
Di kamar itu mereka saling bersenda gurau, tawa mereka Terdengar sampai luar kamar. Sampai-sampai orang tua Agesta, juga penasaran. "Apa yang sedang mereka bicarakan, sampai tertawa cekikikan begitu?" Tanya Ka Danis pada istri nya.
Karena rasa penasarannya Mas Danis dan istrinya masuk ke kamar Ayu, dia ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. "Lagi bicarain apa nih, rame amat sampai terdengar di luar kamar." ujar Mas Danis dengan mengembangkan senyumnya.
"Ini Kalvin dia tadi menceritakan hal-hal lucu kepada kita, makanya kita pada ketawa." ujar Ayu menjelaskan.
"Anak-anak bercandanya sudah ya, ini udah sore. Ayo kita keluar, di depan sudah di tungguin sama Eyang uti dan Eyang kung." ujar Kak Danis memberitahu.
Mereka keluar Kamar bergantian, dan berjalan bersama ke ruang keluarga. Sesampai nya di ruang keluarga, mereka kembali bercanda ria.
Tidak lama kemudian, Revano pulang dengan membawa makanan yang dipesan Ayu untuk makan malam. Sesampainya di rumah, Revano segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Setelah itu, mereka makan malam bersama. Selesai makan, mereka berbincang di ruang keluarga. Jam menunjukkan pukul 9 malam baby Agesta dan Kalvin, Sudah terlelap sedari tadi Papi menggendong Kelvin untuk di pindah kan ke kamarnya. Baby Agesta juga sama, ia dipindahkan oleh ayahnya ke kamar setelah itu mereka segera istirahat.
Tidak lama, Ayu pergi ke kamarnya dan disusul oleh revano. Di dalam kamar Ayu dan revano berbincang-bincang, tentang apa yang mereka lakukan seharian ini. Sekitar pukul 10 malam, mereka tidur dan bangun pas subuh. Pagi harinya Revano berangkat pagi-pagi sekali, dia tidak sempat sarapan.
Iya akan sarapan di kantin kantor, karena pagi ini ia ada pertemuan untuk penandatanganan kontrak kerjasama dengan PT Arga Mandiri.
Selesai sarapan Ayu ditelepon sama Gilang, dia mengabarkan bahwa orang tuanya sudah tiada atau sudah meninggal.
"Halo Yu, ini aku Gilang. Ujar Gilang sendu.
"Ya halo Mas, ada apa yah. Tumbenan telpon saya?" Ujar Ayu penasaran.
"Ini, Aku cuma mau mengabar kan, bahwa ibu aku sudah tiada. Aku mohon kamu dan orang tua kamu sudi memaaf kan ibu dari hati yang tardalam." Ujar Gilang sendu.
"Apah, ina lilahi wa ina ilaihi rojiun. Iya Mas, aku dan keluarga aku sudah maafin ibu mas." Ucap Ayu refleks karena terkejut.
__ADS_1
"Tapi maf Mas, aku tidak bisa bertakziah ke rumah mu, aku masih dalam masa pemulihan. Mungkin Ayah dan Ibu yang akan datang ke sana untuk bertakziah, Sekali lagi maaf." ujar Ayu dengan nada penyesalan.
"Oh tidak apa-apa Yu, aku juga mengerti dengan keadaanmu. Tapi paling tidak kamu sudah memaafkan ibu tulus dari hati yang paling dalam, itu yang kami butuhkan supaya arwah ibu di alam sana tenang." Ujar Gilang dengan bersedih.
"Sudah dulu ya Mas, aku ingin memberikan kabar ini kepada orang tuaku. biar bisa bertakziah kesana, Bagaimanapun juga kita pernah jadi keluarga." ucap Ayu dengan nada sendu.
"Ya sudah, Yu. Terima kasih telah Maafkan ibuku." ujar Gilang sendu.
Setelah menerima kabar dari Gilang, bahwa ibu Nur telah meninggal. Ayu segera memberitahu kepada ayah dan ibunya, bagaimanapun juga Ibu Nur pernah menjadi ibu mertua Ayu. Bagaimanapun juga, ibunya pernah jadi besan ayah dan ibu.
Ayah dan ibu yang diberitahu oleh Gilang merasa terkejut, Kenapa secepat ini beliau meninggalkan orang-orang yang disayang. Tulus dari hati yang paling dalam, ayah dan ibu juga sudah memaafkan Ibu Nur.
Sekitar pukul 09.00 pagi, ayah dan ibu pergi bertakziyah ke rumah paman Marno karena jenazah Ibu Nur berada di sana.
Sesampainya di rumah paman Marno, Ayah dan ibu segera menemui Gilang untuk memberi semangat kepadanya. Ayah yang tengok-tengok tidak melihat Angga, juga menanyakan kepada Gilang.
"Angga di mana, tidak terlihat dari tadi." ujar Ayah Ridwan penasaran.
"Oh ya sudah ini untuk pemandian jenazah, sama lubang kuburnya sudah disiapin apa belum?" tanya Pak Ridwan.
"Mungkin Sebentar lagi selesai, yah. Karena banyak tetangga, yang mau saling membantu untuk proses pemakaman ini." ujar Gilang tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian, Angga datang bersama anak dan istrinya. Gilang dapat melihat dengan jelas, raut kesedihan dan raut penyesalan dalam diri adik tercintanya.
Namun Gilang sepertinya tidak melihat raut kesedihan dari wajah istri Angga, dia lebih terlihat bahagia. setelah itu Angga ingin melihat wajah terakhir ibunya, pada saat itu jenazah Ibu baru saja dimandikan dan akan dikafani.
Di depan jenazah ibunya, Angga menangis senggukan dia minta maaf kepada ibunya. karena tidak bisa menemani Ibu, di saat-saat terakhirnya.
__ADS_1
''Mas.. Ibu..mas.. aku masih tidak percaya, sekarang ibu sudah tiada. Sekarang Ibu, sudah meninggalkan kita berdua. kita harus bagaimana sekarang Mas, aku bingung.'' ujar Angga dengan nada sendu dan berderai air mata.
Gilang hanya menggelengkan kepalanya, ia sendiri juga bingung. Apa yang harus dilakukannya sekarang, mereka sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Sekarang mereka, sudah yatim piatu.
Sekarang mereka, hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Sudah tidak ada tempat berkeluh kesah bermanja-manja seperti dulu, sewaktu masih ada ayah dan ibu.
''Sudah kalian, jangan bersedih terus kasihan almarhumah. Kalian kan masih ada Paman Marno, yang akan menjadi tempat berkeluh kesah selanjutnya.'' ujar Paman Marno menguatkan keponakannya.
"Iya Mas jangan sedih terus, Kalian kan masih ada kita. Ada Karina dan Aji kalian tidak sendiri." ujar Aji menguat kan Gilang dan Angga.
''Terima kasih ya Paman Marno, Karina dan Aji, kalian sudah sangat baik sama saya dan ibu.'' ujar Gilang sambil meneteskan air mata.
Ia begitu terharu dengan sikap Karina Yang Dulu dia sangat manja, tapi sekarang sangat dewasa. Tidak lama kemudian ada Seorang warga yang memberitahu kan, kalau lubang kubur telah siap.
Sedang saat ini, jenazah sedang disalatkan. Setelah disalatkan jenazah Ibu Nur, dibawa ke pemakaman. Gilang dan Angga berada di depan, untuk menggotong keranda ibunya.
Sesampainya di pemakaman ada beberapa warga yang sudah menunggu di sana, untuk mengambil alih keranda tersebut. Setelah jenazah Ibu Nur dikeluarkan, dan dimasukkan ke liang lahat.
Gilang turun untuk mengumandangkan Adzan dan iqomah untuk yang terakhir kalinya. Penutup kain kafan di wajah, dibuka agar anak, cucu, menantu dapat melihat wajah jenazah untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan ke tanah.
Gilang dan Angga saling berpelukan ia menangis sesenggukan, sampai tidak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri. Prosesi pemakaman selesai, semua warga sudah pulang ke rumah masing-masing.
Nanti malam akan diadakan tahlilan hari pertama, untuk mengirimkan doa untuk jenazah. Mungkin tahlilan, akan berlangsung selama 7 hari berturut-turut. Dengan terpaksa, Gilang meminta tambahan izin cuti kepada bosnya.
Ia mengabarkan kepada bosnya, kalau ibunya telah tiada dan ia harus mengurusi tahlilan selama 7 hari kedepan. Dan Bos Gilang menambah izin cuti kepada Gilang, sampai 7 hari selesai tahlilan.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya untuk karya receh ini. Semoga para pembaca suka dengan alur cerita novel ini.
Mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara like, comment, saran, kritik, dan hadiah berupa bunga bermekaran ataupun secangkir kopi manis untuk Autor biar semakin semangat nulisnya terima kasih.