Aku Selalu Salah

Aku Selalu Salah
Bab 89 Talak


__ADS_3

Semenjak toko roti di buka, banyak ibu-ibu yang tadi nya pengangguran jadi punya kesibukan dan pasti nya ada penghasilan.


1 minggu berlalu...


Hasil tes visum dari rumah sakit sudah keluar, Ayah sangat tidak terima anak kesayangan nya di aniaya walau sama suami nya. Ayah begitu emosi, ingin rasa nya memukuli orang tidak tau diri itu.


Di depan Ayu, Ayah mencoba meredam emosi nya. Beliau terlihat biasa saja, Ayah hanya menampakan muka datar dan dingin nya saja. "Yu, alamat kos-an Gilang di mana? Ayah mau menyampai kan sesuatu pada nya!" ujar tegas Ayah sambil tersenyum simpul..


"Alamat Gilang ada Ayah, tumben nanya alamat Gilang, ada urusan apa?" tanya Ayu hati-hati. Sambil tersenyum lembut.


"Ada urusan pokok nya, ini antar laki-laki." ucap Ayah. Sambil tersenyum.


"Ini alamat nya, tapi Ayu ikut yah kesana." mohon Ayu pada Ayah nya. Ayah hanya menganggukan kepala nya. Ayu memberikan, alamat rumah Gilang dan istri muda nya.


Setelah di bujuk oleh Paman Marno, akhir nya ibu mertua mau pulang juga. Dengan alasan warung dan rumah tidak ada yang jaga, dan sekarang Angga juga sudah di rumah. Angga tidak bisa ikut jemput Ibu, karena dia baru sampai rumah dan ingin istirahat.


Sebenar nya Paman Marno pernah lihat ibu, di perlakukan tidak baik oleh istri muda Gilang. Paman Marno juga sudah bilang ke Gilang kalau Istri muda nya berlaku tidak baik, tapi tidak percaya dan menuduh paman Marno yang berlaku kasar pada Diva istri muda nya.


Dan entah mengapa, Ibu juga hanya diam saja di perlakukan tidak manusiawi oleh Diva. Ibu yang biasa nya galak dan judes pada Ayu, tapi selalu diam saat di perlakukan buruk oleh Diva.


Ayah dan Ayu, telah sampai di rumah Gilang dan istri muda nya. Dan secara kebetulan ada Gilang di rumah, dia berusaha ramah dan santun pada Ayah Ayu. Namun beliau yang sudah geram dan Emosi, hanya diam dengan raut muka datar mengintimidasi.

__ADS_1


"Sudah cukup berbasa-basi nya Gilang! terus terang saya tidak ikhlas, kamu men*mp*r anak saya. Saya saja sebagai Ayah nya tidak pernah main tangan, kamu yang baru 3 tahun menikahinya sudah berani main tangan." ucap lantang Ayah, sambil menahan amarah yang memuncak.


"Sedang Gilang, diam tidak bereaksi apa-apa. Sekarang coba kamu, beri Saya alasan. Kenapa kamu melakukan kekerasan pada Ayu?" tanya Ayah kembali dan sedang menunggu jawaban dari Gilang.


"Saya..saya bisa jelasin Yah, wak-tu itu sa-ya melihat A-yu hen-dak mem*k*l Diva. Diva bilang kalau Ayu me-ngamuk dan menyuruh Diva ting-galin saya. Dan saya reflek memukul Ayu Karna saya takut terjadi apa-apa dengan kandungan Diva." ujar Gilang beralasan.


"Benar begitu yang di kata kan Gilang, Yu? dan kamu juga tidak meminta penjelasan dari Ayu, kenapa dia sampai hampir mem*k*l istri muda mu?" tanya Ayah dengan suara dingin mengintimidasi.


"Itu sa-lah sa-ya, tidak min-ta penje-lasan terlebih dahulu pada Ayu tentang kejadian sebenar nya. Aku terlalu khawatir, dengan Anak yang di kandung istri ku." ucap Gilang menjelaskan.


"Sekarang Saya minta kamu talak Ayu! Saya tidak terima kalau sampai terulang lagi. kalau itu sudah watak tidak bisa di ubah lagi." ucap Ayah ketus.


"Maf Yah sampai kapan pun, saya tidak akan menalak Ayu!" tegas Gilang sambil memandang sendu Ayu. Sedang yang di pandang, hanya buang muka.


Gilang menarik tangan Ayu, hingga terlepas dari tangan Ayah nya.


"Maf ini urusan saya dan Ayu, Ayah tidak berhak ikut campur." ucap Gilang menantang Ayah Ayu. Sedang Ayah hanya menggeleng kan kepala nya, tidak habis pikir dengan pikiran Gilang. 'Bisa-bisa nya dulu aku setuju menikah kan anaku dengan orang egois seperti ini.' monolog Ayah.


Ayu yang sedari tadi diam, mendengarkan perdebatan antara Gilang dan Ayah nya pun angkat bicara. "Sudah lah Mas, kamu tidak cape bersandiwara di depan Ayah? kamu yang seolah-olah sayang pada ku di depan Ayah ku, sedang di belakang Ayah ku kamu seperti harimau yang siap menerkam korban nya." ucap Ayu sarkas.


Gilang menggeleng kan kepala nya. "itu tidak benar Yu, aku sayang sama kamu tulus dari hati." ujar Gilang sendu.

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha..." Ayu tertawa miris mendengar penuturan Gilang. "Kalo kamu tulus, kamu akan membela ku saat ibu kamu menindas ku. bukan malah ikut-ikutan menyiksa batin ku. Apa kamu bilang sayang? kalo kamu sayang sama aku, kamu tidak mungkin menikah tanpa izin dari ku dan orang tua mu. Jadi di bagian mana nya, yang tulus sama aku?" tanya Ayu. Sekarang Ayu merasa lega di dada nya, karena telah mengeluar kan semua unek-unek yang selama ini di tahan sendiri.


Sedang Gilang hanya diam membisu, karena memang begitu ada nya. Ayah dan Diva, hanya diam menyimak apa yang di ucap kan Ayu.


Tapi setelah itu Diva sedikit menyungging kan senyum nya, dan itu tidak di sadari oleh orang sekitar. "Sudah lah Mas, kalo memang dia(menunjuk Ayu) ingin bercerai. Cerai kan saja toh masih ada aku yang akan berada di disisi mu sampai kapan pun." ujar Diva merayu Gilang. Sedang Gilang hanya melirik tajam, pada Diva.


Benar yang di bilang oleh istri muda mu, lebih baik kau cerai kan Anak ku. istri muda mu akan tenang dalam proses kehamilan nya, karena dia tidak akan stres atau was-was suami nya di ambil orang. ujar Ayah memberi nasihat.


Gilang masih kekeh, tidak mau menalak Ayu. Ayah dan Ayu pergi dari rumah Gilang, dengan kekesalan yang mendalam. "Sudah lebih baik kita pulang, untuk menenang kan pikiran kita. Kita harus memikir kan langkah selanjut nya." ujar Ayah menenangkan.


Sedang Ayu hanya menghela nafas dalam, dan menganggukan kepala nya. Sesampai nya di rumah, Ayu mengistirahat kan badan dan pikiran nya. Ibu yang khawatir menyusul Ayu, ke kamar nya untuk menemani nya.


"Yang sabar sayang, semua akan indah pada waktu nya. Pasti akan ada pelangi setelah hujan, itu yang sering ibu dengar dari orang-orang. ujar Ibu tersenyum dengan kata-kata nya sendiri." Ayu pun sama, dia mengulum senyum dengan kata-kata ibu nya. Dan Ayu percaya semua itu, bahwa akan ada kebahagian setelah banyak nya ujian hidup.


"Ibu selalu saja, bisa bikin aku tersenyum dengan kata-kata yang sedikit absurt." ucap Ayu dalam hati. Tidak lama Ayah menyusul ibu, ke kamar Ayu.


"Yu, kamu baik-baik saja. Jangan sedih masih ada Ayah dan Ibu, yang akan selalu mendukung kamu dari belakang." ujar Ayah sendu. Ayu tersenyum dan memeluk Ayah dan ibu nya, seraya berucap "terima kasih Yah, untuk semua suport dan dukungan mu pada ku." ujar Ayu sambil menitik kan air mata nya.


Bersambung...


Terima kasih atas semua dukungan nya untuk karya ini.

__ADS_1


Mampir juga di karya chat story ku.


Mohon untuk tinggal kan jejak berupa like, vote, gifh, saran, kritik dan komentar.


__ADS_2