Aku Selalu Salah

Aku Selalu Salah
Bab 103 Bercerai


__ADS_3

Setelah Revano dan Kalvin pulang, semua masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Seminggu telah berlalu sekarang saat nya, untuk menyiap kan kue ulang taun untuk perusahaan Revano. Kue itu akan di antar pukul 4 sore, dan acara akan di laksanakan sehabis sholat maghrib.


Ayu dan keluarga nya juga di undang, untuk datang ke pesta tersebut. Pesta berjalan dengan meriah bertema kan out dor dengan dekor bunga hidup. Di pesta itu Kalvin terlihat sangat tampan, dengan pakaian formal dan dasi kupu-kupu nya. Kalvin sangat menggemaskan di mata Ayu, Kalvin juga nempel terus pada Ayu dan keluarganya.


Gilang dan Diva juga datang ke pesta itu, untuk mewakili perusahaan Ayah nya. Mereka datang berdua, tanpa mengajak anak mereka. Baby Elang juga belum bisa di bawa kemana-mana, karena usia nya baru 2 bulan.


Tanpa sengaja Gilang melihat Ayu sedang bercanda dengan seorang anak kecil, kira-kira berusia 8 tahun. Gilang merasa kesal hingga tanpa sengaja, Gilang meremas tangan Diva secara kasar.


Diva yang merasa tangan nya di remas secara kasar, dia berteriak pelan, "auh, sakit Mas." sambil melepas kan tangan Gilang. Gilang yang mendengar teriakan istri nya segera menengok, untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Kenapa, apa yang sakit?" Tanya Gilang sedikit khawatir.


"Nich tangan aku yang sakit, karna kamu remas." Sewot Diva, sambil menunjukan tangan nya yang sakit.


"Maf-maf aku tidak sengaja sayang, tadi aku lihat kecoa lewat. Kamu tau kan, aku takut kecoa." Ujar Gilang berbohong.


"Sudah lah Mas, jangan berbohong. Aku tau, kamu melihat Ayu kan bersama pria lain." Ujar Diva memutar bola mata nya dengan malas.


"Kamu ngomong apa sih, Div. Mana ada, Ayu di sini. Kamu, yang tidak-tidak saja." Ujar Gilang mengalih kan pembicaraan.


Pesta berlangsung sangat meriah, semua karyawan dan tamu undangan sangat puas. Semua tamu undangan pulang dengan oleh-oleh, sebuah sofenir yang sangat cantik berupa liontin dengan bertuliskan huruf R.


Untuk semua karyawan yang berkerja di pusat dan cabang, memiliki kesempatan memenangkan dor prize. Dor prize itu, berupa sepeda motor.

__ADS_1


2 minggu telah berlalu, sidang putusan perceraian akan di laksana kan beberapa jam kedepan. Ayu dan pengacara nya sudah menyiap kan semua nya, begitu juga dengan Gilang dan pengacara nya.


Seperti nya, persidangan ini akan berjalan sangat alot. Karena dari pihak Gilang, masih menuntut harta gono-gini yang tidak pernah ada. Ayu sampai geleng kepala, dengan tingkah mantan suami nya.


Tidak lama persidangan di mulai, pak Hakim dan anggota nya sudah memasuki ruangan. Mereka duduk di tempat yang tersedia, palu di ketukan ke meja pertanda sidang sudah di mulai.


"Silah kan untuk penggugat dan tergugat untuk duduk di depan." Ujar Jaksa. Ayu dan Gilang, maju kedepan dan duduk di sana.


"Berdasar kan bukti-bukti, yang di ajukan oleh kedua belah pihak. Maka hakim memutuskan, untuk perceraian ini sah di mata hukum dan agama." Ujar pak Hakim sambil mengetok palu.


Ayu dan keluarga nya sangat bersyukur, akhir nya sidang ini selesai juga. Sekarang tinggal menunggu, surat cerai keluar. Dan mulai sekarang, Ayu akan memulai kehidupan baru dengan status baru nya menjadi janda.


Gilang dan ibu nya, hanya bisa pasrah. Mungkin ini yang terbaik, untuk kita semua. Gilang menghampiri Ayu, untuk berjabat tangan yang terakhir.


"Yu, aku minta maf yah. Kalo aku dulu, sering menyakiti kamu." Ujar Gilang menyesal. Ayu menganggukan kepala nya.


Mantan mertuaku juga meminta maaf pada ku, atas semua kesalahan di masa lalu. "Ayu ibu minta maaf yah sama kamu, atas kesalahan yang pernah ibu perbuat sama kamu." ujar Ibu Nur. Beliau menahan tangis, karena rasa bersalah.


Setelah saling memaaf kan, Ayu berlalu pergi bersama pengacara nya pak Gandi. Mereka akan makan bersama, untuk merayakan keberhasilan kasus peeceraian ini. Ayu juga mengundang orang tua nya, untuk hadir di restoran tersebut.


Sedang Gilang langsung pulang ke rumah nya, dia butuh menenang kan diri nya sendiri. Gilang tidak pulang ke rumah Diva, melain kan ke hotel yang dekat dengan pengadilan agama. Di sana Gilang ketemu Dini, yang sedang menginap juga.


Sesampai nya Gilang di kamar, dia merenungkan semua yang terjadi. Dari mulai awal nikah siri dengan Agnes secara dian-diam, terus menikah dengan Ayu. Setelah menikah dengan Ayu, Gilang juga pernah berhubungan badan dengan Nita (sahabat Ayu). Dan kemaren tanpa sadar, meniduri Diva adik bos nya. Dan Diva mengaku hamil anak ku, padahal aku tidak merasa melakukan nya. Dan sekarang aku sudah bercerai dengan Ayu, istri pilihan Almarhum Bapak.


Ayu memang wanita yang baik, mandiri tidak manja seperti Diva. Semua bisa di laku kan sendiri, dia tidak pernah mengeluh kalo uang yang aku kasih kurang. Bahkan motor yang aku belikan dulu, aku jual kembali untuk membayar hutang ku.

__ADS_1


Dan yang kemarin di jadi kan tuntutan itu hasil dari kerja keras nya, memang di beli saat masih menikah dengan ku. Tapi sebenar nya aku melaku kan itu, supaya Ayu tidak jadi menceraikan ku. Tapi nyata nya, dia kekeh tetap pada pendirian nya.


Ada sedikit penyesalan di hati Gilang, kenapa kemarin mau menikah dengan Diva yang manja dan cemburuan. Dan kadang terlintas dalam pikiran, 'apakah benar baby Elang itu anak ku. Karena dari yang ku lihat wajah nya tidak ada mirip nya dengan ku, malah cendrung mirip asisten nya.'


'Kayak nya, harus di selidiki nih. Apa aku harus secara diam-diam melakukan tes DNA terhadap baby Elang, untuk meyakin kan diriku.' Ucap nya dalam hati.


Tidak lama handpon Gilang berdering, tanpa melihat yang siapa yang menelpon Gilang langasung mengangkat nya.


"Halo Mas, kamu di mana? Baby Elang nangis terus, bisa pulang sekarang tidak?" Ujar Diva.


"Ya halo Div, maf aku belum bisa pulang sekarang. Aku sedang menenang kan diri sebentar, nanti sore aku pulang." Ujar Gilang. "Tolong lah Mas, biasa nya Baby Elang diam kalo sama kamu." Ujar Diva memohon.


"Aku juga minta tolong, jangan ganggu aku dulu sebentar saja. Aku perlu menenang kan diri ku sendri. Lagian kan kamu ibu nya, masa tidak bisa mendiam kan anak kamu sendiri." Ujar Gilang sedikit emosi menghadapi istri manja nya.


Sedang Ayu, sekarang merasa bebas. Sekarang lebih banyak tersenyum tidak seperti dulu, saat masih menikah dengan Gilang. Yang ada, hanya cacian dan makian yang aku peroleh dari mereka.


"Tapi mungkin lebih baik menjadi janda, dari pada bersuami sakit lahir dan batin." Pikir Ayu. Dari belakang ada yang menepuk punggung Ayu. "Sudah jangan di pikirin lagi, masih banyak pria lain yang lebih baik dari Gilang." ujar nya.


Karena ada yang menepuk punggung nya refleks menengok dan berteriak, "Anita."


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan nya untuk karya ini...


Mohon tinggal kan jejak di karya ini.

__ADS_1



Mampir juga di karya terbaru saya..


__ADS_2