
Berkas-berkas itu baru selesai, di kerjakan sampai pukul 11 malam. Setelah itu Revano pulang kerumah, dan dia tidak membuka handpon nya sama sekali. Sampai pagi juga sama Revano tidak membuka pesan dari Ayu, dan bahkan sekarang pesan dari Ayu sudah ketumpuk dengan pesan yang lain.
Pagi hari nya Revano, sarapan dengan di temani oleh Kalvin dan juga seorang perempuan yang cantik. Dia adalah seseorang perempuan yang dijodokan, oleh orang tua Revano. Dia bernama Dania, perempuan lajang yang tergila-gila dengan Revano sejak dia kecil.
Pagi hari Ayu masih mempersiap kan barang-barang nya, 2 hari lagi dia akan terbang ke singapur menyusul kaka nya. Ayu sudah menelpon kaka nya, yang bernama Danis.
"Ka Danis, bisa cariin apartemen tidak yang dekat dengan apartemen kaka?" tanya Ayu.
"Kenapa tumben mau cari rumah disini? Biasa nya kalo suruh kesini tidak mau." Ujar Danis sewot.
"Di sini aku dapat teror terus, ka. Ini sudah ke 2 kali nya, aku di teror. Teror ini juga membahayakan keluarga kita, maka nya kita mau pindah kesana semua." Ujar Ayu panjang lebar.
"Baik lah nanti aku tanya kan menejer apartemen ini, apa masih ada yang kosong atau tidak." Ujar Danis senang karena adik dan orang tua nya akan tinggal dekat nya.
Danis segera memberitaukan kepada istri nya, kalau adik dan orang tua nya akan datang dan menetap sementara di negara ini. Tapi sambutan sang istri, terlihat sangat tidak suka dengan kedatangan keluarga nya.
Danis sudah menikah 1 tahun yang lalu, istri nya bernama Arina. Mereka baru saja di karuniai seorang anak perempuan, bernama Agesta putri febrian di panggil baby Agesta. Baby Agesta baru berusia 2 bulan, dia sudah bisa memiringkan badan nya.
Danis segera mencari info tentang apartemen yang kosong di gedung, yang sedang di tempati oleh nya. Dan alhamdulilah masih ada 1 apartemen yang kosong, berada di lantai bawah apartemen nya.
Apartemen tersebut bisa di sewa atau pun di beli oleh Ayu. Untuk sementara Ayu akan menyewa selama 2 bulan, kalau misal kan cocok nanti akan di beli oleh Ayu secara cast.
Dua hari kemudian, tiba saat nya Ayu untuk pergi ke negara Singapur. Dia akan naik pesawat pada pukul 4 sore, Ayu juga sudah mengirim pesan pada Revano.
Berikut ini pesan yang di kirim Ayu untuk Revano: "Mas, aku pergi yah. Titip salam untuk Kalvin."
Pesan sudah terkirim, dari beberapa jam yang lalu. Tapi lagi dan lagi, dia tidak membaca pesan tersebut. Revano sedang Rapat kepala cabang, dari setiap anak perusahaan. Selesai rapat Revano, menyelesaikan berkas dan menandatangani nya.
Sekarang Ayu dan orang tua nya sudah menaiki pesawat, mereka akan sampai di bandara Changi sekitar pukul 5.30 sore. Sesampai nya di sana Ayu dan orang tua nya, di jemput oleh Danis sang kakak.
__ADS_1
"Gimana Ka, sudah kaka sewakan apartemen untuk kita?" Tanya Ayu penasaran.
Sudah tempat nya di lantai 5 kamar 205, di kamar itu terdapat 2 kamar tidur kamar mandi dalam, ruang tamu, dan dapur. Harga sewa per bulan nya, sekitar 1000 dolar Singapura (maaf kalo salah tolong koreksi).
Ayu mengganti nomer telfon nya, nomer telpon itu juga sering sekali masuk pesan-pesan yang berisi teror. Sesampai nya di Apartemen, Ayu dan orang tua nya langsung istirahat. Sedang kan Danis menemui istri nya, dan memberitau kan kalau adik dan orang tua nya sudah sampai di sini.
Setelah menyelesai kan semua berkas, Revano baru sempet membuka handpon nya. Pertama kali di tuju gambar gagang telpon berwarna hijau, Revano membuka semua pesan yang masuk. Ada sekitar 150 pesan baru di buka, hingga tiba pesan dari Ayu ia baca.
Revano mencoba menghubungi Ayu namun hasil nya nihil, panggilan tidak di angkat sama sekali. Bahkan nomer Ayu, sudah tidak bisa di hubungi lagi. "Pergi kemana Ayu dan orang tua nya? Siapa lagi yang meneror mereka, mungkin kah Dania?" Tanya Revano dalam hati.
Revano tidak mau pusing, dia bergegas pulang. Sesampai nya di rumah Revano mencari Kalvin, untuk bertanya pada nya mengenai Ayu.
"Bi, Tuan muda kemana? Tumben sepi sekali, biasa nya jam segini Kalvin sedang main." Tanya Revano.
"Anu Tuan... Anu Tuan..." Ucap Bibi tergagap. Bibi bingung mau jawab apa, kalo mengadu Tuan muda akan di siksa terus oleh Non Dania. Tapi kalo tidak mengadu, dia merasa kasian setiap hari Tuan muda nya tersiksa.
"Anu apa, bi? Bicara nya yang jelas lah, biar aku mengerti." Ujar Revano.
"Apaah dari kapan, bi? Kenapa tidak ada yang melaporkan pada ku." Bentak Revano, sambil berlari ke arah Gudang.
Sesampai nya di gudang, Revano mendapati Kalvin sudah pingsan di lantai. Dengan derai air mata, Revano menggendong sang anak ke kamar nya. Revano menyeka tubuh Kalvin, dan mengganti baju nya.
Tidak lama datang lah, seorang Dokter yang tadi di panggil oleh Bibi(kepala pelayan). Dokter segera memeriksa Kalvin, saat di periksa Kalvin mengigau. "Mom hiks... Tolong Kakvin hiks... Kalvin takut hiks.." Igau Kalvin.
"Tuan kalau bisa malam ini, Tuan muda harus ada yang jaga. Khawatir malam nanti, Tuan muda demam." Ujar sang Dokter.
"Baik Dok, terima kasih sudah datang." Ujar Revano tersenyum.
"Saya permisi Tuan, semoga Tuan muda lekas pulih." Ujar Dokter berdoa dengan tulus.
__ADS_1
"Terima kasih Dok, untuk doa anak saya." Ujar Revano tersenyum tulus.
Setelah kepergian Dokter, Revano memanggil Bibi kepala pelayan untuk di tanyai mengenai Kalvin.
"Bi... Bibi." teriak Revano memanggil kepala pelayan nya.
"Saya, Tuan." Ucap Bibi kepala pelayan sambil menunduk.
"Bibi kenapa tidak bilang, kalau Tuan muda di masukan kedalam gudang belakang? Sejak kapan itu terjadi, kenapa semua diam?" Tanya Revano.
"Maf kan saya, Tuan. Saya di ancam oleh Non Dania, kalau saya mengadu dia akan menyakiti anak saya. Tuan Muda di kurung sejak tadi siang, karena Tuan muda tidak sengaja menjatuh kan tas mahal Non Dania." Ucap Bibi sambil menunduk.
Revano menarik nafas dalam dan menghembus kan nya, untuk mengrangi emosi nya.
Dania yang datang ke rumah Revano, untuk mengecek Kalvin di gudang terkejut. Saat mendapati Revano, sedang duduk di ruang tamu. Raut wajah Revano, menampakan wajah datar dan dingin.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Dania kikuk, dia takut ketauan mengurung Kalvin di gudang.
"Plaak."(anggap suara tamp*ran)
"Lancang kamu, Dania. Berani-berani nya kamu, kurung anak saya di gudang." ujar Revano marah.
"Aku bissa jelasin, sayang. Inni -- Sudah tidak ada yang perlu di jelasin lagi, pergi kamu dari sini. Aku tidak mau, bertemu kamu lagi." Ucapan Dania terpotong ucapan Revano yang benar-benar emosi.
Dengan perasaan tidak terima, Dania pergi dari rumah Revano. "Sial... Sial... Sial, kenapa harus pulang cepat sih si Revano. Biasa nya saja pulang tengah malam." Gerutu Dania.
Sedang di Singapura sana, perasaan Ayu tidak enak. Dia terus kepikiran dengan Kalvin, akhir nya Ayu menelpon Revano.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan nya untuk karya ini.
Mohon tinggal kan jejak di karya ini.