
"Abang." Brayen berhenti padahal pikirannya sudah melayang layang.
"Apa?" Brayen bertanya dengan suara parau, matanya sudah berkabut dengan hasrat yang menggelora.
"Aku harus ngapain?" Ucap Alena di tengah kebingungan dan kegugupannya.
"Kamu diam saja jangan berisik dan jangan banyak gerak. Mengerti?" Ucap Brayen yang sedikit kesal karena Alena yang terus mengulur waktu.
"Kenapa nggak boleh gerak?" Alena bingung karena ia sama sekali tidak berpengalaman dalam bidang iya iya.
"Biar...Biar...!" Brayen sedikit bingung akan menjelaskan apa pada Alena.
"Biar biar tidak mengganggu ritualku." Brayen membantin dalam hati.
"Biar kamu lebih rileks." Ucap Brayen.
"Abang hemmmm..." Alena tidak bisa berkata-kata lagi saat mulutnya sudah di bungkam.
Alena mulai menikmati sentuhan Brayen. Alena yang amatir diam saja tidak tahu harus melakukan apa.
Mereguk kenikmatan yang lebih dalam dari keindahan yang menariknya, membawanya terbang ke awang-awang. Brayen mulai menikmati segala yang di suguhkan ...
Suara Alena tak tertahan, Alena merasa tubuhnya meremang terbang ke nirwana, nikmat ini tak bisa di jelaskan hanya dengan kata-kata. Yang jelas ini sangat nikmat bagi Alena yang amatir.
Suasana indah di kamar pengantin baru, tidak ada yang lebih indah dari hubungan setelah menikah. Dua insan saling berbagi menikmati keindahan, menikmati indahnya cinta yang halal.
Alena mulai merespon dengan mata sayup-sayup, suara lirih dan berat. Dia sudah tidak sabar, Brayen semakin bersemangat mendengar permintaan dari istrinya.
Brayen mulai membawa Alena menikmati indahnya surga dunia di alam yang fana.
Alena berteriak sangat keras. Alena tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.
"Tok tok tok tok ... Alena, ada apa lagi Nak?" Umi kembali mengetuk pintu kamar Alena karena mendengar teriakan Alena.
"Ada kecoak Umi," jawab Brayen dengan suara beratnya. Gangguan datang lagi. Brayen menggerutu.
"Buka pintunya Nak biar Umi bantu bersihin kamarmu."
__ADS_1
"Deg..." Jantung Alena dan Brayen terkejut.
"Tidak usah Umi. Kecoaknya sudah mati."
"Ow ya sudah kalau begitu." Akhirnya Umi Pergi.
Kemudian Brayen kembali melakukannya lagi. Karena takut Alena berteriak lagi, Brayen membungkam Alena. Dengan gairah yang meletup letup. Entah sudah berapa lama Brayen membawa Alena terbang.
Alena begitu tak berdaya mendapatkan perlakuan Brayen, sedangkan Brayen amat menikmati percintaan ini. Brayen lupa diri, tak tahu apa yang Alena rasakan.
Alena sudah tidak tahan dan tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa meneteskan air mata. Sedangkan Brayen yang terbuai asyiknya kenikmatan tak menyadari apa yang di rasakan Alena, apa lagi keadaan gelap.
Beberapa saat kemudian setelah lama berpacu tapi Brayen tidak ada lelahnya, Alena kehilangan kesadarannya, Alena pingsan karena sakit yang teramat dalam.
***
Alena membuka mata, pandangan matanya sedikit buram. Dia mencium bau obat, puing puing ingatan sebelum dia pingsan mulai bermunculan.
Alena menghembuskan nafasnya, matanya mulai terbuka lebar. Di lihat tangannya terpasang selang infus.
Mata Alena langsung membulat lebar saat menyadari dirinya tak lagi berada di rumahnya melainkan di rumah sakit.
"Abang..." Alena merengek menangis.
"Kenapa menangis, apanya yang sakit?"
"Masih bertanya apanya yang sakit? Kenapa Abang bawa aku ke rumah sakit. Aku malu Bang!"
"Kenapa harus malu? Kau kan sedang sakit."
"Aku malu, Bang. Namaku akan di catat dan di kenang sepanjang sejarah, masuk rumah sakit karena begituan." Alena menangis sambil menarik narik baju Brayen.
Brayen sendiri bingung akan menjawab ucapan Alena bagaimana. Brayen sendiri sebenarnya malu tapi karena rasa cemas dan khawatir karena Berjam jam Alena tidak sadarkan diri akhirnya Brayen membawa Alena ke rumah sakit.
"Aku mau pulang Bang. Ayo pulang."
"Kamu 'kan belum sembuh."
__ADS_1
"Pokoknya aku mau pulang."
"Iya iya kita akan pulang."
"Aku malu Bang. Umi dan Abah bilang apa?"
"Mereka pikir kamu pingsan karena pobia kecoak."
"Iya kamu kecoaknya."
"Maaf, ya."
Kemudian dokter wanita datang untuk memeriksa kondisi Alena. Alena langsung memeluk pinggang Brayen, menyembunyikan wajahnya di perut Brayen karena malu dan tidak ingin wajahnya di kenali oleh siapapun.
Alena bersikeras menolak untuk diperiksa dia ngotot ingin pulang karena sangat malu.
***
Beberapa saat kemudian Alena sudah diizinkan pulang karena sejak tadi dia merongrong pada Brayen untuk pulang.
Dia memakai masker sebelum pulang karena dia malu jika dirinya dilihat oleh banyak orang. Bagi Alena ini sungguh sangat memalukan, ini aib terbesar dalam hidupnya selama ini.
Saat Alena turun dari Ranjang Rumah sakit kakinya tidak bisa berjalan karena area intinya sangat sakit. Akhirnya dia harus keluar dari rumah sakit dengan menggunakan kursi roda, Brayen mendorong kursi roda yang diduduki Alena. Semua perawat memandang mereka melihat mereka dengan tatapan yang aneh dan lucu.
Langkah Alena dan Brayen diikuti mata para perawat yang melihat mereka.
***
Sesampainya di rumah Alena. Brayen menggendong Alena turun dari mobil.
Tak lama kemudian beberapa tetangga datang untuk menjenguk Alena yang sedang sakit.
"Alena kamu sakit apa?" Tetangga Alena bertanya
"Phobia kecoak?" jawab Alena yang duduk di atas ranjang kamarnya.
"Aku baru tahu kalau kamu punya phobia kecoak yang begitu parah sampai masuk rumah sakit." ucap salah satu Tetangga Alena.
__ADS_1
***