
Nurmala menyingkap tirai jendela, langit nampak mendung berkabut. Hujan mengguyur kota Jakarta, membasahi jalanan, menciptakan suara gemericik di genangan air dan di atas genteng. Ranting pohon melambai-lambai mengikuti hembusan angin, dedaunan pun berguguran mengotori halaman rumah majikan Nurmala.
Dia mulai membersihkan rumah, mulai dari menyapu, mengepel lantai dan mengelap meja yang berdebu hingga mengkilap, Nurmala kerjakan sendiri di lantai atas.
Setelah membereskan kamar milik anak majikannya, kepala Nurmala terasa pening. Dia merebahkan tubuh lelahnya sejenak di atas sofa, untuk melepas penat setelah membereskan rumah. Tak terasa Nurmala malah terlelap. Saat mendengar suara guntur, Nurmala terbangun. Entah sudah berapa lama dia tertidur, dia segera bangkit dari sofa, ia harus segera keluar dari kamar sebelum anak majikannya kembali.
BRAAAAAKKKK.... Baru saja Nurmala bangkit dari sofa, dia di kejutkan dengan suara dentuman pintu yang memekakkan telinga di banting sangat keras oleh anak majikannya. Namanya Alfian.
Punggung Nurmala langsung tegap, rasa takut menyelimuti hatinya dan sekujur tubuhnya merinding melihat tatapan Alfian yang sayu, pria yang selalu bersikap dingin berusia 27 tahun itu menyeringai, ada kilatan birahi di matanya. Perasaan Nurmala jadi tak karuan, jantungnya berdebar kencang.
DEG
Jantung Nurmala berdegup kencang ketika Alfian mengunci pintunya kamar, dia berjalan mendekati Nurmala. Semakin dekat ia melangkah, semakin berdebar jantung Nurmala, suasana kamar jadi menegangkan.
Nurmala melangkah mundur, tangannya mengepal, dia kesulitan menghirup oksigen, perasaan gugup dan takut bercampur menjadi satu, tubuhnya gemetar hebat.
"Den sa-saya mau keluar. Tolong bu-buka pintunya." pinta Nurmala dengan suara terbata, tapi Alfian tak menghiraukan perkataan Nurmala, dia terus melangkah ke arah Nurmala.
Nurmala merasa bahaya sedang mengincarnya, ia bergeser, merapatkan tubuhnya ke dinding untuk menjauhi Alfian. Nurmala berlari secepat mungkin menuju pintu tapi sebelum berhasil meraih gagang pintu, langkahnya terhenti.
Alfian mencengkram pergelangan tangan Nurmala. Pun menoleh ke belakang, mata pria itu gelap penuh dengan kilatan gairah. Nurmala memberontak, menarik-narik tangannya seraya memukuli dada Alfian. Namun pukulan Nurmala tak berimbas apapun pada Alfian.
"Tolooong hemmmm..." Nurmala berteriak, tapi Alfian membekap mulutnya dan menyeretnya dengan paksa menuju ranjang, kaki Nurmala terseret mengikuti langkah Alfian.
Alfian menikmati setiap sentuhannya. Tak peduli dengan tangisan pilu Nurmala, mata hatinya sudah tertutup kabut. Nurmala semakin kalut, air mata semakin deras mengucur.
__ADS_1
Segalanya telah hilang bersamaan dengan jerit kesakitan Nurmala, kehormatan yang selama ini dia jaga telah hilang di renggut secara paksa oleh laki-laki biadab ini. Masa depan Nurmala sudah hancur.
***
Matahari mulai bersembunyi dari peraduan, malam semakin pekat di iringi awan mendung. Suara guntur bersahut-sahutan. Langit gelap tak berbintang. Langit ikut menangis, menurunkan gumpalan hujan dengan volume besar.
Nurmala mengerjapkan mata, perlahan matanya mulai terbuka. Mata Nurmala memindai setiap sudut kamar. Saat ini Nurmala sudah berada di dalam kamarnya dengan pakaian baru.
Puing-puing ingatan kejadian lalu mulai bermunculan di ingatan Nurmala. Dia berharap apa yang di alaminya hanyalah mimpi buruk belaka. Tapi untuk sebuah mimpi, itu terasa begitu nyata.
"Mbak, udah bangun." terdengar suara seseorang di sisi ranjang Nurmala.
Di sampingnya sudah ada Sarah, adik dari Alfian Laksmana. Gadis cantik itu tersenyum hangat pada Nurmala dengan mata yang sembab. Nurmala berusaha duduk dari tidurnya walaupun kesulitan, badannya terasa remuk, dia memegang bagian intinya, terasa sakit.
Tenyata semua itu bukan mimpi, itu nyata terjadi. Air mata Nurmala kembali tumpah dengan deras, ini terlalu menyakitkan, tangis Nurmala kembali pecah. Dia tidak menyangka akan mengalami hal senista Ini dalam hidupnya.
Dari luar kamar, terdengar perdebatan sengit antara anak dan orang tua, membuat hati Nurmala kian tersayat, kebahagiaannya bagai di cincang dengan belati.
"Kesalahanmu kali ini sangat fatal Alfian. Kamu harus nikahin dia!" suara pak Lukman terdengar lantang.
"Aku tidak sudi menikahinya. Cukup beri uang sebagai kompensasi, beres." suara Alfian terdengar santai. Tega sekali Alfian menyamakan Nurmala dengan wanita murahan.
BRAAAKKK ...
"Alfian, jaga bicara kamu." Pak Lukman, ayah dari Alfian menggebrak meja.
"Dia cuma pembantu, Pa. Kenapa kalian membesar-besarkan masalah ini! Dia itu lebih butuh uang daripada pernikahan." mendengar suara Alfian, hati Nurmala kian teriris. Tega sekali mengatakan hal seburuk itu tentang Nurmala. Dia tak butuh tanggung jawab dari Alfian.
__ADS_1
"ALFIAN, CUKUP." kini Ayu yang berbicara keras lantaran tak bisa menahan kekecewaan terhadap putranya.
"Loh, bener 'kan, Ma. Mau di taruh mana mukaku kalau aku menikah dengan pembantu. Apa kata orang-orang nanti tentangku?"
"Alfian, jaga bicara kamu. Kamu sudah keterlaluan." Lukman meraung dengan berang. Ia sangat emosi dengan sikap Alfian. Sementara Ayu, mengusap dadanya yang terasa sesak melihat tingkah putranya.
"Kalau Papa mau, Papa saja yang nikah sama dia." Alfian berucap dengan ketus seraya beranjak dari kursinya.
BRAAAKK
"Alfian, jangan kurang ajar kamu sama orang tua." Lukman kembali menggebrak meja. Ia sangat emosi melihat tingkah putranya. Namun Alfian tak peduli, ia tetap melangkah semakin jauh.
Nurmala menangis tersedu-sedu. Perkataan yang keluar dari mulut Alfian membuat hatinya kian terluka.
kehormatannya sudah hancur tak tersisa. Kejadian tadi benar-benar menghantam hati Nurmala, hingga hancur menjadi puing-puing. Hati Nurmala sakit, sakit sekali. Apalagi setelah mendengar hinaan dari Alfian.
Angan-angan tentang masa depan, kini telah sirna hanya tertinggal rasa keputusasaan.
"Mbak jangan khawatir, Mas Alfian pasti akan tanggung jawab dan nikah kamu, Mbak." Sarah menghapus air mata Nurmala. Namun langsung di tepis.
Perbuatan bej*t Alfian sudah memberikan luka yang begitu dalam. Luka itu kian menganga mendengar penghinaan Alfian. Nurmala segera bangkit dari tempat tidur, ia berjalan ke arah lemari, mengambil tasnya di atas lemari dan memasukkan semua pakaiannya dengan asal-asalan ke dalam tas. Semua barang-barangnya juga dia kemasi.
"Loh, mbak Nur mau kemana?" Sarah menarik tangan Nurmala. Namun, tangan Sarah langsung di tepis oleh Nurmala.
"Aku nggak mau tinggal di rumah ini." Nurmala memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas sembari menyeka air mata yang terus mengalir sendiri tiada henti.
"Loh, mbak jangan pergi. Tolong maafin Kak Alfian. Kak Alfian pasti akan tanggung jawab." Sarah berucap dengan ekspresi sendu. Ia dapat merasakan luka hati yang Nurmala rasakan.
"Aku nggak sudi nikah sama pria bejat seperti kakakmu."
__ADS_1