
Setelah berpamitan pada Jaka, Ayu dan Revano segera pulang. Kalvin sudah tidur di mobil dari tadi, Revano menggendong Kalvin sampai kamar nya. Sesampai nya di kamar, Revano meletakan Kalvin di ranjang nya. Setelah itu Revano meminta izin, untuk memeluk Ayu dan mengucap kan kata cinta.
Setelah lamaran di terima, kalo sedang berdua Revano memanggil Ayu dengan sebutan Sayang. "Sayang orang tadi beneran kakak tingkat kamu, aku melihat dia menatap mu seakan memuja mu tau." ujar Revano cemberut.
"Bener, dia kakak tingkat Aku. Mungkin perasaan mu saja kali, Mas. Kami tidak ada hubungan apa-apa ko, pure sahabat." ujar Ayu menjelaskan takut Revano salah paham.
"Coba buktikan, kalo kamu tidak ada apa-apa sama dia. Malam ini kamu harus tidur dengan ku, ini murni tidur tidak lebih." Ucap Revano sambil menindih badan Ayu di sebelah Kalvin.
"Ih bangun ngga Mas, kita kan belum muhrim main tindih saja." sewot Ayu.
"Uh gemesin nya, calon istri aku." Ujar Revano sambil mencubis pipi Ayu gemas. Dan Revano juga sudah bangun dari tempat tidur.
Setelah Revano bangun dari tempat tidur, Ayu pun segera bangun dan berlari ke kamar nya sendiri. Revano hanya terkikik geli, melihat tingkah calon istri nya. Ayah yang melihat sang putri berlari, sontak menghentikan nya. "Ada apa kamu lari-lari, Yu?" tanya Ayah Ayu menghentikan anak nya.
"Ah tidak Yah, Ayu cuma lagi kebelet mau ke kamar mandi sudah tidak tahan." Ucap Ayu beralasan.
"Ayah, kira ada apa Yu. Kamu, lari-lari gitu." Ujar Ayah Ridwan.
"Yah, aku duluan ya. Sudah tidak tahan beneran deh." Ujar Ayu sambil berlari ke kamar.
Tidak berapa lama, Revano keluar dari kamar Kalvin. Dia ingin pamit pulang ke hotel, untuk istirahat. Karena besok pagi-pagi sekali, Revano harus terbang pulang ke negara Indonesia.
"Yah, aku pamit ya. Aku mau pulang ke hotel, nanti malam aku kesini lagi. Besok aku harus terbang pulang ke indonesia, nanti malam untuk pamit sama Kalvin dan yang lain nya." Ujar Revano panjang lebar.
"Ya sudah, kamu hati-hati yah di jalan." Ujar Ayah memperingatkan.
"Baik Yah. Terima kasih untuk perhatian nya." Ucap Revano tersenyum.
Setelah kepergian Revano, Ayu baru keluar kamar. Jantung Ayu masih berdebar kencang, sudah mau 4 tahun Ayu menjadi janda. Sebenar nya Revano bukan baru pertama kali menyatakan perasaan nya, sudah beberapa kali. Namun selalu di tolak dengan alasan, belum siap menjalani hubungan yang lebih serius.
Ayu melihat kesungguhan hati Revano, selama beberapa tahun terakhir. Dia tidak kenal lelah memberi perhatian nya, kepada keluarga kami. Dia tidak segan-segan memberi bantuan keuangan, dengan meminjam kan modal ke pada Ka Danis.
Dan sekarang Ayu sudah mantap dengan hati nya, untuk segera membina rumah tangga kembali. Semoga kali ini menjadi yang terakhir, dalam menjalani biduk rumah tangga.
__ADS_1
Sekarang tinggal menunggu reaksi keluarga nya, apa akan setuju dengan hubungan ini atau tidak. Malam hari nya Revano sudah sampai di Apartemen kembali, beliau ingin berpamitan sama Kalvin dan Ayu sekeluarga.
"Sayang Kalvin, papih besok pagi sekali berangkat yah pulang ke indonesia." Ujar Revano tersenyum.
"Papi bisa tidak malam ini tidur dengan Kalvin di sini, Kalvin masih kangen sama papih." Ujar Kalvin sendu.
"Boleh dong, kenapa tidak. Tapi besok papih pergi pagi sekali yah, nanti kalo kamu bangun papih tidak ada berarti papih sudah berangkat yah." Ujar Revano menjelas kan.
"Baik pih, Kalvin ngerti ko." Ujar Kalvin tersenyum.
"Nak, Memang besok berangkat jan berapa dari sini?" Tanya Ayah Ridwan.
"Berangkat dari sini pukul 4 pagi dan terbang pukul 5.30 pagi." Ujar Revano tersenyum.
Malam semakin larut, semua penghuni Apartemen sudah tertidur. Termasuk Revano dan Ayu, setelah 1 jam mereka berpelukan di kamar Kalvin. Sedang sang punya kamar, sudah sedari tadi berada di alam mimpi.
Pagi sekali setelah melaksanakan Sholat subuh, Revano pergi ke bandara dengan di temani sang pengawal kepercayaan nya.
Sementara toko roti yang di kelola oleh Andre, semakin bertambah rame pembeli. Setiap bulan, tidak kurang 60 juta perbulan masuk ke rekening Ayu. Itu baru dari 1 cabang, sedang Ayu memiliki beberapa anak cabang toko roti.
Ayu bersukur semua yang orang yang di tunjuk oleh nya, orang-orang yang jujur. Sedang penghasilan dari Restoran, kurang lebih 35 juta perbulan.
Sementara Gilang kembali memantap kan hati, untuk membuka amplop bertuliskan nama rumah sakit. Dengan hati berdebar, Gilang mengeluarkan selembar kertas dari dalam Amplop tersebut. Dan gangguan datang lagi, "Mas... Mas." panggil Diva lantang.
Gilang menghela nafas lelah, akhir nya pulang juga dia. Gilang menghampiri sumber suara nya, Gilang melihat istri nya sedang bermesraan dengan pria lain. "Diva apa yang kamu lakukan, siapa Pria itu?" ujar Gilang menatap Diva dengan tajam.
"Dia calon suami ku, sekarang aku minta kamu cerai kan aku. Supaya aku, bisa cepat menikah dengan nya." Ujar Diva lantang.
"Kamu pulang bukan nya tanya anak kamu, malah kamu minta cerai. Kamu, punya ot*k tidak sih?" Ketus Gilang.
"Sudah tidak usah banyak omong sekarang talak saya." Ujar Diva sewot.
Karena terlalu berisik akhir nya, baby Elang bangun dari tidur nya dan menangis kencang. "Papa... Hiks.... Papa... Hiks, aku takut." ujar Elang beringsut di pelukan Gilang.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri Anak kandung kamu saja takut pada mu, ibu macam apa yang begitu?" Ujar Gilang marah.
"Aku tidak perduli, yang aku mau kamu talak aku sekarang juga." teriak Diva kesal.
"Kalau kesini cuma buat keributan, lebih baik kamu pergi dari sini. Malu sama tetangga, setiap kesini cuma bikin ribut saja." Usir Gilang pada Diva dan teman pria nya.
Karena sudah diusir, maka nya Diva pergi dengan teman pria nya. Dia malu semua tetangga, sudah berduyun-duyun mendatangi rumah mereka untuk mengetahui apa yang terjadi di sini.
Setelah kepergian mereka Gilang keluar rumah, untuk membubar kan tetangga yang kepo. "Maf bapak-bapak, ibu-ibu bisa tolong tinggal kan rumah saya." Ujar Gilang sopan.
"Uh ngapain sih, istri kaya begitu masih di pertahanin. Kalo istri saya kaya gitu udah saya tinggal, nyari yang lebih baik lagi." Nyinyir para Bapak-bapak.
Gilang menghela nafas, dia cape kerja, pulang harus mengurus si kecil. "Papa, Elang lapar mau mam." Ujar Elang lapar.
Gilang yang masih mode melamun, tidak mendengar Sang anak merengek minta makan. Gilang tersadar, saat Baby Elang menarik-narik baju Gilang.
"Iya baby, minta apa?" Tanya Gilang tersenyum tipis.
"Aku lapar, mau mam pah." Ujar Baby Elang tersenyum manis.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan nya untuk karya ini...
Mohon tinggal kan jejak untuk karya ini...
Semoga suka dengan karya Autor...
Mampir juga di karya yang lain nya...
Terima kasih
__ADS_1