
"Mas Aryaaaaaa, Mas Aryaaaaaa, Mas Aryaaaa aku ada disini.... Maaassss" Triak Alyn di bantu Rani. Alyn dan Rani menggedor gedor jendela kamar. Alyn heran sejak kapan jendelanya di kunci.
Arya yang berjalan mendekati rumah Iqbal tidak bisa mendengar suara Alyn dan Rani.
Tiba-tiba datang empat bodyguard menyeret Alyn dan Rani lalu memasukkan mereka ke dalam ruangan kedap suara dengan pintu yang menyerupai cermin. Cermin itu bisa di buka seperti pintu.
Tempat Rahasia yang berada di kamar yang Alyn tempati, tepat di dalam cermin kamar mandi. Terlihat Cermin dari luar padahal cermin itu adalah pintu dan dari dalam adalah ruangan sweet room lengkap dengan ranjang dan sofanya.
****
Zain sudah menunggu kedatangan Arya di depan pintu.
"Di mana istriku?..." Tanya Arya pada Zain.
"Dia tidak ada disini." Jawab Zain. Tapi Arya tak percaya. Arya mendorong Zain dan melewatinya. Arya masuk ke rumah Iqbal di ikuti anak buahnya. Saat anak buah Zain hendak menghalangi, Zain memberi isyarat pada anak buahnya agar Mereka tidak membuat kekacauan dan membiarkan Arya dan pengikutnya menggeledah rumah Iqbal.
Semua anak buah Arya berpencar mencari keberadaan Alyn. Setiap ruangan dari sudut ke sudut sudah di cari tapi tidak di temukan jejak Alyn.
Arya tertarik dengan satu kamar yang berbeda jika dibandingkan dengan kamar yang lain. Kamar ini terlihat lebih bagus dan luas daripada kamar yang lain.
__ADS_1
Arya melangkah masuk ke dalam kamar. Hati Arya tergerak untuk melihat isi lemari. Dia membuka lemari. Arya menatap aneh isi lemari itu. Semua berisi pakaian wanita. Arya mengambil beberapa pakaian dan semua ukuran sama dengan ukuran Alyn. Bahkan lengkap dengan pakaian dalamnya. Bahkan ukurannya sama dengan ukuran Alyn. Arya tahu karena Arya sudah mengukurnya Sendiri.
Kemudian Arya memasuki kamar mandi tempat Alyn di sekap.
"Alyn." Alyn sangat senang bisa mendengar suara Arya. Tapi Arya tak menyadari keberadaan Alyn.
Alyn dan Rani berteriak teriak memanggil nama Arya tapi Arya tak bisa mendengarnya.
"Mas Aryaaaa.... Aku disini...dooorr dooorr dooorr" Alyn berteriak dan menggedor gedor cermin.
"Maaaaaassss..." Teriak Alyn.
Rani menarik tangan Alyn dengan kasar karena kesal dan kalut.
"Kau itu apa apaan Lyn. Sekarang bukan waktunya menangis. Cepat lakukan sesuatu sebelum suamimu keluar dari sini." Ujar Rani dengan tegas.
Alyn bangkit dan mencari sesuatu yang kiranya bisa digunakan.
Alyn dan Rani membuka lemari, Bupet, kamar mandi untuk mencari sesuatu yang kiranya berguna.
__ADS_1
Arya melihat wastafel lalu berjalan ke arahnya. Arya menyalakan kran air Kemudian Arya membasuh wajahnya. Setelah membasuh wajahnya. Lalu Arya mematikan kran air, menatap pantulan wajahnya di cermin.
Setelah menemukan tongkat golf, Alyn mendengar suara gemericik air. Alyn menghampiri Arya yang berada di depan cermin wastafel. Mereka saling berhadapan namun ada jarak. berhadapan tapi tidak dapat melihat satu sama lain.
"Alyn kau ada dimana? aku sangat merindukanmu. Kenapa kau pergi meninggalkan ku pada hal aku sangat mencintaimu." Ujar Arya. Alyn bisa mendengar suara Arya.
"Aku juga sangat merindukanmu mas." Jawab Alyn tapi Arya tak dapat mendengar suara Alyn. Tanpa terasa air mata mengalir dari mata indahnya.
Sementara Rani masih mondar mandir mancari suatu yang kiranya bisa digunakan untuk membuat sinyal pada Arya bahwa Alyn ada di dalam ruangan kedap suara ini.
Kemudian Rani menangkap sesuatu yang membuatnya kesal. Rani menghampiri Alyn yang sedang termangu.
"Lyn kau sudah tidak waras ya. Sekarang bukan waktunya nostalgia. Nanti kalo bebas sekalian indehoynya. Kenapa kau tidak bilang jika menemukan tongkat golf." Ujar Rani yang kesal dengan sikap kelemotan Alyn.
"Maaf." Jawab Alyn.
Rani merampas tongkat golf itu dari tangan Alyn. Alyn mendengar suara langkah Arya kian menjauh. Rani memukul setiap dinding berharap menemukan sesuatu yang bisa memancing Arya.
"Maaaaaassss.... Mas Arya jangan pergi mas....Aku ada di sini maaassss...." Triak Alyn saat menyadari langkah Arya kian menjauh. Alyn menggedor gedor cermin itu tapi sama sekali tidak ada efek yang di timbulkan.
__ADS_1
Rani semakin gencar memukul dinding ketika mendengar teriakan Alyn.