
"Mas bangun hiks... bangun Mas hiks...bilang pada semua orang kamu masih disini bersama ku" ujar ku pilu.
"Bu sudah bu jangan begini" ujar Gilang dengan berurai air mata yang tak kunjung berhenti.
"Iya Mba sudah Mba, ikhlaskan mas ginanjar pergi biar dia tenang di alam sana" ucap marno dengan sedih.
Warga yang mendengar kata-kata itu pun ikut sesak menahan tangis, merasa iba tapi itu lah jalan takdir ada pertemuan ada perpisahan.
Dari mendapat kabar sampai ke bandara, Angga masih tidak percaya kalo bapak sudah tidak ada, dia berusaha menenangkan hati dalam kegundahan dan berusaha menenangkan diri.
Angga baru sampai bandara dan pesawat lepas landas jam1.30 dini hari dan akan sampai di bandara tempat tujuan jam 2.30 dini hari.
Dan baru keluar bandara sudah jam 3.30 pagi. perjalanan dari bandara ke rumah memakan waktu 1 jam, Angga sampai di rumah sudah menjelang subuh.
Angga keluar dari mobil langsung lari menuju rumah nya tanpa memerdulikan koper nya, beruntung yang menjemput masih saudara jadi barang aman.
"Ibu... hiks... hiks bagai mana bisa terjadi seperi ini hiks..." ujar Angga dengan air mata yang menggenang tak dapat di bendung.
Jenazah sudah di mandi kan dan di kafani dari semalam, besok pagi tinggal di sholat kan dan di kubur
Sekitar jam 9 pagi jenazah di bawa ke masjid untuk di sholat kan dan pak ustad setempat yang mengimami nya.
Setelah selesai sholat jenazah para warga mengiringi jenazah sampai liang kubur, ibu pun ikut dengan berjalan di papah oleh Ayu dan bu Siti sampai di pemakaman.
Beruntung tempat pemakaman dekat hanya berjarak 500 meter dari rumah.
__ADS_1
Gilang dan Angga ikut menggotong keranda sampai di tempat pemakaman, Gilang juga yang mengazan kan jenazah di liang lahat.
Sebelum tanah di masukan ke lubang kubur semua keluarga melihat wajah Bapak untuk ter akhir kali. ibu menangis histeris dan jatuh pingsan di atas pemakaman bapak.
Gilang dengan sigap menggendong Ibu sampai rumah.
Angga dan Ayu masih di pemakaman untuk mendoa kan bapak, para pelayat dan pak ustad sudah pulang namun mereka masih di situ. setelah 30 menit baru mereka pulang.
Di rumah, Ibu sudah siuman dan beliau memanggil bapak terus menerus.
Gilang memeluk ibu nya supaya lebih tenang.
"Bu sudah hiks... hiks... ikhlas kan bapak biar bisa tenang di alam sana" ucap Gilang.
Malam nya keluarga mengadakan yasinan untuk mendoa kan almarhum pak Ginanjar, dan di hadiri banyak warga kampung.
Bagaimana pun masa lalu mereka biar kan lah menjadi masa lalu, untuk sekarang kita berusaha berdamai dan melupakan yang telah berlalu.
Tahlilan akan di ada kan selama seminggu berturut-turut.
Angga tidak bisa berlama-lama di rumah karna tuntutan pekerjaan. Bos Angga hanya memberi izin selama 3 hari.
Kehilangan bapak adalah pukulan terbesar untuk ibu.
Seharian beliau hanya melamun saja.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, Ibu masih saja menangis kalo teringat suami nya.
Beliau tidak mau makan dan minum pun cuma sedikit.
Ayu dan Gilang bergantian merayu ibu untuk makan tapi nihil ibu sama sekali tidak menyentuh makanan nya.
"Ayo lah bu makan, kasihani lah kami." ucap Ayu dengan sendu.
"Ibu mau makan apa biar Gilang yang beliin di luar?" ujar Gilang dengan senyum di paksakan.
"Baik lah demi kalian ibu makan, tolong belikan ibu pecel ayam di ujung gang sana."
ujar ibu dengan tersenyum paksa.
"Baik Bu, Gilang pergi beli dulu yah Bu" ujar Gilang dengan senyum gembira.
"Ayu tolong kamu jaga in Ibu, takut Ibu nekat" bisik Gilang.
"Iyya Mas, Ayu jagain" ujar Ayu.
Bersambung...
Mohon dukungan nya ya gaes untuk karya ini.
dengan like, komen, saran, kritik, vote dan favorit kan cerita ini...
__ADS_1
terima kasih...