
Tidak terasa hari sudah semakin larut, Ayu sudah terlelap dari tadi. Dia akan memikirkan keputusan nya besok, mau percaya sama suaminya atau harus cari penjelasan dari wanita itu. Sekitar pukuk 2 dini hari, tenggorokan Ayu kering. Ia beranjak dari kamar Kalvin, menuju dapur untuk mengambil minum.
Di dapur Iya bertemu dengan Revano, yang sedang duduk melamun di dekat meja makan. "Sedang apa dia malam-malam sendiri di dapur, Apa iya sedang merenungi kesalahannya tempo hari." tanya Ayu dalam hati.
Namun Ayu tetap mengabaikan suaminya, dia masih belum bisa memaafkannya. Setelah mengambil air minum Ayu kembali ke kamar Kalvin, Iya kembali melanjutkan tidurnya sampai adzan subuh baru dia terbangun lagi.
Pagi harinya Ayu seperti biasanya menyiapkan sarapan, untuk semua keluarganya. hari ini ia akan mencari bukti, untuk meyakinkan hatinya dan ia juga ingin mengetahui kejujuran suaminya.
Sekitar 1 jam, Ayu selesai memasak makanan untuk sarapan. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi Kalvin, untuk mandi dan membangun kan anak sambung nya. Setelah itu baru menyuruh Kalvin, untuk membangukan Revano papih nya.
Setelah Revano dan Kalvin selesai bersiap-siap, mereka berjalan ke ruang makan. setelah sarapan Revano sengaja mengantar Kalvin pergi ke sekolah, ia ingin Ayu berpikir jernih untuk memgambil keputusan akan memaafkan atau tidak.
Setelah Revano dan Kalvin pergi, Ayu sekarang mengikuti Revano dari belakang. Ia sengaja memesan taksi online, supaya tidak ketahuan jika sedang mengikuti suaminya. Sesampai nya di kantor, Revano tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
Ayu melanjutkan perjalanan nya ke rumah orang tua angkat Revano. Ayu akan menanyakan perihal sepupu Revano, pada orang tua angkat nya. Sesampai nya di sana Ayu mengetuk pintu rumah orang tua angkat Revano.
Tok...
Tok...
Tok...
"Permisi, Asalamu'alaikum." Ucap Ayu sedikit berteriak.
Dari dalam rumah, terdengar langkah kaki yang mendekat. Ceklek... Ceklek...
Tidak lama, pintu terbuka sempurna.
__ADS_1
"Eh... Ayu apa kabar, Tumben main kemari. Tidak kasih kabar dulu, beruntung ibu belum pergi?" Tanya ibu angkat Revano sambil mengulurkan tangan pada Ayu.
"Alhamdulilah kabar Ayu baik, bagaimana kabar ibu?" Tanya Ayu sambil tersenyum ramah, ia juga menyambut uluran tangan dari ibu angkat Revano dan mencium nya dengan takzim.
"Ayo masuk, silahkan duduk. Sebentar, ibu ke dapur dulu yah." Ajak Ibu angkat Revano sambil tersenyum ramah.
Tidak usah repot-repot bu, Ayu cuma sebentar. Ujar Ayu tersenyum kikuk.
"Ah... Tidak repot ko, Yu." Ujar Ibu Revano tersenyum. Ayu hanya menganggukan kepala nya. Tidak lama kemudian ibu Revano ke luar dari dapur dengan asisten nya, ia membawa 2 cangir teh manis dan beberapa cemilan untuk di hidangkan di depan Ayu.
"Maf Bu boleh kan Ayu bertanya, Sedikit tentang keluarga Mas Revano." Tanya Ayu sedikit canggung.
Namun reaksi, ibu angkat Revano sedikit tidak nyaman. "Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Revano." Tanya ibu angkat Revano.
Tidak lama Ayu menyodorkan handpone, ia memperlihatkan sebuah foto seorang perempuan. Dengan pakaian, kurang pantas di pandang mata. "Saya ingin tau tentang wanita ini, bu. Apa memang ia masih ada hubungan darah dengan suami ku?" Tanya Ayu penasaran.
Ayu yang bingung, dengan reaksi ibu mertua nya menjawab. "Saya ambil foto ini, setelah melihat Revano berc*mb* dengan wanita tersebut. Memang siapa wanita itu, kenapa ibu terkejut begitu reaksi nya?" Tanya Ayu penasaran dengan jawaban ibu mertua nya.
Ibu angkat Revano, hanya menghela nafas berat. Kemudian, ia menjelaskan siapa wanita yang ada di dalam foto tersebut.
Wanita itu bernama Sila, ia sepupu angkat nya Revano. ia bertemu Sila, saat Revano menyelamat kan nya dari kejaran preman. Pada saat itu, Sila hampir di leceh kan oleh beberapa preman tepat nya 2 preman.
Dulu Sila, korban penculikan yang bisa lolos dari tempat ia di sekap. Saat revano baru berusia 18 tahun, Ia sedang main di tempat temennya. Saat perjalanan pulang, ia melewati gedung-gedung yang sudah tidak ditempati.
Dan secara tidak sengaja, Revano bertabrakan dengan Sila. Ia memberi kode minta tolong kepada revano, saat para penculik itu mengejarnya. Revano membawa Sila berlari sampai di tempat yang ramai, mereka berdua menuju Kantor Polisi dan melaporkan kejadiannya.
Namun saat penggerebekan ke tempat yang di tuju, para penculik itu sudah tidak ada di sana. Mereka telah berpindah tempat, dan sudah tidak bisa di cari jejak nya lagi. Padahal menurut penuturan Sila, masih banyak anak-anak yang belum di bebas kan.
__ADS_1
Sejak saat itu, Sila seperti terobsesi pada Revano. Ia menghalal kan, berbagai cara agar bisa dekat dengan nya. ia juga pernah hampir menyakiti, mendiang istri Revano. Dan Revano, tidak mengetahui nya. Dan terakhir saya mendengar kabar dari Revano, kalo Sila sedang berada di rumah sakit. Kurang lebih begitu lah cerita nya.
Ayu hanya menganggukan kepala nya tanda mengerti. Ibu angkat Revano kembali bertanya. "Kamu dapat foto itu dari mana, Yu?" Tanya ibu Angkat Revano.
"Aku memotret nya saat di kantor Revano, aku melihat mereka berc*mb* m*sr* di ruang kerja Mas Revano bu." Ujar Ayu sendu, ia masih sedih kalo masih harus mengingat kejadian itu.
Tidak berapa lama ayah angkat Revano datang menghampiri mereka berdua, ia langsung menyapa menantu nya. "Eh... Yu sudah lama di sini?" Tanya Ayah mertua Ayu.
Ayu yang di tanya, segera menghapus air mata nya dan tersenyum palsu. "Ah... Lumayan lama Yah, aku sedang kangen sama ibu. Maka nya aku kemari." Alibi Ayu.
Namun Ayah angkat Revano madih melihat jejak air mata di sudut mata Ayu, ia segera menanyakan nya. "Sayang, kamu habis menangis yah? Ayah lihat, ada jejak air mata yang ada di pipi kamu?" Tanya Ayah angkat Revano.
"Ah... Tidak, Yah. Aku tadi hanya menguap saja, aku dari tadi agak mengantuk." Alasan Ayu sambil tersenyum palsu.
"Kamu tidak sedang ada masalah kan, dengan Revano?" Tanya Ayah angkat Revano.
"Ah... Tidak, Yah. Cuma ada sedikit salah paham saja, antara aku dan Revano saja." Ujar Ayu.
"Oh ya sudah, kalo begitu nanti sepulang dari sini kalian selesaikan masalah kaluan yah. Jangan biarkan, masalah berlarut-larut." Ujar Ayah Revano menasehati.
Tidak lama kemudian, datang seorang maid dan memberitau kan kalo sarapan sudah siap. Ayah dan ibu angkat Revano mengajak Ayu untuk sarapan bersama. Namun Ayu menolak secara halus, karena memang sebelum kesini mereka makan terlebih dahulu.
Bersambung...
Terima kasih atas semua dukungannya, untuk karya receh ini. semoga pembaca semua suka dengan alur cerita novel ini.
Mohon dukungannya untuk karya receh ini dengan cara like, comment, share, saran, dan kritik juga gif berupa bunga bermekaran atau secangkir kopi manis untuk Autor biar menulisnya lebih rajin lagi.
__ADS_1