tertarik, perceraian, penyesalan dan perpisahan" Kata kata Suci terus berputar putar di kepala Brayen. Brayen mulai gelisah, pikirannya terganggu dengan kata itu. Terlebih hubungan yang mereka jalani tidak jelas. Tapi Brayen akui, kehadiran Alena membuat hidupnya mulai berwarna.


Brayen melajukan mobilnya lebih kencang agar segera sampai ke rumah Suci. Setelah mengantar Suci pulang dengan selamat di rumahnya. Tanpa basa-basi Brayen tancap gas menuju rumah sakit, dia ingin segera bertemu dengan istri kecilnya yang bar bar itu dan meluruskan segalanya.


Padahal Brayen sudah menginjak gas dengan kecepatan yang menggila tapi mobil terasa begitu lamban saja baginya.


***


Beberapa saat kemudian Brayen sampai di depan rumah sakit, Setelah memarkir mobilnya dia bergegas pergi dengan langkah panjangnya. Dia sangat terburu-buru ingin segera bertemu dengan Alena.


Nafas Brayen sudah ngos ngosan setelah berjalan setengah berlari hanya untuk sampai di ruangan sang mertua. Brayen menetralkan nafasnya sejenak, setelah di rasa nafasnya berangsur stabil, Brayen membuka pintu.


Tidak ada Alena, hal itu membuat Brayen mulai khawatir.


"Arya..." Arya menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.


"Kemari?..." Arya menghampiri Brayen yang masih berada di luar pintu.


"Kemana yang lain?..."


"Siapa maksud mu, Umi?..."


"Alena." Arya mengernyitkan alisnya heran setelah mendengar jawaban Brayen.


"Tadi dia mengirim pesan padaku katanya pulang duluan, ada urusan. Apa dia tidak memberi tahu mu?... Apa ada sesuatu yang terjadi?..."


"Tidak.... Tidak ada…"


"Apa kalian ada masalah." Cerca Arya yang masih tidak percaya pada Brayen.

__ADS_1


"Tidak ada apa apa.... Semua baik baik saja. Ya sudah, aku mau menyusul Istriku."


***


Kemudian Brayen pergi dengan langkah tergesa. Perasaan Brayen makin tak nyaman. Rasa khawatirnya semakin parah. Terlebih Brayen belum mengenal karakter Alena yang sesungguhnya. Brayen tidak bisa membaca jalan pikiran Alena.


Brayen kembali memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, membelah kegelapan malam di tengah guyuran hujan. Brayen memarkir mobilnya sembarangan di depan rumah karena Ingin segera berbicara pada Alena.


Brayen membuka kamar Alena, ternyata kamar itu masih kosong.


"Alena....Alena...Alena...." Brayen berjalan mencari keberadaan Alena tapi tidak ada sahutan.


Brayen bertanya pada penjaga gerbang rumah, mereka bilang Alena tidak pulang sama sekali.


Hal itu membuat Brayen semakin kebingungan dan di dera kekhawatiran yang amat besar.


"Di mana gadis itu?...."


Brayen hendak menghubungi Arya untuk meminta rekaman CCTV rumah sakit namun niatnya dia urungkan. Jika Arya melihat CCTV itu maka urusannya akan semakin runyam. Terlebih Arya sudah mengancamnya untuk tidak menyakiti Alena.


Brayen akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit yang jarak tempuhnya membutuhkan waktu satu jam untuk ke sana.


***


Dari rekaman CCTV Brayen memperhatikan Alena yang bersembunyi di balik tembok untuk melihat dirinya dan Suci. Jika orang yang tidak tahu pasti menyangka jika Brayen dan Suci adalah sepasang suami istri. Tak terkecuali Alena yang sudah salah paham padanya.


Setelah Alena mendorong Suci kini Brayen mengerti letak kesalahannya, Brayen yang refleks memegangi pinggang Suci yang hampir roboh dan tanpa sadar tangannya memegang bahu Suci. Hal itu lah yang memicu kemarahan Istri kecilnya.


Rasa bersalah Brayen kian menyeruak saat melihat bulir air mata jatuh dari mata lentik Alena. Hati Brayen terasa di pukul melihat kekecewaan Alena padanya. Brayen benar benar menyesal karena telah melayangkan tangan pada Alena. Beruntung Suci memegangi tangan Brayen, jika sampai tangan Brayen berhasil mendarat di pipi Alena, Brayen akan semakin merasa bersalah.


Di lihatnya Alena keluar dari rumah sakit dengan taksi online.


***


Brayen menghubungi kantor taksi online yang sudah mengantarkan Alena. Brayen mendapatkan Informasi bahwa Alena mampir di Cafe BINTANG BERPIJAR.


Brayen turun tangan sendiri pergi ke Cafe BINTANG BERPIJAR, Untuk menemui Alena. Tapi Alena sudah tidak ada di tempat. Brayen meminta rekaman CCTV di Cafe ini tapi rekaman CCTV hari kosong, sudah di hapus.


Brayen menghubungi seseorang untuk mencari tahu keberadaan Alena lewat rekaman CCTV jalanan. Tapi hasilnya nihil. Alena hilang bah di telan bumi, tak meninggalkan jejak. Brayen semakin frustasi di buatnya.


Berkali-kali Brayen menghubungi Alena tapi Hpnya sudah tidak aktif. Kini Brayen sangat sangat menyesal bercampur khawatir.

__ADS_1


***


SELAMAT MENIKMATI


__ADS_2