
Dari bangun tidur tadi, baby Elang mencari Rani. Pa.. Mama, kemana? Tanya baby Elang sambil tengak tengok kepala nya.
"Ada apa nich, nyariin Mama?" Tanya Rani tersenyum tulus. Sambil menyodorkan sebotol susu.
"Mam, mau peluk." Ujar baby Elang manja sambil menyodorkan tangan untuk memeluk Rani.
Rani hanya tersenyum dan memeluk baby Elang sayang, Gilang yang melihat tingkah anak nya menjadi terharu. Ternyata selama ini, baby Elang merindukan sosok seorang ibu.
"Maaf kan papa, nak. Gara-gara papa, kamu kehilangan kasih sayang. Gara-gara papa, tidak mau rujuk dengan mama, kamu di bully oleh teman mu." Ucap Gilang dalam hati.
Dalam hati Gilang bertekat akan segera mencari pendamping hidup lagi, ini demi Anak semata wayang nya. Secara tiba-tiba baby Elang memeluk Gilang, dan itu menarik kembali kesadaran nya.
"Sayang, kenapa tiba-tiba memeluk papa?" Tanya Gilang sendu. Sedang baby Elang hanya menjawab dengan gelengan kepala nya.
"Sudah, sekarang baby mandi yah. Sudah sore, dan lagi baby bau acem nih." Ujar Rani sambil menutup hidung nya.
Elang hanya menganggukan kepala nya, Rani memandikan dan memakaikan nya baju biar tidak kedinginan. Setelah itu, mereka makan malam bersama dengan di iringi canda dan tawa.
Gilang sangat bahagia, melihat anak nya tersenyum ceria lagi. Ia bertekat dalam hati, akan segera mencari pengganti Diva. Gilang juga akan lebih berhati-hati, dalam memilih calon ibu untuk anak nya.
Dia tidak mau salah memilih calon istri, Gilang memiliki kriteria tersendiri dalam mencari calon istri. Sekarang ia tidak boleh egois, ada baby Elang yang butuh kasih sayang lebih.
Sudah 1 bulan Gilang pindah ke kota B, ia belum sekali pun menjenguk ibu nya. Sekarang ibu Nur sudah sakit-sakitan, ia juga pikun. Kadang ia tidak mengenali orang sekitar, termasuk paman Marno. Yang selalu ia sebut, hanya nama Gilang dan Angga saja.
Paman Marno sudah menghubungi Angga untuk pulang, namun ia tidak di perbolehkan pulang oleh istri nya. Istri Angga selalu mengancam bunuh diri, kalau Angga nekat pulang. Demi keselamatan istri dan anak nya, Angga selalu menuruti kemauan sang istri.
Walau sebenar nya berat sekali di satu sisi ada ibu yang melahirkan ku, sedang di sisi yang lain ada anak dan istriku. Paman Marno mempasrahkan keputusan kepada Angga, mau pulang atau tidak yang terpenting amanat sudah tersampaikan.
Paman Marno juga mengabar kan pada Gilang, kalo ibu nya sedang sakit dan sudah mulai pikun. Namun Gilang beralasan, kalo dia belum bisa cuti lama, karena baru saja bekerja. Karena kasihan sama kakak nya, paman Marno sampai memohon pada Gilang dan Angga. Agar supaya menyempatkan waktu nya, untuk menjenguk ibu nya.
Karena merasa kasihan pada ibu nya, akhir nya Gilang memberanikan diri nya untuk meminta izin cuti pada atasan nya. Dan alhamdulilah Gilang di izinin pulang, untuk menjenguk ibu nya. Gilang hanya mendapat izin, beberapa hari saja.
__ADS_1
Gilang, baby Elang dan Rani bersama-sama pulang ke rumah yang dulu di tepati. Mereka berangkat dari hari jumat malam, mereka sampai hari sabtu pukul 1 pagi baru sampe dan istirahat.
Sedang baby Elang, dari sebelum berangkat sudah tertidur pulas. Dan sampai tempat tujuan juga begitu, ia hanya merengek sesekali minta susu.
Pagi hari nya Gilang segera mengunjungi kediaman pamam Marno, untuk menjenguk ibu nya. Sesampai nya di sana, Gilang mengetuk pintu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Asalamu'alaikum." Ucap Gilang lantang memberi salam.
Dari dalam rumah, Gilang mendengar orang menjawab salam. "Wa'alaikum salam." Ujar Karina(anak paman Marno).
"Eh.. Karina, bapak ada?" Tanya Gilang sambil tersenyum.
"Iya maaf, bagaimana kabar kamu dan suami mu." Tanya Gilang sambil tersenyum.
"Kabar aku dan mas Aji baik, Mas. Ayo masuk Sebentar aku panggilin bapak, kayak nya ia sedang membangun kan bude tadi." Ucap Karina tersenyum senang, setelah mendapat perhatian dari mas Gilang.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Karina mempersilahkan Gilang untuk duduk di ruang tamu. Tidak lama paman berteriak, "Mbayu... Bangun dong, Mba jangan bikin aku takut." Ujar paman Marno berteriak kencang, sampai kedengaran ke ruang tamu.
Gilang yang mendengar teriakan paman Marno segera menghampiri nya. "Paman ada apa? Kenapa?" Tanya Gilang panik. Paman Marno hanya menggelengkan kepala nya, ia bingung harus mengatakan apa.
"Gilang sekarang kamu tolong panggilin Dokter, agar memeriksa ibu kamu. Ibu kamu dari tadi di bangunin diam saja, aku takut ibu kamu kenapa-napa." Ujar Paman Marno panik campur khawatir.
Gilang segera pergi, mencari dokter terdekat dari rumah paman. Setelah sampai rumah Dokter praktek, ternyata Dokter nya tidak di tempat beliau sedang pulang kampung. Dari tempat itu Gilang memacu kendaraan nya kembali, untuk memanggil dokter di puskesmas.
Sedang di rumah paman Marno, beliau masih berusaha untuk membangun kan mbayu nya. Namun hasil nya sama saja, ibu Nur tidak juga bangun. "Apa jangan-jangan,.. Ah tidak mungkin." Ujar Paman Marno tidak percaya dengan pemikiran nya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Gilang datang bersama Dokter puskesmas. "Dokter bisa tolong lebih cepat sedikit, saya sangat khawatir dengan kondisi ibu saya." Ujar Gilang sedikit memohon.
"Iya pak, sabar yah saya periksa dulu keadaan ibu nya. Bapak berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa pada beliau." Ujar Dokter puskesmas berusaha menenangkan. Gilang menganggukan kepala nya.
Dokter memeriksa dengan teliti, namun hasil nya. Ibu sudah meninggal dari 2 jam yang lalu, "maf Pak, Bu. Ibu Nur sudah tidak ada, ia sudah meninggal." Ujar Sang Dokter. Gilang yang mendengar kalo ibu nya sudah tak bernyawa lagi, ia bagai di sambar petir di siang hari.
"Bu.. Ibu jangan bercanda dengan nyawa orang, aku tidak percaya kalo ibu aku sudah meninggal." Ujar Gilang sedih ia merosot samai ke lantai.
"Maf pak, tapi memang begitu kenyataan nya. Perkiraan meninggal nya sekitar 2 jam yang lalu karena sekarang badan nya sudah mulai dingin." Ujar Dokter menjelaskan.
Tidak lama paman Marno pergi kerumah pak RT, untuk memberitau kan kabar duka yang menimpa keluarga nya. Selang 30 menit pengumuman berita duka, sudah di kumandangkan di masjid sekitar rumah paman.
Tidak berapa lama banyak warga berduyun-duyun, untuk nyalawat ke rumah duka. Gilang menelpon sang adik agar cepat pulang, namun jawaban nya.
"Halo asalamu'alaikum, Ngga ini mas Gilang." Ucap Gilang sendu.
"Ya halo walaikum salam, iya mas ada apa telpon. Kalo cuma mau suruh aku pulang, maf aku tidak bisa pulang." Ujar Angga ketus.
"Tapi kamu harus pulang, Ngga. Ibu..ibu--" ujar Gilang tak sanggup bicara mengenai ibu nya.
"Kamu bicara apa sih, Mas. Yang jelas dong kalo bicara. Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja kan." Ujar Angga sedikit khawatir.
"Ngga ibu... Ibu sudah tidak ada." Ujar Gilang sedih.
Mas tolong, kalo bicara yang jelas. Apa yang terjadi pada ibu. Apa maksud nya ibu sudah tidak ada? Tanya Angga dengan perasaan khawatir dan cemas.
Bersambung...
Terima kasih atas semua dukungan nya untuk Karya receh ini. Semoga pembaca suka dengan alur cerita nya.
Mohon dukungan nya untuk karya ini.
__ADS_1